Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pengalaman Sukmana Argo Rahayuning Dyah Tekuni Aeromodeling, Tak Berekpektasi Jadi Atlet, Satu Kelas Belum Ditaklukkan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 13 Mei 2024 | 16:03 WIB

 

BERPRESTASI: Sukmana Argo Rahayuning Dyah di sela-sela latihan menggunakan pesawat rakitannya beberapa waktu lalu.
BERPRESTASI: Sukmana Argo Rahayuning Dyah di sela-sela latihan menggunakan pesawat rakitannya beberapa waktu lalu.

BLITAR - Jarang ditemui atlet aeromodeling di Kota Blitar. Itu karena cabang olahraga (cabor) ini tidak sepopuler yang lain. Namun, Sukmana Argo Rahayuning Dyah, warga Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, dapat meraih prestasi di cabor menerbangkan pesawat kecil ini.

Sukma Argo Rahayuning Dyah mengenal aeromodeling saat masih SMA kelas 1. Dia menjadi peserta didik baru yang diminta untuk mengikut ekstrakulikuler.

Saat itu, ada demonstrasi ekstrakulikuler dari kakak kelas. Tiba-tiba, anggota ekstrakulikuler aeromodeling masuk ke kelas membawa pesawat kecil yang terbuat dari kayu.

“Saya merasa penasaran terhadap pesawat kecil dari kayu itu. Mereka promosi aeromodeling. Mereka ingin mencari adik tingkat baru untuk melanjutkan ekstrakulikuler tersebut di SMA 3 Blitar,” ujar Sukma, sapaan akrabnya.

Dia melanjutkan,  saat itu aeromodeling di SMA 3 Blitar merupakan cabor satu-satunya yang ada pembinaannya di Kota Blitar.

Tidak hanya itu, dia termotivasi dengan kakaknya yang kebetulan juga bekerja di GMF Aeroasia Bandara Soekarno Hatta.

Maka dari itu, dia tertarik dan penasaran karena berkaitan dengan membuat pesawat dan menerbangkannya. Lalu, dia memutuskan untuk mendaftar kegiatan tambahan itu.

Dia sempat mengajak teman sekelasnya, tapi tidak ada yang berkeinginan untuk ikut. Sukma ikut ekstrakulikuler itu dan bertemu teman dari kelas lain. Saat itu, aeromodeling memang belum terkenal sehingga kurang diminati.

Namun dari promosi kakak kelasnya bernama Hanif yang ingin mencari adik tingkat baru, dia bisa menjadi atlet.

“Saya tidak berekspektasi untuk menjadi atlet aeromodeling. Bahkan, aeromodeling ada di dua bidang di dalam Pramuka dan olahraga. Tahu bisa jadi atlet, ketika pertama kali ikut lomba. Pertama kali lomba pada 2017 di Lanud Iswahyudi, Madiun,” ungkapnya.

Sudah puluhan kompetisi aeromodeling yang diikuti oleh Sukma. Dari kejuaraan daerah (kejurda), kejuaraan terbuka (kejurka), dan porprov. Dari Madiun, Pamekasan, Jogjakarta, Bandung, Lamongan, hingga Jember sudah pernah diikutinya.

Selama Sukma ikut aeromodeling sejak 2017 hingga sekarang, ada 2 piala dan 8 medali yang diperolehnya.

Porprov sudah ikut tiga kali. Pertama pada 2019 saat masih kelas 2 SMA. Tahun berikutnya, dia ikut porprov lagi. Kemudian, pada 2023 lalu, dia terakhir kali ikut cabor aeromodeling di porprov. Karena Porprov Jatim 2025 maksimal umur 21 tahun sehingga tidak bisa ikut.

“Saya yang belum tergapai pada salah satu kelas lomba di aeromodeling. Ada tiga kelas yakni free flight, control line, dan remote control. Saya sering ikut lomba kelas free light. Syukurnya sering dapat prestasi. Untuk yang kelas control line baru mendapatkan 1 medali di Porprov 2022,” tutur Sukma yang kini sedang mengerjakan skripsi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Menurut perempuan 22 tahun ini, banyak kesulitan saat belajar aeromodeling. Sebab, awal ikut, dia tidak langsung diajarkan praktik menerbangkan pesawat.

Namun, dia diminta untuk membuat pesawat dan diajari teknik menerbangkan pesawat dengan baik memakai alat milik sendiri. Bahkan, untuk membuat satu pesawat, dia butuh berbulan-bulan karena kesulitannya itu.

Lamanya proses pembuatan pesawatan itu tergantung modelnya. Karena, ada beberapa kelas dan pesawat yang digunakan juga berbeda. Tingkat kerumitannya pun tinggi.

Paling sederhana yakni pesawat jenis HLG yang dibuat hanya butuh tiga hari bila sudah profesional, sedangkan bila masih awam bisa sampai seminggu.

“Proses pembuatan satu pesawat memang butuh waktu lama. Karena butuh ketelatenan dan detail tinggi. Karena jika salah 1 mili saja bisa berpengaruh pada pesawat ketika diterbangkan. Selain itu, butuh perasaan untuk dapat menerbangkan agar tidak mudah jatuh,” pungkasnya.(*/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#aeromodeling #prestasi #pesawat #Kota Blitar