Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

John Hertman Resmi Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Coach Justin: Realistis, Level 3-4 Tapi Bisa Bawa Kejutan

Rendra Febrian Permana • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:32 WIB

John Hertman Resmi Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Coach Justin: Realistis, Level 3-4 Tapi Bisa Bawa Kejutan
John Hertman Resmi Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Coach Justin: Realistis, Level 3-4 Tapi Bisa Bawa Kejutan

BLITAR - Penunjukan John Hertman sebagai pelatih Timnas Indonesia resmi diumumkan PSSI dan langsung memantik perdebatan publik. Sosok asal Inggris yang pernah menangani Kanada dan Selandia Baru itu dinilai bukan nama “kelas atas”, namun disebut sebagai pilihan realistis sesuai kapasitas sepak bola Indonesia saat ini.

Penunjukan John Hertman pelatih Timnas Indonesia menjadi babak baru setelah kegagalan sebelumnya yang menyisakan kekecewaan publik. Banyak yang berharap nama besar Eropa, namun pengamat sepak bola Justinus Laksana atau Coach Justin menilai ekspektasi tersebut tidak realistis.

Menurut Coach Justin, dalam diskusi di program Doncast, publik harus memahami bahwa pemilihan John Hertman sebagai pelatih Timnas Indonesia sudah mempertimbangkan aspek anggaran, kualitas pemain, hingga kebutuhan adaptasi jangka panjang.

Realistis Sesuai Level Pemain

Coach Justin secara terbuka menyebut Hertman berada di “level 3-4”, bukan level elite Eropa. Namun, ia menegaskan hal itu bukan masalah.

“Kalau pelatih level satu, dia pasti melatih di Eropa. Kita harus jujur, kualitas pemain kita juga level 3-4. Jadi harus sinergi antara pelatih dan pemain,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus pelatih elite seperti Roberto Mancini yang gagal di Arab Saudi meski berstatus juara Eropa. Nama besar tak selalu menjamin hasil jika tidak sesuai konteks.

Hertman sendiri punya rekam jejak membawa Kanada tampil atraktif di Piala Dunia 2022, meski akhirnya tersingkir. Ia juga sukses bersama tim wanita Selandia Baru dan Kanada di ajang internasional.

Gaya Bermain Pragmatis dan Direct

Salah satu ciri permainan tim asuhan Hertman adalah direct play dan transisi cepat lewat sayap. Statistik menunjukkan Kanada hanya mencatat penguasaan bola rata-rata 48 persen, bahkan turun menjadi 41 persen saat menghadapi tim besar.

Namun menurut Coach Justin, angka itu tidak bisa menjadi patokan tunggal.

“Sepak bola bukan soal penguasaan bola 70 persen. Yang penting efektif dan hasil,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan pragmatis lebih realistis bagi Indonesia, terutama saat menghadapi tim-tim kuat Asia seperti Jepang, Iran, atau Australia.

Tantangan Adaptasi di Asia

Berbeda dengan pelatih sebelumnya, Hertman belum punya pengalaman di sepak bola Asia. Inilah tantangan terbesarnya.

Coach Justin menyebut pentingnya Hertman tinggal di Indonesia agar memahami karakter pemain dan kultur sepak bola lokal. Ia juga harus aktif memantau Liga 1 dan berkomunikasi dengan pelatih klub.

“Dia harus turun ke lapangan, bukan cuma dengar dari atasan. Harus tahu karakter pemain Indonesia seperti apa,” tegasnya.

Adaptasi budaya juga menjadi faktor krusial. Tekanan suporter Indonesia dikenal sangat tinggi. Pujian bisa berubah menjadi hujatan dalam hitungan laga.

Target Piala Asia 2027 Jadi Penentu

Kontrak Hertman berdurasi dua tahun. Artinya, Piala Asia 2027 akan menjadi parameter utama.

Coach Justin menyebut target realistis adalah minimal perempat final. Jika gagal mencapai itu, besar kemungkinan kontraknya tak diperpanjang.

“Kalau perempat final saja tidak masuk, jangan mimpi Piala Dunia,” ujarnya blak-blakan.

Namun ia juga meminta publik tidak terburu-buru menghakimi dalam tiga laga awal. Waktu persiapan yang singkat membuat hasil instan sulit diharapkan.

Manajemen Ekspektasi Publik

Indonesia saat ini berada di peringkat 120 FIFA. Namun euforia diaspora dan performa sebelumnya membuat ekspektasi publik melambung tinggi.

Coach Justin mengingatkan bahwa ekspektasi harus dikelola.

“Kita ini bukan Brasil atau Argentina. Rank 120 tapi berharap main seperti rank 10,” katanya.

Ia menilai mayoritas suporter kini lebih realistis dibanding sebelumnya, meski tetap ada tekanan dari media sosial.

Mentalitas dan Ruang Ganti

Salah satu kekuatan Hertman adalah kemampuan komunikasi dan membangun mentalitas tim. Ia dikenal sebagai motivator yang piawai menguasai ruang ganti.

Dalam sebulan terakhir, ia diklaim sudah berbicara dengan sekitar 60 pemain, termasuk diaspora dan pemain lokal.

Kemampuan mendengar ini dianggap modal penting untuk membangun chemistry. Namun pada akhirnya, keputusan tetap harus berdasarkan pengamatan pribadi.

“Percaya mata sendiri, jangan terlalu dengar kiri kanan,” pesan Coach Justin.

Jalan Panjang Menuju 2030

Dengan format Piala Dunia yang kini diperluas, peluang Indonesia terbuka lebih besar. Namun semua itu tetap membutuhkan konsistensi, pembenahan sistem, dan dukungan federasi.

Hertman bukan solusi instan, tetapi bisa menjadi fondasi jika diberi waktu.

Kini publik tinggal menunggu debutnya di FIFA Matchday Maret mendatang. Apakah realistis bisa berbuah kejutan? Atau kembali jadi eksperimen singkat?

Semua akan terjawab di lapangan.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Coach Justin #pelatih timnas indonesia #John Herdman #PSSI #piala asia 2027