Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pengalaman Oxy Tegar Prasetya Menjalani Puasa di Luar Negeri, Harus Naik Kereta untuk ke Masjid, Restoran Hanya Buka Siang Hari

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 25 Maret 2024 | 21:10 WIB
METROPOLIS: Oxy Tegar Prasetya di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tochigi, Jepang.
METROPOLIS: Oxy Tegar Prasetya di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tochigi, Jepang.

BLITAR - Butuh iman yang kuat untuk bisa menjalankan puasa di negeri orang. Jauh dari masjid dan harus memiliki skill memasak, menjadi tantangan Oxy Tegar Prasetya yang kini bekerja di Jepang.

Menjalani ibadah puasa di negara yang kaum muslimnya minoritas memang cukup menantang. Hal itu dirasakan oleh Oxy Tegar Prasetya, warga Desa Sumberkembar, Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Dia telah dua tahun tinggal dan bekerja di Jepang.

Oxy mengaku cukup sulit menemukan masjid di tempat tinggalnya, Kota Tochigi, Jepang. Dengan begitu, hampir tidak ada suara azan.

Sebab, negara tersebut banyak dihuni oleh kaum ateis. Untuk salat, sahur, hingga buka puasa, Oxy harus melihat jadwal yang ada di ponsel.

“Jepang cukup tertutup dengan kaum muslim. Masjid ada, tapi tidak banyak. Selain itu, tidak diizinkan penggunaan pengeras suara di masjid.  Alhasil, azan dan pengajian hanya terdengar untuk jemaah yang berada di dalam masjid tersebut,” ujar Oxy yang dihubungi melalui telepon,Minggu (24/3).

Dia menceritakan, untuk salat Tarawih, masjid di Jepang memakai pengeras suara yang hanya terdengar dari dalam masjid.

Ada sedikit perbedaan salat Tarawih di Jepang. Meskipun sama-sama 20 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir, tapi salat Tarawih baru dimulai pukul jam 8 malam karena menunggu semua jemaah berkumpul. Jemaahnya tidak hanya dari Indonesia. Ada juga dari Nepal, Sri Lanka, dan India.

Oxy butuh waktu waktu 30 menit untuk menuju masjid terdekat dari tempat tinggalnya. Dia harus menempuh perjalanan memakai kereta sekitar 10 menit dan sisanya berjalan kaki.

Karena alasan ini pula, dia lebih sering salat di tempat tinggalnya. Hanya pada momen tertentu saja dia salat berjemaah di masjid.

“Malam minggu banyak orang Indonesia yang muslim berkumpul di masjid karena weekend libur. Beberapa kaum muslim juga ada yang menyediakan takjil,” tutur Oxy.

Selama ini, Oxy menjalani puasa hampir sama waktunya dengan tanah air. Sahur dibangunkan alarm pukul 03.00 waktu Jepang, karena satu jam setengah kemudian sudah subuh. Sementara untuk buka puasa, pukul 17.50 waktu setempat.

Laki-laki 23 tahun ini pulang kerja sebelum petang. Dengan begitu, dia dapat mempersiapkan menu makanan untuk buka puasa.

Dia jarang sekali membeli makanan di restoran karena jarang ada penjual makanan halal di Jepang. Mayoritas masakan di Jepang dicampur daging atau minyak babi dan alkohol.

Untuk makan di restoran Jepang, kaum muslim harus melakukan permintaan khusus. Misalnya, dipisahkan dengan makanan yang mengandung daging babi.

Menurut Oxy, hal itu belum cukup karena bisa saja makanan itu masih mengandung minyak babi dan alkohol.

“Masak sendiri lebih murah, dan jarak tempat kerja ke tempat tinggal cukup dekat. Ketika pulang sekalian membeli bahan dan langsung masak. Kadang saya masak buka juga untuk dimakan saat sahur,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Oxy juga pernah membeli makanan Jepang untuk santap sahur dan buka puasa. Makanan yang dibeli seperti karage, shusi, dan onigiri yang memang halal untuk kaum muslim.

Namun untuk makanan Indonesia yang sering dimasaknya, yakni nasi goreng, sop ayam, dan sayur lodeh.

Tantangan lainnya adalah banyak restoran yang buka pada pagi hingga sore. Bahkan, Oxy sering tergoda dengan mesin penjual minuman otomatis.

Namun ketika malam, hampir semua tempat di Negeri Sakura ini dalam kondisi sepi. Masyarakat di sana banyak yang langsung pulang ke rumah usai kerja. Dengan begitu, Oxy harus menahan diri untuk tidak jajan ketika malam hari.

“Banyak restoran Indonesia di Jepang. Namun rasanya tetap lebih enak yang asli di tanah air. Karena bahan-bahannya yang membuat rasanya berbeda, dan tentu ada keluarga di kampung halaman,” pungkasnya. (*/c1/hai)

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #menjalankan puasa #minoritas #jepang