BLITAR - Mudana, warga Desa Tingal, Kecamatan Garum, pertama kali merayakan Idul Fitri di Korea Selatan.
Meskipun tanpa terdengar suara takbir dan hanya libur sehari, dia tetap menikmati Lebaran dengan muslim lainnya.
Merayakan Hari Raya Idul Fitri di negeri orang, jauh dengan keluarga, dan menjadi warga minoritas, menuntut Mufidana kuat iman.
Tahun ini, warga Desa Tingal, Kecamatan Garum kabupaten Blitar ini baru pertama kali menjalani ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri di Korea Selatan.
Dana sapaan akrabnya sudah setahun bekerja di Negeri Gingseng itu sebagai pekerja pabrik.
Di Korea Selatan, puasa dan Lebaran tidak beda dengan hari biasa, tak ada istimewa-istiewanya. Maklum, muslim di negeri itu menjadi kelompok minoritas.
“Biasanya ketika Hari Raya Idul Fitri di Korea Selatan, saya tetap kerja. Karena masyarakat Korea pada umumnya tidak beragama dan mereka tidak tahu Hari Raya Idul Fitri.
Kebetulan 10 April ini libur, karena bertepatan hari pemilu legislatif di sini,” ujar Dana.
Dia melanjutkan, di negeri tempatnya bekerja ada lembaga bernama Korea Muslim Federation (KMF). Oraganisasi ini pula yang biasanya menerbitkan surat edaran seputar Hari Raya Idul Fitri.
Surat tersebut menjadi pegangan para pekerja untuk mengajukan cuti Lebaran. Namun tidak semua perusahaan mengizinkan pekerja muslim cuti.
Perusahaan Korea Selatan yang bisa memberikan cuti Lebaran itu karena banyak seniornya yang telah biasa mengajukan cuti.
Sehinga tidak semua pekerja muslim Indonesia bisa menikmati libur saat lebaran. Jika tidak libur, setelah Salat Ied di masjid langsung pergi bekerja.
“Alhamdulilah tahun ini bisa libur Lebaran, meskipun hanya sehari. Namun saya tidak tahu tahun depan bisa libur seperti ini apa tidak. Semoga saja bisa diizinkan untuk cuti Lebaran,” ungkapnya.
Dana menceritakan, suasana puasa dan lebaran tidak terasa di Korea Selatan. Suara adzan dan takbir tidak terdengar.
Suara itu, hanya terdengar di masjid atau musala yang jaraknya juga jauh dari rumahnya. Suaranya juga hanya memakai speaker dalam, sehingga tidak bertautan seperti di tanah air.
Menariknya, salat Ied di Korea Selatan setiap tahun jamahnya membludak. Selain itu, untuk warga muslim Indonesia tentu tidak langsung pulang.
Mereka bersalaman untuk bermaaf-maafan, anjangsana, dan makan bersama dengan kuliner asli Indonesia.
Tidak ada anjangsana antar rumah atau tempat tinggal karena jaraknya yang jauh.
Setelah itu, orang muslim Indonesia lebih memilih menghabiskan sisa harinya di hari pertama Idul Fitri untuk pergi liburan.
Mereka tentu merindukan tradisi Idul Fitri di Indonesia, sayangnya belum bisa pulang karena menunggu kontraknya habis.
“Saya dan orang muslim di Korea Selatan bisa memakai baju muslim dan batik ketika Idul Fitri. Hal itu jarang dilihat oleh orang Korea Selatan dan jadi perhatian publik. Sedangkan saat hari biasa, jarang ke masjid karena sibuk bekerja,” tutur Dana.
Pemuda 24 tahun ini menceritakan, kuliner Lebaran di Korea Selatan menyesuaikan lidah muslim Indonesia.
Mereka banyak yang membuat soto, sate, nasi goreng, opor ayam, rawon, bakwan, dan es campur serta es buah kuliner lainnya.
Karena ada Asia Mart, yang menyediakan bahan-bahan masakan asia yang halal.
Selain itu, tiap musala di Korea Selatan ada chef yang memasak untuk buka puasa dan Idul Fitri.
Menu masakannya juga diposting di sosial media. Makananya tentu yang halal dan tentu kuliner Indonesia. untuk mengobati rasa rindu dengan tanah air.
“Saat Hari Raya Idul Fitri tentu menghubungi keluarga di Blitar. Penuh isak tangis dan rindu ketika menelepon keluarga. Pasti kangen, namun belum bisa bertemu hanya bisa videocall,” pungkasnya. (*/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila