Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pemuda Pecinta Hewan Asal Blitar Bagikan Tips Beri Pakan Tepat untuk si Dares, Tak Asal, Ternyata Daging Ini Lebih Sehat

M. Luki Azhari • Minggu, 14 April 2024 | 21:05 WIB

LAHAP: Dares jenis tyto alba menyantap burung kecil, seperti pipit yang jadi menu favoritnya.
LAHAP: Dares jenis tyto alba menyantap burung kecil, seperti pipit yang jadi menu favoritnya.

BLITAR - Memelihara burung hantu atau dares memang jadi tren sebagian anak muda. Namun, hanya jenis tertentu selain 9 spesies dilindungi yang dapat dipelihara.

Misalnya, tyto alba dan celepuk. Pemuda pecinta hewan, Yuwan Irmanto memelihara sejumlah dares di rumahnya. 

Warga Jalan Gunojoyo Barat, Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan kota Blitar ini mengaku sudah mengenal burung tersebut sejak duduk di bangku SMP.

Dares masuk deretan hewan nokturnal. Tak heran jika spesies ini lebih aktif bergerak di malam hari.

Selain harus terbiasa dengan suaranya yang lantang, memelihara burung ini harus paham soal menu makanan dan waktu pemberianya.

“Burung ini mudah dirawat, jinak juga. Dia tahu yang memberi makan. Tapi tangan kita harus pakai sarung khusus. Karena cengkeramannya kuat,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Sejatinya perawatan burung buas ini tidaklah rumit. Hanya, perlu adaptasi di awal. Pemberian makan cukup sehari sekali.

Burung yang dapat memutar kepalanya hingga 270 derajat ini bisa bertahan tanpa harus minum. “Dibanding hewan lain, burung hantu paling mudah. Mandi seminggu sekali,” lanjutnya.

Makanan yang disarankan untuk dares di antaranya beberapa burung kecil, seperti pipit atau anak puyuh. Bisa diberikan dalam keadaan hidup untuk mempertahankan naluri berburu di alam lepas.

Pemudia 21 tahun ini menyebut, daging sapi juga bisa jadi santapan. Namun, sebagian pemelihara menghindarinya lantaran harga yang cenderung mahal. 

Daging bisa diganti dengan daging ayam. Dia menyarankan menggunakan daging ayam kampung karena lebih sehat. 

”Kalau daging ayam kota, itu takutnya diobat. Bisa sih, tapi harus diproses dulu biar bisa steril, itupun nggak bisa langsung diberikan,” imbuhnya.

Dia berkeinginan membudidayakan dalam jumlah banyak. Sayangnya terbentur banyaknya modal. Sedangkan di dunia bisnis, harga dares relatif terjangkau. 

Artinya, jika semakin banyak yang membeli untuk dilepasliarkan, membantu membasmi hama pertanian. ”Pun kalau dipelihara, harus betul-betul perawatannya diperhatikan,” tandasnya. (luk/sub)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#perawatan #Pecinta Hewan #burung hantu #Kota Blitar