BLITAR - Menjadi penari awalnya bukanlah keinginan Yunita Dwi Rahmawati, warga Desa Dandong, Kecamatan Srengat ini.
Hanya dari keisengannya mengikuti ekstrakurikuler tari di SMP, gadis berusia 22 tahun ini sudah melanglang buana mengikuti berbagai pertunjukan tari di berbagai daerah Nusantara.
Wanita yang berprofesi sebagai salah satu staf wedding planner di Kota Blitar ini mengungkapkan bahwa dari seni tari mendapatkan banyak hal baru.
“Ternyata jadi penari itu bisa kenal dengan banyak orang baru, meningkatkan kepercayaan diri, bonusnya bisa traveling,” ungkapnya.
Berawal dari seleksi FLS2SN yang diadakan di sekolahnya, Yunita ketagihan mengikuti berbagai event tari.
Lolos menjadi salah satu penari Kabupaten Blitar menjadi titik balik Yunita menggeluti seni tari.
Mengikuti eventJatim Specta Night Carnival selama empat kali berturut-turut menjadikannya motivasi untuk memperdalam ilmu seni tari.
“Event Jatim Specta night Carnival kan lokasinya tiap tahun berubah. Terus pernah juga ke Jakarta menjadi salah satu penari acara penyambutan Menteri Luar Negeri.
Kalau di Blitar, waktu penyambutan Jokowi di pembukaan irigasi Kanigoro bersama 20 penari Kabupaten Blitar” kenangnya.
Yunita mengaku tidak memiliki kesukaan khusus pada tarian tertentu. Baginya, semua tarian asal dilakukan dengan sepenuh hati tentu bisa menyampaikan feel ke audiens. Gerakan yang paling disukainya adalah gerakan yang energik dan ekspresif.
“Meskipun menguras tenaga, tapi gerakan yang energik dan ekspresif ini bisa meredakan stres. Mengolah tubuh, pikiran, dan rasa,” terangnya.
Ketika berlatih, menurutnya, hal yang paling penting adalah pemanasan. Sebab, ketika berlatih tentu memakan waktu yang tidak sedikit.
Untuk meminimalisasi cedera tentu perlu pemanasan sebagai fondasi. Selain itu, optimis menjadi kunci agar mental tidak down di perlombaan.
Ketika perlombaan atau pertunjukan, baginya, kekompakan dengan anggota tim menjadi nomor satu.
“Sebelum perlombaan biasanya doa bersama. Penting juga afirmasi yang membangun antara anggota tim,” jelasnya.
Model tarian yang ia tarikan beragam. Mulai dari tradisional, modern, hingga tarian kontemporer. Ide tarian bisa datang dari mana saja.
Bahkan, wanita kelahiran 2001 ini mengaku pernah mendapatkan ide tarian dari besek bekas jenang.
Kini, Yunita sudah tidak aktif mengikuti perlombaan tari dan fokus menjadi pelatih tari di SMP 2 Garum. (mg1/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila