BLITAR - Selain menjadi dokter, Suhandoko memiliki hobi unik yakni di dunia perkayuan. Dia sering mencari kayu ketika hari libur bekerja di tempat praktik pribadinya.
“Bekerja dari Senin-Jumat harus semangat dan bersungguh-sungguh. Pada Sabtu dan Minggu harus menikmati dengan liburan,” ungkap pria 58 tahun tersebut.
Sebagian waktu weekend-nya digunakan untuk mencari kayu hingga ke Bojonegoro dan Jepara.
Tujuannya untuk mewujudkan dan membangun pendapa yang kini menjadi ikon dari Kabupaten Blitar bahkan dunia.
Dari jerih payah selama puluhan tahun itu, hasilnya bisa menyabet rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk pendapa terbesar dengan bahan baku kayu.
Dia mengaku tertarik pada dunia kayu ketika menjadi dokter muda dan mengabdi di sebuah desa yang memiliki hutan lebat di Bojonegoro, hingga akhirnya muncul kecintaan terhadap kayu.
“Hingga sekarang masih suka hunting dan mengumpulkan bahan-bahan kayu, kayu tua, dan koleksi perabot rumah tangga dari kayu. Masih suka keliling dengan istri di kala libur bekerja di hari minggu,” katanya.
Pada tahun 2021, bangunan pendapa seluas 40,3x40,3 meter tersebut berdiri di Desa Togogan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, dengan nama Pendapa Ageng Han Asta Sih yang memiliki model bangunan limas.
Dari situ, dia bisa memperoleh penghargaan tingkat dunia untuk masyarakat Blitar dan Indonesia. (guh/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila