BLITAR - Sepak bola seringkali disebut sebagai permainan logika, namun apa yang terjadi pada musim 2011/2012 adalah anomali yang menentang segala hukum probabilitas. Chelsea juara Liga Champions 2012 bukan sekadar catatan statistik, melainkan sebuah saga tentang bagaimana tim yang "sekarat", dipimpin pelatih interim, dan dihuni barisan pemain veteran mampu membalikkan semua prediksi taruhan dunia.
Perjalanan The Blues menuju podium tertinggi Eropa saat itu dimulai dengan kekacauan. Di bawah asuhan Andre Villas-Boas, Chelsea tampak kehilangan taringnya. Puncaknya terjadi di babak 16 besar saat mereka dihajar Napoli 3-1 di leg pertama. Kekalahan itu berujung pada pemecatan sang manajer. Alih-alih mendatangkan nama besar, manajemen justru menunjuk asisten pelatih Roberto Di Matteo sebagai nahkoda sementara. Siapa sangka, di tangan sosok interim inilah, keajaiban Chelsea juara Liga Champions 2012 mulai menunjukkan sinyal-sinyal "magis" yang tak masuk akal.
Keajaiban Comeback di Stamford Bridge
Di bawah Di Matteo, Chelsea tidak memainkan sepak bola indah ala Barcelona. Mereka kembali ke akar: pragmatis, keras, dan penuh determinasi. Saat menjamu Napoli di leg kedua, Stamford Bridge menjadi saksi kebangkitan para "singa tua". Didier Drogba, John Terry, dan Frank Lampard—tiga pilar yang dianggap sudah habis masa keemasannya—justru menjadi pencetak gol. Melalui perpanjangan waktu yang dramatis, Chelsea menang agregat 4-3. Dunia mulai melihat ada sesuatu yang berbeda dari tim asal London Barat ini.
Namun, ujian sesungguhnya baru datang di babak semifinal. Chelsea harus berhadapan dengan "raksasa" paling menakutkan saat itu: Barcelona asuhan Pep Guardiola. Dengan Lionel Messi yang sedang di puncak performa (mencetak 63 gol musim itu), peluang Chelsea untuk lolos ke final bahkan tidak sampai 20 persen menurut rumah taruhan.
Momen Parkir Bus dan Kegagalan Penalti Messi
Pertandingan di Camp Nou pada leg kedua semifinal adalah definisi dari keberuntungan murni. Chelsea kehilangan kapten John Terry karena kartu merah di menit ke-30. Mereka tertinggal 2-0 dan bermain hanya dengan 10 orang. Secara logika, ini adalah akhir dari perjalanan mereka. Namun, strategi "parkir bus" yang sangat ekstrem diterapkan.
Barcelona mendominasi 80 persen penguasaan bola, namun bola seolah enggan masuk ke gawang Petr Cech. Keberuntungan memihak Chelsea saat Lionel Messi, sang pemain terbaik dunia, gagal mengeksekusi penalti setelah tendangannya membentur mistar. Melalui satu serangan balik cepat di menit akhir, Fernando Torres mencetak gol penentu yang membungkam 90 ribu pendukung Barca. Chelsea melenggang ke final dengan cara yang dianggap paling beruntung sepanjang sejarah kompetisi.
Final Melawan Bayern Munich di Allianz Arena
Puncak dari drama Chelsea juara Liga Champions 2012 terjadi di partai final. Seolah takdir ingin menguji mereka lebih jauh, venue final ditentukan di Allianz Arena—markas Bayern Munich, lawan mereka di partai puncak. Bermain di kandang lawan dengan skuad yang pincang tanpa John Terry, Chelsea terus digempur sepanjang laga.
Thomas Muller sempat membawa Bayern unggul di menit ke-82. Fans Bayern sudah merayakan kemenangan dan trofi sudah mulai dituliskan nama "Bayern Munich". Namun, di menit ke-88, dari satu-satunya tendangan sudut yang didapat Chelsea sepanjang laga, Didier Drogba melepaskan sundulan maut yang memaksakan hasil imbang.
Drama berlanjut di perpanjangan waktu. Arjen Robben mendapatkan hadiah penalti bagi Bayern, namun Petr Cech tampil bak pahlawan dengan menggagalkan tendangan tersebut. Di babak adu penalti, meski sempat tertinggal di awal, mentalitas baja pemain Chelsea tak tergoyahkan. Didier Drogba yang maju sebagai eksekutor terakhir sukses menjalankan tugasnya. Chelsea resmi mengangkat trofi kuping lebar untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, sebuah penutup manis bagi generasi emas mereka yang dianggap sudah "ketinggalan zaman". (*)
Editor : Anggi Septian A.P.