BLITAR - Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) digadang sebagai organisasi perguruan silat (beladiri) tertua di Indonesia.
Berdiri sejak tahun 1922, organisasi ini memiliki sejarah panjang yang tak lepas dari perjuangan melawan penjajahan dan bentuk upaya melestarikan budaya pencak silat Nusantara.
Dikutip dari Youtube Media PSHT Indonesia, pada awalnya organisasi ini bernama Setia Hati Pencak Sport Club (SHPSC), didirikan oleh Ki Hajar Harjo Utomo, seorang murid dari Ki Ngabehi Surodiwiryo (Eyang Suro).
Pada masa itu, kelompok ini dicurigai pemerintah kolonial Belanda sebagai gerakan perlawanan, sehingga sempat dibubarkan.
Baca Juga: Hari Pertama Sekolah, Bus Pelajar Kabupaten Blitar Akhirnya Kembali Beroperasi
Ki Hajar Harjo Utomo sendiri sempat mengalami pengasingan di Jember, Cipinang, dan Padang Panjang, Sumatra Barat karena dianggap membahayakan kekuasaan Belanda.
Namun, sepulang dari pengasingan, ia kembali menghidupkan SHPSC dengan mengubah nama "pencak" menjadi "pemuda" sebagai strategi agar tidak dibubarkan.
Pada 1942, atas usulan Suratno Sorengpati (tokoh pergerakan Indonesia), nama SHPSC berubah menjadi Setia Hati Terate (SH Terate).
Nama "Terate" (teratai) dipilih sebagai simbol bahwa ilmu silat ini bisa dipelajari oleh semua kalangan, berbeda dengan era sebelumnya yang hanya diajarkan untuk bangsawan.
Baca Juga: Perilaku Gen-Z Semakin Tidak Realistis dalam Lingkup Pekerjaan
Baru pada 1948, melalui konferensi di Desa Pilangbango, Madiun, SH Terate resmi berubah menjadi organisasi persaudaraan dengan nama Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Ki Hajar Harjo Utomo bukan hanya pendiri PSHT, tetapi juga tokoh pergerakan kemerdekaan. PSHT sendiri turut berperan dalam membangun semangat persatuan melawan penjajah.
Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh seperti RM Sutomo Mangkujoyo, Kang Mas Irsad, dan RM Imam Kusupangat, PSHT berkembang pesat.
Baca Juga: Rayakan Ultah, Kampret Blitar Mantapkan Langkah Menuju Komunitas Edukatif hingga Lelang Ikan
Saat ini, PSHT memiliki jutaan anggota di seluruh dunia dan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur persaudaraan dan kebudayaan silat Indonesia.
Dengan sejarah yang panjang dan penuh perjuangan, PSHT tetap menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Melestarikan pencak silat berarti turut menjaga warisan budaya yang tak ternilai harganya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.