BLITAR - Arfinika Yuni Natarini lima tahun terakhir bersahabat dengan udara dingin Kanada. Warga Desa Sukoreno, Kecamatan Gandusari ini mengadu nasib sebagai perawat di salah satu bidang usaha jasa. Suasana Ramadan dan Lebaran di tanah kelahiran tak pelak selalu mengundang kerinduan hebat di benaknya.
Durasi puasa di negara berjuluk Negeri Pecahan Es lebih panjang ketimbang di Indonesia. Arfin melakoni ibadah ini selama 17 jam lamanya.
Ini terasa berat saat kali pertama berpuasa pada Ramadan 2020 lalu. Namun kini dirinya sudah terbiasa sambil menjalani rutinitasnya yang padat.
Perjalanan perempuan 23 tahun ini melancong ke Kanada bermula pascalulus SMK pada 2018 lalu. Kedatangan Arfin ke Kanada dalam rangka menyusul sang ibunda yang lebih dulu bekerja.
Banyak tahapan yang dilakukan sebelum akhirnya pada 2019 bermukim di Kota Vancouver. Dia kini mengantongi surat tinggal tetap alias permanent residence (PR) dari otoritas setempat.
Arfin memiliki dua kewarganegaraan. Yakni, sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dan warga negara Kanada sementara. Meski memegang PR, dia harus memperbarui setiap lima tahun sekali agar tetap bisa tinggal di Kanada.
"Kalau mau pindah WN Kanada, setelah 5 tahun disini bisa. Tapi tergantung, kalau tetap sebagai WNI, harus holding PR," katanya kepada Koran ini melalui sambungan seluler kemarin (7/4).
Tiba di Kanada, perempuan anak tunggal ini sempat kesulitan beradaptasi dengan perbedaan waktu. Beda waktu antara Indonesia dengan Kanada sekitar 14 jam. Praktis, gangguan tidur pun dia rasakan setiap hari selama sebulan.
Ada yang tak berubah dari Arfin. Adalah kerinduannya tentang hangatnya suasana Ramadan dan Lebaran di negara kelahirannya.
Dia mengaku, tahun pertama Ramadan di Kanada merupakan hari yang berat. Dia harus berpuasa dalam durasi waktu lebih panjang, diselingi pekerjaan dan aktivitas belajar.
Dia tak menampik bahwa buka bersama (bukber) jadi kesempatan yang dirindukan. Termasuk menyantap sejumlah hidangan khas Nusantara. Di antaranya, ikan goreng bumbu kuning, aneka sambal, dan terancam sayuran mentah dibalur parutan kelapa berbumbu pedas gurih.
"Bisa beli masakan Indonesia disini. Dari apartemen butuh waktu sekitar 45 menit. Seporsi nasi lemak, ayam bakar, dan sambal itu sekitar Rp 230 ribu," cerita perempuan ramah ini.
Keinginan memasak sendiri menu-menu masakan Jawa di Kanada penuh keterbatasan. Pasalnya, tidak ada rempah seperti kencur, jahe, kunyit, dan santan kelapa. Alat memasak juga terbatas. Cobek dan parutan kelapa tak pernah dijumpai.
Begitu juga dengan momen Idul Fitri. Gema takbir yang menandakan datangnya malam 1 Syawal tidak terdengar. Hanya bising kendaraan. Tak ada pula silaturahim dari rumah ke rumah.
"Yang paling sederhana, aku kangen jajanan, nastar, madumongso, dan silaturahim yang selalu ramai. Kalau di sini sama sekali enggak ada," jelasnya.
Islam di Kanada merupakan agama minoritas. Kendati begitu, tetap ada komunitas Muslim dari berbagai negara. Paling banyak dari Afganistan, dan Suriah. Sementara komunitas pemeluk kepercayaan Islam dari Indonesia jumlahnya minim.
"Aku di sini pernah gabung sama komunitas Muslim, merasakan momen Lebaran dua tahun lalu, itupun hanya sehari itu saja," imbuhnya.
Penghobi olahraga tenis meja ini masih ingat betul gambaran suasana khas Lebaran di kampung halamannya. Setiap sudut dipenuhi gemerlap obor, takbir keliling, dan salat Ied. Untuk itu, tahun lalu dia memutuskan pulang, tepat saat perayaan Idul Fitri.
"Sedih kalau di luar negeri. Enggak bisa dengar takbir langsung. Solusinya cuma streaming takbir. Tahun pertama aku bikin nastar sendiri, banyak banget, dibagi-bagikan ke tetangga apartemen. Sekarang sudah terbiasa," tambahnya.
Dia berharap ada kesempatan terbaik untuk kembali berkumpul bersama sanak famili. Meski saling memaafkan tetap bisa dilakukan lewat panggilan video, rasanya kurang afdaql jika tidak bertemu langsung. "Mohon maaf lahir dan batin, untuk keluarga di Indonesia. Semoga kembali fitri," tandasnya. (*/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila