BLITAR - Jadi juara ajang Kangmas Diajeng Kota Blitar 2024 menjadi impian Lidiya Putri Nabiillah sejak kecil.
Pernah mengikuti event yang sama saat masih berumur 11 tahun. Namun, kala itu tidak membuahkan hasil yang bagus.
”Syukur saya dapat meraih impian yang terpending ketika kecil. Saya evaluasi dan pelajari hal-hal yang kurang saat Kangmas Diajeng cilik,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (5/4).
Persiapan untuk Kangmas Diajeng ini kurang lebih sebulan melakukan persiapan. Karena 4 hari usai poster ajang tersebut diumumkan, Dea langsung mendaftarkan diri kepada panitia Persiapan.
Punn dilakukan untuk mempelajari materi pengetahuan umum, etika, public speaking dan lainnya.
Ketika masuk grand final dia sempat gugup. Bahkan selama karantina sudah merasa overthingking. Meski begitu, dia tidak terlalu ambil pusing.
Saat grand final terkendala public speaking. Akan tetapi, dia tetap yakin dan percaya diri dengan potensi yang dimilikinya.
”Untungnya ketika grand final tidak terlalu ada masalah yang serius. Semua sudah saya atasi dengan baik dan syukur dapat juara 1,” tutur Dea.
Saat granf final, Dea menampilkan tari emprak. Persiapan menari itu dilakukan selama 2 minggu bersama teman-temannya.
Terlebih sudah sejak kelas IV SD aktif dalam ekstrakulikuler tari. Lalu, SMP hingga SMA ini mempelajari tari modern.
Perempuan 18 tahun ini bekerja keras untuk mempersiapkan tari emprak tersebut. Maka dari itu, Dea memang cukup siap dalam mempersiapkan segala hal dalam Kangmas Diajeng ini, termasuk penampilan uji bakat tersebut.
”Setelah Lebaran kami akan meramaikan acara Blitar Jadoel. Nanti paguyuban Kangmas Diajeng akan menaikkan produk UMKM Kota Blitar.
Dari Batik hingga makanan tradisional khas Kota Blitar. “Produk-produk lokal tersebut kami promosikan agar dikenal masyarakat luas,” pungkasnya. (jar/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila