BLITAR - Gadis ayu ini patut menjadi inspirasi bagi kalangan muda Blitar. Tak hanya dari prestasi sebagai finalis Gus - Jeng Kabupaten Blitar 2019, hingga Raka – Raki Jawa Timur 2021 yang notabene identik dengan pengembangan bakat.
Nah, dara yang lulus kuliah pada 2022 lalu ini memilih berkarir yang jauh dari dunia itu, yakni menjadi teknisi mesin pesawat.
Dia adalah Ayudhea Fatmaning Nadhiroh, warga Desa Maron, Kecamatan Srengat. Untuk pengembangan bakat di panggung seperti ajang Gus-Jeng maupun Raka-Raki memang menjadi salah satu sarana unjuk eksistensi diri sebagai anak muda.
Dan hal itu sudah dikuasai oleh Ayu, sapaan akrabnya. Di sisi lain, ternyata menjadi seorang teknisi merupakan keinginan dan cita-cita sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Meskipun, pekerjaan itu memang tidak banyak digeluti oleh kaum hawa pada umumnya. Apalagi harus bekerja dan berbaur dengan kaum adam.
“ Saya kuliah mengambil jurusan teknik mesin, yang berfokus pada penerbangan. Jurusan itu memang aku inginkan sejak kelas 1 SMA. Karena itu, saya akhirnya mencari dan memilih pendidikan tinggi yang sesuai denga napa yang saya inginkan,” ujar Ayu saat dihubungi via telepon usai pulang bekerja kemarin (19/4).
Menurut dia, ada alasan khusus memilih jurusan teknik saat kuliah. Yakni, ingin mengetahui penerapan teori tentang mesin yang didapatkan saat di jenjang SMA yang kebetulan mengambil jurusan IPA.
Kebetulan di jurusan teknik di Politeknik Negeri Malang, dia menemukan teknik perawatan pesawat udara.
“Kok saya melihat ini langsung merasa tertarik. Lalu saya akhirnya mendaftar pada jurusan itu,” ungkap gadis ramah ini.
Awal ketertarikan pada mesin dan perawatan pesawat udara karena penasaran. Dari perasaan itu, dia merasa tertantang untuk mengetahui dan belajar lebih dalam.
Dan ternyata saat kuliah, banyak materi praktik yang menantang minatnya. Hingga dua tahun lalu dia berhasil menyelesaikan kuliahnya.
“ Usai lulus, saya langsung bekerja di Garuda Maintenance Facility (GMF) selama 10 bulan dan tentu bersentuhan dengan mesin pesawat. Kemudian, saya mendapatkan tawaran bekerja sebagai teknisi di PT. P&G yang fokus produk rumah tangga,” tutur Perempuan 22 tahun ini.
Ternyata menjadi teknisi perempuan tidak seburuk seperti banyak orang bayangkan, karena selama ini pekerja teknis didominasi oleh kaum lelaki.
Padahal, dia merasa bahwa sebagai Perempuan justru banyak mendapatkan kemudahan dalam mencoba hal-hal baru, terutama ketika mengotakatik mesin.
“Selama ini identik laki-laki, padahal perempuan juga bisa,” akunya sambil tertawa. Ayu sempat berfikir, menjadi teknisi perempuan tidak bisa menjadi pekerjaan dalam jangka panjang.
Karena pekerjaan ini banyak bersentuhan dengan bahan kimia yang “agak” berbahaya. Selain itu, tentu teknisi memang pekerjaan yang banyak membutuhkan fisik.
Maka dari itu, dia tetap harus berhati-hati saat menjalani pekerjaan tersebut. “Pengalaman yang mengesankan saat menjadi teknisi, ketika saya dapat berhasil membongkar dan memasang mesin pesawat yang ukurannya besar.
Pesawat yang saya tangani dari luar, seperti Airbus. Tentu mesinnya juga besar. Selain itu, kerja bersama teman laki-laki, ternyata bisa lebih kompak,” pungkasnya. (jar/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila