BLITAR - Startup di Indonesia sempat jadi primadona karena promo besar-besaran. Gratis ongkir, diskon gila-gilaan, hingga konser idola digelar demi menarik pelanggan.
Namun, strategi “bakar uang” itu ternyata jadi bumerang. Banyak startup Indonesia akhirnya tumbang karena beban keuangan tak tertolong.
Menurut data global, 90 persen startup gagal bertahan lebih dari 10 tahun. Di Indonesia, praktik agresif bakar uang justru mempercepat kegagalan.
Seorang pengamat ekonomi menyebut akar masalah bukan pada ide, melainkan pada strategi bisnis yang keliru. “Banyak startup kita terjebak pada promosi besar tanpa perencanaan matang. Hasilnya, arus kas tersedot habis, sementara pelanggan belum loyal,” katanya.
Ia mencontohkan dua perusahaan besar yang sama-sama membakar uang untuk merebut pasar. Bedanya, satu bisa bertahan dengan model bisnis kuat, sementara yang lain harus mengubah arah agar selamat.
“Strategi diskon besar itu hanya efektif jika ada roadmap jangka panjang. Kalau sekadar ikut-ikutan, maka ujungnya kolaps,” ujarnya menegaskan.
Fenomena ini bukan rahasia bagi masyarakat. Konsumen kerap menikmati fasilitas murah, tapi di balik itu startup menanggung biaya operasional yang membengkak.
Ketika investor mulai berhenti menyalurkan dana, banyak perusahaan tak sanggup menutupi pengeluaran. Mereka terpaksa menutup layanan, mem-PHK karyawan, hingga meninggalkan pasar.
Selain promosi berlebihan, manajemen keuangan juga jadi titik lemah. Banyak pendiri startup terlena dengan pendanaan awal, lalu menggunakannya untuk hal-hal yang tidak mendesak.
Analogi sederhananya, startup ibarat mobil. Dana investor adalah bensinnya. Jika mesin mobil rusak, sebanyak apa pun bensin dituangkan tetap tidak bisa jalan.
Bahkan ada startup yang sekadar mengikuti tren pasar tanpa visi jelas. Begitu tren meredup, bisnis ikut menghilang.
Catatan lain menunjukkan lebih dari separuh startup yang akhirnya sukses pernah melakukan pivot, alias mengubah arah bisnis. Namun, banyak pendiri terlalu terikat pada ide awal hingga enggan beradaptasi.
Meski begitu, peluang tetap terbuka. Startup yang berani membangun sistem operasional solid punya kesempatan lebih besar bertahan.
Pengamat menyarankan penggunaan teknologi untuk efisiensi. “Riset McKinsey membuktikan perusahaan yang mengandalkan sistem digital bisa meningkatkan produktivitas sampai 30 persen. Inilah yang harus dicontoh,” katanya.
Platform manajemen terpadu seperti ERP bisa membantu mengintegrasikan penjualan, pengadaan barang, hingga laporan keuangan. Dengan sistem ini, startup bisa mengurangi kebocoran dan fokus pada pertumbuhan jangka panjang.
Banyak startup gagal bukan karena produk buruk, melainkan karena cara mengelola bisnisnya kacau. Analoginya, daging wagyu dan bumbu lengkap tidak ada artinya jika dimasak asal-asalan.
“Pondasi bisnis yang rapuh akan roboh meski ditopang dana besar. Jadi bukan soal seberapa banyak uang yang dibakar, tapi seberapa kokoh sistem yang dibangun,” tegas pengamat tersebut.
Bagi pelaku usaha muda, pelajaran ini penting. Dunia startup bergerak cepat, tapi bukan berarti semua keputusan harus instan. Tanpa perencanaan matang, strategi agresif justru menjadi bumerang.
Artikel ini bukan sekadar mengulas kegagalan, melainkan mengingatkan. Startup Indonesia bisa lebih kuat jika belajar dari kesalahan, bukan mengulanginya.
Pada akhirnya, bukan diskon besar yang membuat bisnis bertahan, melainkan manajemen keuangan dan visi jangka panjang.
Editor : Anggi Septian A.P.