Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ikhtiar Komunitas Wild Water Indonesia Rawat Ekosistem Sungai di Blitar, Gaungkan Larangan Bom dan Setrum

M. Luki Azhari • Rabu, 24 April 2024 | 18:00 WIB

 

MERAWAT ALAM: Deny Master, 40, merilis ikan-ikan air tawar di sejumlah sungai di Blitar beberapa waktu lalu.
MERAWAT ALAM: Deny Master, 40, merilis ikan-ikan air tawar di sejumlah sungai di Blitar beberapa waktu lalu.

BLITAR - Hampir setiap sungai di Blitar Raya jadi sasaran rilis ikan oleh komunitas Wild Water Indonesia (WWI) Blitar. Kiat ini dilakukan lantaran risau dengan banyaknya aktivitas bom dan setrum ikan yang mengancam keseimbangan ekosistem sungai.

Bom dan setrum ikan jadi aktivitas paling meresahkan yang mengancam ekosistem makhluk hidup di sungai. Hal ini dilakukan sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab atas keseimban

gan ekosistem sungai. Namun di balik maraknya fenomena bom dan setrum ikan di sungai, masih ada pegiat pelestari sungai yang berupaya menumbuhkan kesadaran umum.

Adalah WWI Blitar, yang merupakan salah satu komunitas penentang praktik perusakan sistem ekologi sungai. Perkumpulan yang terbentuk pada 2015 ini mulanya dilanda kegalauan hebat kala mengetahui tak sedikit ikan-ikan di sungai yang mulai punah.

Kemudian, komunitas yang mayoritas jadi tempat bernaung anak-anak muda peduli lingkungan ini pun menggalakkan aksi nyata.

"Kami merumuskan cara untuk mengembalikan ekosistem sungai. Ini lingkungan kita bersama. Lingkungan yang harus dijaga dan dirawat," tutur Deny Master, pria yang menggawangi lahirnya WWI Blitar.

Tak lekang oleh waktu, pria berambut gondrong ini masif melakukan upaya sederhana untuk memperbaiki keadaan sungai. Salah satunya melepasliarkan ikan air tawar. Dalam sekali rilis, ada ratusan bahkan ribuan ikan yang berenang bebas di sungai. Jenisnya yakni wader pari dan wader cakul.

Ada alasan tersendiri bagi Deni memilih ikan tersebut untuk dilepaskan di alam bebas. Salah satunya karena jenis ikan itu merupakan ikan air tawar lokal yang habitatnya berasal dari perairan Jawa. Fungsi ikan di lingkungan dapat mendaur ulang nutrisi, menjaga keberlangsungan rantai makanan di sungai, dan salah satu indikator kualitas air.

"Pelepasan ikan sudah kami lakukan. Jumlahnya tidak terhitung. Ini bentuk komitmen kami agar sungai dan makhluk hidup di dalamnya bisa lestari," tutur pria berusia 40 tahun ini.

Pelepasan ikan tersebut hampir merata di sungai Blitar Raya. Ada sekira 250 ekor ikan yang sengaja dibiarkan lepas begitu saja di sungai. Ikan-ikan itu berasal dari pembibitan dan pembelian.

Selain menebar ikan, WWI juga tak jemu menggaungkan sosialisasi larangan bom ikan, menyetrum, dan obat ikan.

Komunitas tersebut menegaskan bahwa sebagai warga negara yang baik tentu harus menaati setiap regulasi. Termasuk patuh pada produk hukum Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dengan ancaman penjara 5 tahun dan denda Rp 2 miliar.

"Kami juga pasang banner imbauan-imbauan, larangan untuk menangkap ikan. Kebanyakan di setiap titik yang kami tebari ikan, kami pasang," paparnya.

Adapun sungai-sungai yang jadi spot pelepasan ikan, kata dia, memang dirahasiakan. Tujuannya agar tidak diincar warga.

"Besar harapan kami untuk keberlangsungan ekosistem sungai supaya tidak rusak. Ini konsisten kami lakukan agar populasi ikan yang habitatnya di sungai Jawa tetap terjaga," tandasnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#komunitas #blitar #Wild Water Indonesia #sungai