Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Nurul Istiqomah, Ibu Rumah Tangga Pegiat Menulis, Lampiaskan Sakit Hati Lewat Literasi Kearifan Lokal Blitar

Mila Inka Dewi • Selasa, 26 Maret 2024 | 16:20 WIB
LITERASI: Nurul Istiqomah menunjukkan dua karyanya tengang kearifan lokal Blitar.
LITERASI: Nurul Istiqomah menunjukkan dua karyanya tengang kearifan lokal Blitar.

BLITAR - Kesibukan sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga sekaligus, tak menyurutkan langkah Nurul Istiqomah untuk tetap menulis.

Lewat menulis dia menyampaikan ide, harapan, dan berbagai uneg-uneg di kepalanya. Kini, cerita-cerita tentang kearifan lokal di Blitar Raya mulai diabadikan melalui tulisan.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika tim Jawa Pos Radar Blitar menemui Niqo, sapaan karib Nurul Istiqomah.

Disela-sela kesibukannya sebagai tenaga pendidikan di Universitas Islam Balitar (Unisba), Niqo berbagi cerita awal kecintaannya dengan menulis.

Dari tulisan-tulisan itu, dua di antaranya sudah dibukukan, yakni 7 Destinasi Wisata Religi di Bumi Bung Karno dan The Uniqueness of Klampok Village.

"Kedua buku hasil karya saya itu mengikuti lomba menulis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpussip) Kota Blitar," akunya Senin (25/3/2024).

Buku 7 Destinasi Wisata Religi di Bumi Bung Karno ditulis pada 2022 lalu. Saat itu, dia berhasil meraih juara 6. Buku itu berisi tentang masjid-masjid dan wisata religi di Kota Blitar.

Seperti, Masjid Ar-Rahman, Masjid Agung, hingga Makam Bung Karno. Ide itu muncul karena kecintaannya mengunjungi sejumlah masjid atau musala untuk ngabuburit.

Sementara itu, buku kedua tentang Kelurahan Klampok ditulis pada 2023. Waktu itu lomba memang mengambil tema tulisan seputar Kota Blitar.

Kelurahan Klampok dipilih lantaran memiliki nama yang cukup unik, berbeda dengan nama kelurahan atau daerah lain.

"Ternyata Klampok itu nama buah jambu. Jadi isi bukunya tentang sejarah dan filosofi nama Klampok. Narasumbernya dari Bu Lurah, tokoh masyarakat dan sesepuh di sana," jelas Warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat ini.

Ada cerita unik dari hobinya menulis saat ini. Kegiatan menulis itu berangkat dari rasa sakit hati. Lantaran tidak diterima usai melamar sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi.

Niqo pun menceritakan keluh kesahnya kepada salah satu temannya. Ibarat obat yang pahit, tapi bisa membuat sembuh.

"Saya banyak dinasehati oleh teman saya. Walaupun nggak jadi dosen tapi masih berkarya dengan cara lain, salah satunya menulis," ungkapnya.

Sejak saat itu, dia mulai rajin mengikuti sejumlah akun media sosial instansi pemerintahan. Baik Kota maupun Kabupaten Blitar. Prinsipnya, daripada scroll untuk konten-konten yang tidak penting, lebih baik mengisi dengan kegiatan bermanfaat.

Dari kegiatan itu, Niqo melihat salah satu postingan akun instagram Disperpussib Kota Blitar yang mengadakan lomba menulis.

Tulisan-tulisan yang dibuat dipelajari secara otodidak. Lantaran dari dulu tidak memiliki basis dibidang literasi maupun jurnalis. Begitu juga dengan komunitas-komunitas menulis. Bukan buku panduan-panduan menulis, namun dari berbagai genre buku yang menarik untuk dibaca.

Selain menulis buku, Niqo juga menulis sejumlah essai. Tulisan itu kemudian diunggah di website pribadi. Kini, ada dua proyek buku yang sedang digarap.

Yakni, tentang masjid Ar-Rahman yang berjudul Relfeksi Kerinduan Umat ke Tanah Suci dan Gunung Pegat, di Kecamatan Srengat. Tulisan tentang masjid Ar-Rahman sudah selesai.

Tinggal menunggu konfirmasi dari pihak pengelola. Sementara, tentang Gunung Pegat, ditulis secara berkelompok dengan rekannya.

"Tulisan untuk sementara ini masih seputar kearifan lokal. Kemarin saya tawarkan ke Perpustakaan Bung Karno dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Bukan hanya untuk materi, tapi untuk mengenalkan ke masyarakat bahwa di Blitar ada tempat-tempat sejarah atau religi yang mungkin belum diketahui banyak orang," bebernya.

Selama melakoni kegiatan itu, Niqo mengaku sempat merasa minder. Lantaran, dalam salah satu event menulis, diikuti oleh penulis-penulis berbakat dan punya banyak karya.

Apalagi ada yang pernah mengadakan bedah buku milik sendiri. Selain itu, dia juga tidak bergabung dengan sejumlah komunitas menulis. Sehingga, ketika dipanggil hanya sebagai pegiat literasi.

"Rasa minder itu pasti ada. Apalagi saya berangkat tanpa ada basis menulis. Tapi itu saya jadikan penyemangat untuk terus berkarya dan berproses menjadi lebih baik," tandasnya. (*/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#buku #blitar raya #menulis #ibu rumah tangga #karya