BLITAR - Peran orang tua tak bisa dipisahkan dengan perkembangan anak sehari-hari. Pola asuh ayah dan ibu tentu erat kaitannya untuk menentukan arah perilaku anak, sejak bayi hingga tumbuh dewasa. Menanamkan pendidikan moral dan etika jadi opsi penting di tengah gempuran era digital.
Di Bumi Bung Karno, sebagian orang tua mengaku perlu usaha ekstra sejak anak berusia di bawah lima tahun.
Utamanya melatih mandiri serta memantau agar tak ada tontonan negatif yang dikonsumsi anak. Jika dilakukan secara intensif, anak akan terlatih untuk bersikap baik di masyarakat.
Seperti diungkapkan Erik Kristyawati, warga Jalan Borobudur, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Menurutnya, ada banyak tantangan mendidik anak di era modern ini.
Pengaruh konten di di dunia maya bisa datang kapan saja. Jika tak memfilter tayangan, maka anak bisa saja mencontoh apa yang dilihat.
"Gadget pasti ada plus minusnya. Tetapi, saya lebih konsentrasi pada kesehatan anak, di samping filterisasi tayangan, dan pembentukan karakter," ungkapnya, Selasa (26/3/2024).
Ibu dua anak ini memang lebih dulu mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan anak. Di usia dini, kata dia, anak minimal bisa memahami makanan yang baik dan tidak untuk dikonsumsi.
Misalnya, dia selalu membatasi agar anak minim menyantap jajanan mengandung zat adiktif. Dia biasanya mengganti makanan tersebut dengan olahan makanan real food sayuran yang dikreasikan lebih menarik.
Bukan hanya memilih asupan terbaik untuk menunjang kesehatan, dia juga sedang mengajarkan kedisiplinan kepada anak.
Misalnya, bertanggung jawab atas tugas-tugas sendiri ketika di rumah. Lalu, memperbanyak aktivitas religi, dan memberikan wejangan yang membangun karakter anak.
"Tapi tergantung bagaimana, karena setiap orang tua pasti beda-beda cara asuhnya. Saya hanya ajarkan pola parenting tanpa membatasi eksplorasi anak. Mengajarkan kebaikan juga harus dibiasakan," jelasnya.
Pada hakikatnya, kata dia, kebaikan adalah kebiasaan. Erik mengakui terkadang di awal akan terasa sulit. Namun, dirinya tidak menyerah melakukan hal-hal yang benar.
Ini demi kebaikan anak di masa depan. Beberapa metode antara lain, memberikan teladan yang baik, pengarahan, dan pengawasan.
"Dari kebaikan kepada sesama, kepedulian akan terbentuk kesopanan. Harus pula diimbangi dengan didikan yang tegas dari bapaknya," jelas perempuan yang tergabung di Kampung KB Asparaga ini.
Sementara itu, pemerhati anak dan perempuan di Kota Blitar, Titim Fatmawati menilai pola asuh orang tua memang menentukan kualitas sikap anak di masa mendatang. Orang tua juga tak boleh melupakan bahwa perlindungan juga bagian dari parenting.
"Karena perlu diingat bahwa masih ada kasus kekerasan atau pelecehan terhadap anak. Jadi orang tua harus mengantisipasi hal ini," ungkapnya.
Perempuan yang juga Ketua SAPUAN (Sahabat Perempuan dan Anak) Kota Blitar ini mengaku, pendidikan moral seperti menjaga diri sendiri harus ditanamkan. Anak harus paham mana bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain.
Lagi-lagi, orang tua harus getol mengulik ini dengan metode yang mudah dipahami anak. "Anak adalah aset. Untuk itu pentingnya pencegahan.
Saya berharap pemerintah daerah juga menggencarkan sosialisasi peningkatan kualitas keluarga sejahtera, dan membentengi dengan nilai keagamaan," tandasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila