BLITAR - Berawal dari sakit demam berdarah dengue (DBD), Mufid Raharja, 32, pria asal Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, sukses menjadi petani jambu merah. Dia bahkan bisa memperoleh omzet sekitar Rp 2 juta dari penjualan jambu merah tiap hari.
Terlihat seseorang sedang memangkas ranting beberapa pohon jambu merah di kebun. Dia tak lain adalah Mufid Raharja. Petani dan pengepul jambu merah ini sedang beraktivitas di kebun yang berada di belakang rumah orang tuanya.
Usai memangkas ranting, Mufid -sapaan akrabnya- membungkus buah jambu merah yang masih kecil-kecil. Pohon jambu merah di kebun itu tidak terlalu tinggi.
Hanya dengan berdiri, Mufid dapat meraih beberapa buah jambu merah untuk dibungkus plastik. Kebun yang berada di halaman belakang rumah orang tuanya itu juga yang menjadi cikal bakal kesuksesan Mufid menjadi petani jambu merah.
"Selain jadi petani, saya juga jadi pengepul jambu merah. Tiap hari rata-rata bisa menjual 2-3 kuintal jambu merah. Karena memiliki lebih dari 200 pohon jambu merah," kata Mufid saat ditemui di kebun jambu merah miliknya.
Dia melanjutkan, kebun di belakang rumah ini kebun jambu merah pertamanya. Sekarang, dia punya tiga kebun lagi di tempat lain yang masih di Desa Karangsono. Uang untuk membeli kebun juga dari hasil penjualan jambu merah.
Pria yang juga menjadi guru honorer di SDN 2 Gogodeso itu menyebut, harga jambu merah dalam kondisi normal berkisar Rp 3.000 per kilogram (kg) sampai Rp 8.000 per kg. Namun, harga jambu merah berubah ketika musim hujan.
Yakni berada di kisaran Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per kg. Bahka,n saat musim hujan seperti sekarang, hasil panennya bisa sampai 7 kuintal per hari. Hal ini berdampak pada omzet yang tiap hari rata-rata bisa mencapai Rp 2 juta.
Seperti sekarang ini, Mufid mengaku penjualan jambu merah meningkat karena adanya kasus DBD yang lumayan tinggi di Bumi Penataran. Jambu merah dapat meningkatkan trombosit serta imun dan banyak diincar masyarakat dalam dua minggu terakhir ini.
Mufid menceritakan perjalanannya bisa menjadi petani jambu merah. Yakni berawal menanam jambu merah pada 2010.
Saat itu, dia terkena penyakit DBD dan sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit. Dokter memintanya banyak mengonsumsi jambu merah untuk meningkatkan trombositnya.
"Awalnya saya tidak suka dengan jambu merah, apalagi kalau dibuat jus, saya tidak mau minum. Tapi, karena untuk kesehatan, akhirnya saya mengonsumsi jambu merah. Bahkan bisa menjadi petani hingga saat ini,” ungkapnya.
Dari pengalaman itu, Mufid yang baru lulus SMA berinisiatif menanam pohon jambu merah sendiri di rumah. Dia memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah orang tuanya untuk menanam buah tersebut. Sekitar 1,5 tahun setelah ditanam, pohon jambu merah miliknya mulai berbuah.
Awalnya, dia bersama keluarga mengonsumsi sendiri hasil panen buah jambu merah di kebun miliknya. Ternyata hasil panen jambu merah melebih ekspektasinya dan tidak kuat untuk dikonsumsi sendiri. Maka dari itu, Mufid kemudian menjual sebagian hasil panen jambu merahnya.
"Saya memasarkan jambu merah dengan cara dititipkan ke pedagang sayur keliling. Pertama hanya dua pedagang, kemudian bertambah jadi 10 pedagang. Lalu, pemasarannya terus berkembang ke beberapa pasar dan kios pedagang buah," tandasnya.
Dari penjualannya, banyak masyarakat yang tertarik dengan jambu merah dari kebunnya. Dia kemudian nekat menambah kebun jambu merah dengan membeli tanah.
Kebun jambu merah miliknya juga dilirik oleh pemerintah desa untuk dijadikan produk unggulan. Bahkan sempat diikutkan lomba karena pemanfaatan halaman rumah menjadi kebun jambu merah.
Dari jambu merah ini, Mufid mewakili Desa Karangsono memperoleh juara satu lomba desa di tingkat Provinsi Jatim pada 2016. Prestasi itu kemudian juga menggerakkan warga lain untuk menanam jambu merah di pekarangan. Sampai sekarang, ada sekitar 15 petani dengan populasi sekitar 800 pohon jambu merah di Desa Karangsono.
"Kebun jambu merah di Desa Karangsono juga menular ke desa lain seperti di Garum, Kanigoro, Sawahan, dan Kademangan. Beberapa warga di desa itu menanam jambu merah," pungkasnya.(*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila