Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjuangan Warga Blitar Tanam Melon Hidroponik, Sempat Diremehkan dan Buktikan Lewat Hasil Panen

Mohammad Syafi'uddin • Kamis, 25 April 2024 | 16:03 WIB

 

TEKUN: Supriyanto ketika berada di kebun melon hidroponiknya di Desa/Kecamatan Ponggok.
TEKUN: Supriyanto ketika berada di kebun melon hidroponiknya di Desa/Kecamatan Ponggok.

BLITAR - Dicemooh dan dianggap remeh saat mendirikan green house, seakan sudah sering dirasakan Supriyanto, warga Desa/Kecamatan Ponggok kabupaten Blitar. Dia kini dapat mematahkan pandangan sinis itu tidak benar lewat budi daya tanaman hidroponik.

Supriyanto masih ingat betul saat pertama kali membuat bangunan untuk hidroponik pada 2019 silam. Banyak warga berpandangan jika menanam pakai green house dan hidroponik diragukan hasilnya.

Meski sering mendengar perkataan tersebut, dia memilih fokus pada penanaman hidroponik yang direncanakannya.

“Sudah direncanakan jauh-jauh hari. Saya ingin bekerja dengan mudah, jadi perlu riset dan referensi beberapa metode tanam. Termasuk menggunakan metode tetes air, metode tanah pada umumnya, dan terakhir hidroponik. Dari semua itu, termudah dan menguntungkan malah hidroponik. Saya memilih hidroponik,” jelasnya.

Dari hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa menanam melon di tanah lebih rentan terserang berbagai penyakit daripada menggunakan sistem hidroponik.

Selain itu, jika memang terserang bakteri, pengobatannya cenderung lebih mudah karena langsung ke akar. Walaupun begitu, dia merasa bersyukur sejak awal pendirian green house. Lantaran tanaman melonnya belum pernah terserang hama atau bakteri.

Terkait sistem tanam hidroponik yang kebanyakan warga beranggapan mahal, dia membantah hal tersebut. Anggaran besar tidak selalu menambah pendapatan.

Dia memanfaatkan wadah pakan ayam sebagai pengganti paralon untuk tempat atau media penyebaran air hidroponik. Dengan melakukan hal ini, anggaran yang dibutuhkan lebih sedikit.

Terlebih, dari perhitunganya, hidroponik bersekala produksi lebih menguntungkan daripada yang kecil. “Itu tidak harus baru. Saya menggunakan bekas pakan ayam yang dilapisi plastik. Terpenting, aliran air itu jalan dengan normal serta tidak terkontaminasi oleh kotoran ayam dan bakteri. Saya lebih memfokuskan hasil buah melon, bukan alat untuk hidroponik. Maka lebih murah,” ungkapnya.

Dengan melakukan tanam hidroponik ini, dia tidak lagi memikirkan biaya olah lahan ataupun biaya media tanam. Yang disiapkan hanya media di awal, selanjutnya tinggal menyediakan nutrisi dan benih.

Dia mengungkapkan bahwa untuk pupuk lebih suka meracik sendiri. Dengan cara begitu, hasil yang diperoleh lebih memuaskan.

Tentu tidak mudah mendirikan perkebunan hidroponik berupa green house dengan luas 336 meter persegi dan kapasitas 1.000 tanaman. Dari perkiraannya, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas ini sekitar Rp 30 hingga Rp 35 juta.

Untuk mengatasi modal, dia memilih menabung dengan anggaran dari menanam melon di lahan tanah sebagai sumber pendapatan.

Meski demikian, anggaran yang dibutuhkan masih kurang sehingga terpaksa pinjam ke bank Rp 7 juta. “Dulu itu anggaran kita kumpulkan sendiri, setelah ada modal baru kita terapkan pendirian green house,” ujarnya. (*/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #green house #metode #tanaman hidroponik