BLITAR - Lebaran identik dengan makanan dan minuman yang disuguhkan di atas meja. Walaupun begitu, tidak jarang di atas meja juga ada pajangan bunga yang membuat meja semakin enak dipandang.
Salah satu perakit bunga di Kota Blitar dalam pot sekaligus penjual bunga, Kuwianasari mengaku, beberapa hari ini permintaan bunga hias meningkat.
Peningkatan ini disebabkan kondisi yang memang sudah mendekati hari raya. Ternyata untuk membuat atau merakit bunga itu tidak mudah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rangkaian tersebut. Seperti penyesuaian warna, model bentuk bunga dan pot, serta yang terakhir ialah pemotongan tangkai bunga.
Jika tahap-tahap ini diabaikan, keindahan bunga akan tertutupi oleh bunga lain dan tidak terlihat menarik lagi. Maka, tidak semua orang bisa merakit bunga.
Soalnya perajin itu perlu inspirasi yang luas untuk merangkai bunga agar tetap indah dipandang. Dia mengungkapkan, untuk merakit satu bunga perlu beberapa hal yang disiapkan, seperti alat pemotong, bunga imitasi, pot, dan spon.
Nantinya, ketiga bahan utama itu dijadikan satu demi membuat rangkaian yang indah. Kemudian untuk bahan, Kuwinasari mengaku bahwa bahan yang diperolehnya berasal dari beberapa wilayah.
Bunga itu bersumber dari Surabaya yang sudah berbadan hukum dan memiliki perajin pembuatan bunga. Kemudian, spon dan pot bunga dari Malang.
“Harganya itu bervariatif. Dipengaruhi oleh besar kecil bunga, harga bunga, harga pot spon, dan terakhir jasa pembuatan. Harganya itu mulai Rp 20 ribu hingga Rp 300 ribu,” jelasnya.
Dia mengaku tidak mudah mendirikan usaha jual beli kado dan pernak-pernik hiasan rumah, yang tentunya terdiri dari pohon-pohon plastik, bunga, daun, dan pot.
Nyatanya selama 25 tahun berdagang di Jalan Semeru, baru tahun ini toko yang didirikannya sudah mulai jarang dimintai para pengunjung.
“Walaupun bunga-bunga ini cantik. Namun permintaannya semakin menurun sejak 2023 lalu. Ini mulai ramai empat hari terakhir sebelum Lebaran,” jelasnya.
Dia menduga sepinya pengunjung toko miliknya ini disebabkan minat masyarakat dalam membeli produk sudah mulai bergeser. Bahkan, sejak 2023 lalu, tokonya sudah terasa mengalami penurunan omzet.
Tahun ini merupakan yang terparah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun ini itu sepi banget. Kalau dulu itu mendekati Lebaran, omzet yang diperoleh bisa puluhan juta. Namun sekarang ini Rp 5 juta saja susah,” ujarnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila