Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Antara Mitos dan Fakta: Mengapa Makam Eyang Joyo Dikdo Tidak Boleh Menyentuh Tanah?

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Rabu, 16 Juli 2025 | 12:30 WIB
Di tengah masyarakat Jawa yang kaya akan budaya dan spiritualitas, sebuah tempat pemakaman di Kota Blitar menyimpan teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini.
Di tengah masyarakat Jawa yang kaya akan budaya dan spiritualitas, sebuah tempat pemakaman di Kota Blitar menyimpan teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini.

BLITAR – Di tengah masyarakat Jawa yang kaya akan budaya dan spiritualitas, sebuah tempat pemakaman di Kota Blitar menyimpan teka-teki yang belum terpecahkan hingga kini.

Namanya dikenal luas sebagai makam gantung, tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh legendaris bernama Eyang Joyo Dikdo.

Di balik arsitektur uniknya yang tidak biasa, tersimpan mitos makam gantung yang membuat banyak orang bertanya: mengapa jasad sang Eyang tidak boleh menyentuh tanah?

Sebagian besar masyarakat Blitar percaya bahwa makam tersebut tidak boleh bersentuhan langsung dengan tanah karena alasan mistik.

Dalam kepercayaan lokal, Eyang Joyo Dikdo diyakini memiliki ilmu langka bernama “Panca Sona” atau yang lebih dikenal dengan ilmu rawa rontek—suatu ajian yang konon membuat seseorang tak benar-benar mati jika tubuhnya belum menyentuh tanah.

Struktur makam gantung ini pun dibuat sedemikian rupa. Jasad sang Eyang diletakkan di atas susunan besi setinggi setengah meter dari permukaan tanah, lalu ditutup bangunan batu berbentuk cungkup.

Meski terlihat seperti makam biasa dari luar, siapa sangka bahwa arsitektur ini sebenarnya hasil dari keyakinan spiritual turun-temurun.

Ilmu Rawa Rontek: Antara Keabadian dan Ketakutan

Menurut cerita masyarakat setempat dan pengakuan sang kuncen, Eyang Joyo Dikdo adalah seorang tokoh penting pada masa penjajahan Belanda.

Ia adalah patih yang disegani dan disebut memiliki kekuatan spiritual luar biasa. Mitos menyebutkan bahwa ia pernah meninggal dunia lebih dari sekali, namun setiap kali jasadnya hendak dimakamkan dan menyentuh tanah, ia justru hidup kembali.

“Jasadnya dulu pernah tiga kali mau dikubur. Tapi pas kena tanah, langsung bangun lagi,” ujar Bah Ram, kuncen yang sudah menjaga lokasi sejak 2010.

Inilah yang kemudian membuat keluarga besar Eyang sepakat bahwa jasadnya tidak boleh lagi menyentuh tanah, bahkan setelah meninggal.

Inilah asal mula dari bentuk makam gantung tersebut. Meski makamnya tetap berada di permukaan bumi, jasadnya “digantung” secara simbolis di atas tanah, tanpa bersentuhan langsung.

Sebuah konsep yang menjadi bukti bagaimana kepercayaan mistik bisa berdampak pada arsitektur dan budaya lokal.

Warisan Mistis dan Simbol Spiritual

Bangunan makam Eyang Joyo Dikdo tidak hanya menyimpan jasadnya, tetapi juga benda-benda pusaka, pakaian keraton, dan perlengkapan spiritual lainnya.

Tiga ruangan utama dibagi untuk menyimpan jasad, pakaian, dan pusaka—sebuah tata ruang yang mencerminkan status Eyang sebagai tokoh kerajaan.

Salah satu pusaka yang dipercaya berada di sana adalah sebuah keris yang konon bisa berjalan sendiri dan muncul di rumah keturunan Eyang tanpa dipanggil.

Ada pula permata biru yang dikisahkan pernah diberikan “secara gaib” kepada keturunannya yang memiliki “darah pintar”.

“Pusaka-pusakanya masih ada, tapi enggak ada yang bisa ngambil. Keluarga pun enggak bisa mewarisi langsung. Kalau enggak siap, bisa celaka,” ujar Bah Ram.

Cerita ini pun menjadi bagian penting dari mitos makam gantung yang makin sulit dibedakan antara kenyataan dan legenda.

Fakta Arsitektur yang Bisa Dijelaskan

Meski banyak sisi mistik menyelimuti makam ini, beberapa elemen fisiknya justru bisa dijelaskan dari sisi arsitektur dan budaya.

Tradisi membuat tempat peristirahatan khusus untuk tokoh penting sudah lama dikenal dalam budaya Jawa.

Arsitektur keraton seperti bentuk cungkup, penggunaan batu andesit, serta pemisahan ruangan makam adalah bentuk penghormatan bagi tokoh spiritual atau pejabat tinggi kerajaan.

Namun dalam kasus Eyang Joyo Dikdo, keputusan menempatkan jasad di atas besi menjadi keunikan tersendiri.

Tak ada catatan tertulis tentang desain ini, namun para sesepuh kampung mengakui bahwa bentuk tersebut dibuat berdasar nasihat dari seorang guru spiritual Eyang di masa lampau.

“Guru spiritualnya sendiri yang bilang, jangan sampai Eyang menyentuh tanah. Nanti akan bangun lagi,” jelas kuncen.

Mitos, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal

Kisah mitos makam gantung Eyang Joyo Dikdo tidak hanya menghidupkan kembali semangat spiritual masyarakat Blitar, tetapi juga menjadi warisan budaya yang penuh makna.

Di tengah kemajuan zaman, tempat ini tetap ramai dikunjungi oleh mereka yang ingin menelusuri jejak leluhur, mencari berkah, atau sekadar menyelami aura mistisnya.

Masyarakat pun menjaga sikap ketika memasuki area makam. Mereka percaya bahwa hanya orang dengan niat baik yang akan diberi izin masuk.

Beberapa tamu yang datang dengan sembarangan bahkan disebut tidak mampu membuka gerbang atau mengalami kejadian-kejadian aneh seperti mobil mati mendadak, atau penampakan ular putih di pelataran makam.

Menjadi Bagian dari Wisata Budaya Spiritual

Dengan semakin banyaknya perhatian publik, makam gantung Blitar ini bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya spiritual yang tidak hanya menawarkan kisah mistis, tapi juga nilai-nilai lokal tentang penghormatan kepada leluhur, spiritualitas Jawa, dan jejak sejarah yang tak tertulis.

Bagi para pengunjung yang tertarik datang, penting untuk tetap menjaga tata krama dan menghargai aturan lokal. Sebab seperti kata sang kuncen, “Tempat ini bukan hanya makam, tapi juga ruang yang dijaga oleh hal-hal yang tak terlihat.”

Muskomwil IV APEKSI Bakal Digelar di Kediri: Lebih dari Sekadar Pertemuan, Begini Fungsi Esensial APEKSI Bagi Seluruh Kota di Indonesia
Muskomwil IV APEKSI Bakal Digelar di Kediri: Lebih dari Sekadar Pertemuan, Begini Fungsi Esensial APEKSI Bagi Seluruh Kota di Indonesia
Photo
Photo
Editor : Anggi Septian A.P.
#joyo dikdo #Mitos #gantung #menyentuh #kembali #tanah #bangkit #jasad #Eyang #makam