BLITAR - Perempuan yang karib disapa Ica ini kali pertama menekuni kerajinan jam kayu sejak duduk di bangku kuliah. Lalu, membuka usaha pada akhir 2022. Jam tangan kayu bikinannya disesuaikan dengan selera modis kalangan anak-anak muda. Model jam kekinian bikinan jemari terampil Ica paling banyak berbentuk kotak pada bingkai dial jam. Kendati kayu dominan berwarna krem, cokelat muda maupun gelap, namun jam ini tetap memikat pembeli. Proses pembuatan untuk satu buah jam memakan waktu 2-3 jam.
“Butuh untuk tetap hati-hati, kayunya masih papan lalu dipotong sesuai ukuran jamnya. Kelihatannya simpel, tapi tetap butuh proses,” ujarnya, Kamis (10/1) lalu.
Kerangka kayu itu pada bagian tengah sengaja diberi lubang bundar untuk meletakkan dial jam. Lalu, pada masingmasing ujungnya juga terdapat celah untuk mengaitkan strap atau tali pergelangan tangan. Tidak hanya satu warna, strap dengan berbagai warna membuat pengguna jam ini semakin tampil keren.
Perempuan 24 tahun ini hanya menggunalan kayu jenis maple. Selain karena karakteristiknya yang kuat, kayu jenis ini tampak lebih indah dan natural Kayu maple memang banyak dimanfaatkan oleh perajin-perajin furnitur karena lebih berdaya saing.
“Bisa dibilang kayu ini limbah. Saya dapat dari kenalan. Memang sering untuk produksi furnitur karena lebih tahan, polanya halus, dan warnanya cantik,” papar perempuan berkaca mata ini.
Sesuai dengan fungsinya, jam ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mengetahui waktu. Selain itu, jam dengan banyak pilihan warna strap ini juga untuk menunjang style fashion yang simpel. Gaya busana casual dan semi formal juga selaras dengan desain jam tersebut.
“Menurutku, jam perlu ada nilai estetika dan fungsinya. Kita dapat fungsinya, juga dapat nilai fashion dan value yang kita angkat. Tapi ketahanan tidak kita abaikan, makanya pakai maple. Kelas ketahanan air, ini water splash tahan,” lanjutnya. Penjualan jam tangan ini semakin melonjak naik saat musim libur, perayaan hari besar, serta kerap diburu sebagai hadiah. Ica mengakui memang belum bisa membuka toko atau kios. Sebab, keterbatasan tenaga yang dia miliki. Sementara penjualan mengandalkan media sosial (medsos). Sebesar 80 persen pembeli berasal dari luar kota.
“Tiap satu buah jam kami banderol Rp 300 ribu dengan packaging lengkap. Kalau omzet tiap bulannya sekira Rp 3 juta sampai Rp 4 juta,” tandasnya. (luk/dit)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila