BOYOLALI - Harga cabai rawit di Boyolali melonjak hingga Rp60.000 per kilogram setelah mengalami kenaikan bertahap selama lebih dari dua pekan terakhir. Kenaikan harga cabai rawit ini dipicu menurunnya volume panen akibat anomali cuaca. Tak hanya cabai, harga daging ayam potong juga naik menjadi Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram. Di tengah lonjakan harga pangan tersebut, operasi pasar murah di Kabupaten Blitar digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Harga Cabai Rawit di Boyolali Terus Naik
Kenaikan harga cabai rawit menjadi perhatian pedagang di pasar tradisional Kota Boyolali. Berdasarkan pantauan pada Rabu pagi, harga komoditas tersebut kini berada di kisaran Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
Baca Juga: 15 Wisata Blitar Paling Menarik, Ada Pantai Peh Pulo hingga Rumah Masa Kecil Bung Karno
Harga itu meningkat dibandingkan sebelumnya yang masih berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Kenaikan berlangsung secara bertahap selama lebih dari dua pekan terakhir.
Pedagang menilai kondisi cuaca yang tidak menentu berpengaruh terhadap hasil panen petani lokal. Berkurangnya pasokan membuat ketersediaan cabai rawit di pasar menjadi tidak stabil.
Salah seorang pedagang menyebut jumlah barang yang masuk ke pasar cenderung menurun. Ketika pasokan berkurang, harga pun mengalami kenaikan karena permintaan pembeli tetap ada.
Situasi tersebut membuat pedagang harus menghadapi perubahan harga dalam waktu relatif singkat. Sementara itu, masyarakat perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli cabai sebagai salah satu kebutuhan dapur sehari-hari.
Harga Daging Ayam Potong Tembus Rp43 Ribu
Tekanan harga pangan di Boyolali tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Daging ayam potong juga mengalami kenaikan dalam hampir tiga pekan terakhir.
Harga daging ayam kini berkisar Rp40.000 hingga Rp43.000 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga normal yang sebelumnya berada di sekitar Rp35.000 per kilogram.
Menurut keterangan pedagang dalam laporan tersebut, kenaikan harga ayam berkaitan dengan menipisnya persediaan barang. Salah satu persoalan yang disorot adalah tingginya harga pakan ternak yang membebani peternak.
Biaya operasional yang semakin besar membuat sebagian peternak memilih tidak memasukkan bibit ayam baru. Akibatnya, sejumlah kandang dibiarkan kosong karena usaha dinilai berisiko merugi.
Berkurangnya produksi kemudian berdampak pada ketersediaan ayam di pasar. Ketika permintaan masih tinggi, sementara pasokan tidak mencukupi, harga jual ikut terdorong naik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan tidak hanya berkaitan dengan permintaan konsumen, tetapi juga dipengaruhi persoalan produksi dan distribusi di tingkat hulu.
Operasi Pasar Murah Digelar di Blitar
Di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, pemerintah daerah menggelar operasi pasar murah di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada Rabu pagi.
Kegiatan tersebut disambut antusias masyarakat. Warga terlihat mengantre untuk membeli beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), minyak goreng merek Minyakita, serta gula pasir.
Produk-produk tersebut dijual dengan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Selisih harga dengan sejumlah barang di pasar menjadi salah satu alasan warga memanfaatkan kegiatan tersebut.
Yuliasi, salah seorang warga Blitar, mengaku membeli beras, minyak goreng, dan gula pasir karena harganya dinilai lebih murah dibandingkan harga di pasar.
Dalam keterangannya, ia mencontohkan perbedaan harga beras yang cukup terasa, terutama untuk kemasan lima kilogram. Warga berharap kegiatan serupa dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga ketika harga kebutuhan pokok mengalami tekanan.
Dua Ton Beras SPHP Disalurkan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat menyampaikan bahwa pihaknya menggelontorkan dua ton beras SPHP dan 20 karton Minyakita dalam operasi pasar murah tersebut.
Kegiatan itu berlangsung selama dua hari dengan tujuan membantu menekan inflasi sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat.
Penyaluran beras, minyak goreng, dan gula dengan harga terjangkau diharapkan dapat memberikan alternatif bagi warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan harga cabai rawit dan daging ayam di Boyolali serta pelaksanaan operasi pasar murah di Blitar memperlihatkan tantangan berbeda dalam menjaga keterjangkauan pangan. Di satu sisi, pasokan komoditas tertentu mengalami tekanan akibat cuaca dan biaya produksi. Di sisi lain, intervensi melalui operasi pasar menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Editor : Maylanni Diana Fitri