BLITAR - Penjualan daging sapi di Blitar menjadi perhatian setelah pedagang di Pasar Wlingi mengeluhkan sepinya pembeli akibat harga yang masih tinggi setelah Lebaran. Di tengah harga daging sapi pasar yang mencapai Rp140.000 per kilogram, sejumlah penjual online disebut menawarkan daging dengan harga sekitar Rp100.000 per kilogram. Kondisi ini memicu kekhawatiran pedagang mengenai dugaan peredaran daging dari sapi sakit yang dipotong di luar rumah potong hewan. Mereka mendesak dinas terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memeriksa kelayakan daging sekaligus mengawasi perdagangan di wilayah Kabupaten Blitar.
Harga Daging Sapi di Blitar Bikin Pasar Lesu
Suasana kios daging sapi di Pasar Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, terlihat sepi. Para pedagang mengaku kesulitan menjual dagangan mereka karena harga daging masih relatif tinggi setelah Lebaran.
Baca Juga: 15 Wisata Blitar yang Wajib Masuk Daftar Liburan, Pantainya Mirip Raja Ampat!
Situasi tersebut semakin menantang ketika mereka harus bersaing dengan penjual dari luar pasar yang menawarkan daging dengan harga lebih rendah. Penjualan melalui media sosial juga menjadi perhatian karena konsumen dapat menemukan penawaran tanpa perlu datang langsung ke pasar tradisional.
Dalam laporan tersebut, harga daging sapi di Pasar Wlingi disebut mencapai Rp140.000 per kilogram. Sementara itu, daging yang dipasarkan secara online ditawarkan dengan harga sekitar Rp100.000 per kilogram, bahkan disebut kurang dari angka tersebut.
Selisih harga yang mencapai sekitar Rp40.000 per kilogram membuat pedagang pasar merasa semakin tertekan. Mereka khawatir kondisi tersebut memengaruhi pilihan konsumen dan memperburuk penurunan penjualan yang sudah terjadi setelah Lebaran.
Pedagang juga mempertanyakan bagaimana daging dengan harga jauh lebih murah itu diperoleh. Mereka meminta pemerintah memastikan asal-usul produk serta mengawasi proses penyembelihan dan distribusinya.
Pedagang Mengaku Penjualan Tak Sampai Lima Kilogram
Dinang, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Wlingi, mengungkapkan bahwa omzet penjualannya turun drastis. Jika sebelumnya mampu menjual daging dalam jumlah cukup banyak, kini dirinya belum tentu bisa menghabiskan lima kilogram dalam satu hari.
Menurutnya, sepinya pembeli tidak terlepas dari persaingan dengan penjual daging di luar pasar yang menawarkan harga lebih murah. Ia juga menyampaikan kekhawatiran mengenai dugaan penjualan daging dari sapi yang sakit atau tidak sehat.
Dinang menyebut ada sapi yang diduga disembelih secara mandiri di rumah, kemudian dagingnya dijual kepada masyarakat. Praktik tersebut menjadi perhatian karena pedagang menginginkan proses pemotongan hewan dan peredaran daging mendapat pengawasan yang memadai.
Daging yang ditawarkan melalui media sosial dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang di pasar. Selain perbedaan harga, ketidakjelasan informasi mengenai asal-usul dan kondisi produk juga menjadi alasan mereka meminta pemeriksaan dari pihak berwenang.
Meski demikian, dugaan bahwa daging murah tersebut berasal dari sapi sakit belum dapat dipastikan hanya berdasarkan keterangan pedagang. Pemeriksaan petugas diperlukan untuk menentukan kondisi kesehatan hewan, kelayakan daging, dan ada tidaknya pelanggaran dalam proses pemotongan maupun penjualan.
Pedagang Minta Pemerintah Segera Lakukan Sidak
Para pedagang berharap dinas terkait segera turun langsung ke lapangan untuk memeriksa penjualan daging sapi di Kabupaten Blitar. Mereka meminta sidak dilakukan terhadap praktik pemotongan dan peredaran daging yang diduga tidak memenuhi ketentuan.
Pemeriksaan tersebut diharapkan mencakup penelusuran sumber hewan, proses penyembelihan, serta distribusi daging sampai kepada konsumen. Pengawasan juga diperlukan untuk memastikan produk yang dipasarkan memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan pangan.
Apabila ditemukan pelanggaran, pedagang berharap pemerintah mengambil tindakan sesuai aturan. Dengan begitu, konsumen mendapatkan perlindungan, sedangkan pedagang yang menjalankan usaha sesuai ketentuan tidak terus menghadapi persaingan yang dinilai merugikan.
Penanganan laporan secara langsung juga dapat memberikan kepastian terhadap dugaan yang beredar. Harga murah tidak otomatis membuktikan daging berasal dari hewan sakit, sehingga hasil pemeriksaan menjadi dasar penting untuk menentukan langkah selanjutnya.
Stabilitas Harga Diharapkan Pulihkan Omzet
Selain meminta pengawasan, pedagang Pasar Wlingi berharap harga daging sapi segera stabil dan daya beli masyarakat kembali meningkat. Mereka menilai kondisi tersebut penting agar penjualan harian bisa pulih setelah mengalami penurunan.
Di sisi lain, pengawasan terhadap daging yang dijual secara daring diharapkan meningkatkan kepercayaan konsumen. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai keamanan dan kelayakan daging sebelum membelinya.
Bagi para pedagang, persoalan ini bukan sekadar persaingan harga, melainkan juga menyangkut kepastian keamanan pangan dan ketertiban perdagangan. Mereka berharap pemerintah segera menindaklanjuti keluhan tersebut melalui pemeriksaan yang objektif.
Dengan pengawasan yang tepat, peredaran daging sapi di Blitar diharapkan lebih terkontrol, konsumen terlindungi, dan pedagang di Pasar Wlingi memiliki kesempatan bersaing secara sehat.
Editor : Maylanni Diana Fitri