BLITAR - Keterampilan Jemi Priya Anggara, perajin barongan asal Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, ini sudah tidak diragukan lagi. Terbukti hasil karyanya diminati warga luar negeri.
Sebuah rumah dengan gaya minimalis tampak sepi saat Koran ini berkunjung. Seorang pria sedang fokus berkutat dengan kuasnya. Dia adalah Jemi Priya Anggara.
Pria yang sejak kecil akrab dengan kesenian tradisional jaranan, ini telah meniti peruntungan melalui kerajinan barongan sejak duduk di bangku SMK.
“Saya tahun 2012 mulai belajar buat barongan,” kenangnya sambil menunjukkan karya pertamanya.
Dia tertarik dengan kesenian jaranan, lantas mengambil jurusan kriya kayu di SMKN 3 Blitar. Selama duduk di bangku SMK banyak belajar dari guru-guru seni ukir dan pahat.
Dia mengungkapkan kunci keindahan barongan selain dari tampilan simetris, ada pada sorot mata barongan. “Nyawanya barongan itu ada pada mata, jadi perlu lebih teliti saat pembuatan,” jelasnya.
Lama proses pembuatan barongan berkisar antara 3-7 hari tergantung ukuran dan kerumitan.
“Ada kerjaan utama soalnya, jadi dicicil sedikit-sedikit sepulang kerja, apalagi mengerjakan pembuatan barongan juga sendiri,” tandasnya.
Dia mendapatkan kepercayaan dari sesepuh jaranan, karena ketekunannya dalam membuat kepala barongan sebagai pengganti untuk barongan bersejarah. Barongan tersebut sudah diganti kepalanya sebanyak tujuh kali, terakhir olehnya.
“Itu jadi pengalaman tak terlupakan, bisa dipercaya untuk membuat kepala barongan yang ada sejak masa Belanda. Apalagi saya saat itu masih bocah, yang 6 orang sebelum saya kan sudah sesepuh-sesepuh, bagi saya suatu kehormatan,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Hal tersebut tak membuatnya berpuas diri. Dia terus kembangkan barongan-barongan dengan model baru agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Tak ada patokan paten dalam pembuatan barongan menjadikan perajin bebas berkarya sesuka hati.
Peminat karya barongan milik pria berusia 28 tahun ini tak hanya wilayah Karesidenan Kediri. Kini merambah ke luar daerah hingga luar negeri. “Yang kemarin pengiriman terakhir ke Kalimantan dan Singapura,” terangnya.
Produk karya tangan barongan miliknya dibanderol sesuai bahan dan tingkat kerumitan. Semakin rumit model yang diinginkan, tambah tinggi harganya.
“Untuk barongan anak-anak Rp 400 ribu sudah saya lepas, kalau yang besar fullset bisa jutaan. Untung sedikit tidak apa-apa, terpenting kan pembeli kembali lagi,” ungkapnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila