BLITAR - Reog bulkiyo merupakan kesenian yang sudah berusia ratusan tahun dan kembang kempis di Kabupaten Blitar.
Konon tari tersebut dicetuskan dari Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dibawa Prajurit Pangeran Diponegoro saat melarikan diri ke Bumi Penataran ini.
Hingga kini pelaku kesenian tari reog bulkiyo masih ada di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Kesenian tersebut dulu pernah eksis hingga di tahun 2012. Lantas setelah itu vakum karena minim anggaran dan peminat.
Vakum sekitar 6 tahun, akhirnya kesenian ini mulai muncul kembali di 2018 silam. Sejak saat itu, tarian tersebut perlahan berkembang dan dikenal lagi di masyarakat.
“Tarian reog bulkiyo asli sini. Diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saya itu generasi ke lima. Bahkan setelah vakum, banyak alat harus diganti karena rusak. Tersisa dari peninggalan sebelumnya, hanya ada tiga jenis alat musik,” ujar Ketua Reog Bulkiyo, Marjadi.
Reog bulkiyo ini diperkirakan ada sekitar tahun 1825 diciptakan seorang prajurit Pangeran Diponegoro, Kasan Mustar dan Kasan Ilyas. Setelah mereka wafat, diteruskan para generasi penerus yang masih keluarga.
Gerakan dan alat pun masih sama dengan aslinya dulu. Alat-alat musiknya termasuk, rebana thrinting; terbang gendhung telu; terbang gleyoan; 2 buah terbang gae; pecer; dan slompret.
“Dulu memang gerakan tari ini untuk latihan perang, namun kini sudah menjadi hiburan,” terang pria tersebut.
Dia mengaku, untuk pengembangan kesenian tersebut masih menjadi kendala adalah kesulitan dapat penambahan uang.
Meski begitu, Marjadi mengaku ikhlas dengan kondisi sekarang. Lantaran kesenian itu ialah jiwa raganya dan tidak bisa dinilai dengan materi. Sehingga berapapun anggaran diberikan, diterima dan nanti dibagikan ke tim pentas. Biasanya satu tim terdiri dari 13 orang.
Jumlah pendapatan sekali manggung bervariatif, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 4 juta pernah didapat. Nominal besar, biasanya didapat saat acara-acara dinas atau kegiatan di luar daerah.
Baca Juga: Ahrian Festyananda Ketua Umum ASKI Blitar Raya, Tak Pelit Bagi Ilmu Kopi, Ini Rahasianya
Dengan pendapatan ngos-ngosan hingga sekarang wajar masih belum memiliki gedung sendiri untuk melatih tari reog bulkiyo.
“Kalau keluar daerah itu pernah dapat Rp 4 juta, itu nanti kepotong biaya transport perjalanan. Tingkat lokal biasanya Rp 1,5 juta, atau tergantung jarak. Pernah menerima upah Rp 100 ribu sampai Rp 600 ribu untuk tingkat desa,” tandasnya.
Menurut dia, upah yang variatif ini karena reog tidak bisa dijual atau dinominalkan. Maka memaklumi dengan kemampuan masyarakat berbeda-beda. “Kalau ditanya berapa, kami baru bisa mengkalkulasi harganya,” jelasnya.
Dia semenjak memimpin kesenian ini pernah manggung di berbagai lokasi. Misal Borobudur, Magelang, dan Kediri. Sedangkan untuk lokal itu Penataran.
“Paling sering saat ada kunjungan tamu pemerintahan. Kami turut diundang memeriahkan. Selain itu untuk tingkat desa kadang kami diundang saat hajatan mantu,” jelasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila