Peristiwa ini melibatkan dua kelompok suporter paling militan di Eropa: Bad Blue Boys (pendukung Dinamo Zagreb) dan Delije (pendukung Red Star Belgrade). Bad Blue Boys, dengan identitas warna biru dan semangat anti-Serbia yang kental, menjadikan laga ini sebagai panggung perlawanan terhadap dominasi politik Beograd. Di sisi lain, Delije yang dipimpin oleh tokoh paramiliter Zeljko "Arkan" Raznatovic, datang dengan ribuan anggotanya membawa misi nasionalisme Serbia yang agresif. Pertemuan kedua kubu ini menciptakan atmosfer yang mencekam bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan.
Awal Mula Bentrokan Berdarah
Tensi tinggi sudah terasa sejak para suporter memadati tribun. Nyanyian provokatif dan saling ejek berubah cepat menjadi aksi kekerasan. Batu, botol, dan kursi stadion beterbangan. Situasi semakin tak terkendali ketika polisi, yang saat itu didominasi oleh aparat beretnis Serbia, dianggap bertindak tidak netral. Mereka terlihat membiarkan aksi anarkis Delije, namun bertindak represif terhadap Bad Blue Boys. Ketidakadilan ini memicu kemarahan suporter tuan rumah yang akhirnya merangsek masuk ke lapangan untuk menyerang kubu lawan.
Di tengah kekacauan tersebut, terjadilah momen ikonik yang selamanya mengubah wajah sepak bola Yugoslavia. Zvonimir Boban, kapten Dinamo Zagreb sekaligus bintang muda Kroasia, melihat seorang polisi sedang memukuli suporter Dinamo. Tanpa ragu, Boban melompat dan menendang polisi tersebut. Aksi heroik Boban ini terekam kamera dan menyebar luas, menjadikannya simbol perlawanan rakyat Kroasia terhadap rezim Yugoslavia yang didominasi Serbia.
Baca Juga: Keuangan Arema FC Belum Stabil Meski Jor-joran Transfer, Target Lima Besar Tak Goyah
Dampak Politik dan Militer
Sejarah kerusuhan Stadion Maksimir tidak berhenti di lapangan hijau. Insiden ini menjadi katalisator bagi konflik etnis yang lebih besar. Bagi rakyat Kroasia, kerusuhan ini mempertegas keyakinan bahwa koeksistensi dalam federasi Yugoslavia sudah tidak mungkin lagi dipertahankan. Hanya sebulan setelah kejadian tersebut, Kroasia menggelar pemilu demokratis pertama yang dimenangkan oleh partai pro-kemerdekaan, mempercepat langkah mereka memisahkan diri dari Yugoslavia.
Di sisi lain, Delije di bawah komando Arkan bertransformasi dari kelompok suporter menjadi unit paramiliter yang menakutkan, dikenal sebagai "Arkan's Tigers". Anggota Delije yang terbiasa dengan kekerasan di stadion direkrut untuk bertempur di garis depan Perang Bosnia dan Kroasia. Begitu pula dengan anggota Bad Blue Boys, banyak dari mereka yang kemudian bergabung dengan tentara Kroasia untuk mempertahankan kemerdekaan negara baru mereka. Spanduk dan nyanyian di tribun terbawa hingga ke medan perang yang sesungguhnya.
Warisan Kelam Sepak Bola Eropa
Hingga kini, lebih dari tiga dekade berselang, tanggal 13 Mei diperingati di Kroasia sebagai hari di mana "perang dimulai". Stadion Maksimir tetap berdiri sebagai monumen bisu dari tragedi tersebut. Bagi Bad Blue Boys, momen itu adalah bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. Sementara bagi dunia internasional, sejarah kerusuhan Stadion Maksimir menjadi pelajaran pahit bagaimana fanatisme sepak bola yang ditunggangi politik kebencian dapat menghancurkan sebuah negara.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa stadion bukan hanya tempat hiburan, tetapi bisa menjadi cermin dari kondisi sosial-politik masyarakatnya. Ketika identitas kelompok lebih diutamakan daripada kemanusiaan, sepak bola bisa berubah menjadi senjata pemusnah massal. Tragedi Maksimir adalah bukti nyata betapa tipisnya batas antara olahraga dan perang. (*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar