Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjuangan Dimas Saifur Rochim hingga Sabet Duta Budaya Jatim, Bullying yang Dialami Jadi Semangat Raih Prestasi

Mohammad Syafi'uddin • Selasa, 21 Mei 2024 | 18:00 WIB

 

 

Nyentrik: Dimas Saifur Rochim tampil dengan pakaian tradisional bermotif batik.
Nyentrik: Dimas Saifur Rochim tampil dengan pakaian tradisional bermotif batik.

BLITAR - Bulyying hingga kekerasan fisik dilalui dan dihadapi tanpa putus asa. Justru berbagai hal yang menimpanya ini membuatnya menjadi seorang yang sabar dan teguh pendirian.

Ini yang memotivasi Dimas Saifur Rochim, warga Desa Kandangan, Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar untuk membuktikan diri sebagai sosok yang mampu menghadapi tantangan dan bisa berprestasi.

Dari dianggap banci, dipalak, dikucilkan, hingga bekal makan dicuri menjadi hal biasa dihadapi oleh Dimas, sapaan akrab Dimas Saifur Rochim. Bahkan hal itu dirasakan saat menginjak bangku sekolah menenagh pertama (SMP).

“Sedihnya itu saat awal perkenalan sekolah dilempar batu. Saya kan yatim sejak kelas tiga SD, jadi enggak mau cerita ke ibu, takut khawatir. Namun tetap saja ketahuan. Saat guru mediasi, jawaban dari guru mengejutkan. Katanya biasa saja bermain hingga berdarah, apalagi kata yang lempar tidak sengaja,” tuturnya.

Kurangnya kasih sayang sosok ayah membentuknya menjadi sosok teguh dan tak pernah patah semangat. Hal inilah yang membuatnya lebih banyak bergaul dan berteman dengan lawan jenis.

Namun, berbagai hal “pahit” itu justru membuatnya kuat, dan membuatnya termotivasi untuk belajar lebih giat.

Bahkan dia kemudian mulai mengikuti lomba-lomba untuk eksistensi dirinya. Mulai lomba model, menyanyi, salawat dan lainnya.

Suport system itu perlu, apalagi di dunia model yang membutuhkan mental kuat. Jadi perlu dukungan dari berbagai pihak seperti keluarga, lingkuangn dan teman. Sayangnya di Blitar itu masih jarang cowok yang terjun di model. Soalnya sering dianggap aneh dan enggak normal,” ujar pemuda 19 tahun ini.

Tempaan berbagai lomba ini membuatnya lebih percaya diri saat tampil di depan umum. Menurut dia, model merupakan pekerjaan atau skill yang tidak bisa dipandang remeh.

“Mulai lagi itu sejak kelas 9 SMP. Saya ditunjuk guru untuk terjun di dunia model mewakili sekolah. Padahal awal karir saya hanya menyanyi. Memang belum percaya diri, namun saya penasaran. Makanya di dalami,” ungkapnya.

Menginjak SMA, langkahnya untuk mendalami dunia modeling semakin kukuh. Berbagai usaha dia lakukan, mulai dari ikut dalam berbagai ajang hingga terpilih menjadi duta sekolah. Tidak puas, dia terus belajar dari berbagai sumber hingga berbagai referensi di media sosial.

Setelah merasa sudah cukup percaya diri. Dia memberanikan diri ikut dalam ajang duta budaya jawa timur. Dalam proses tersebut, berbagai tahapan diseleksi begitu ketat.

Mulai dari tes wawancara, test cat walk, dan uji bakat. “Saya waktu itu menampilkan tari tradisional,” akunya.

Penampilan dan rasa optimis dalam dirinya membuatnya mampu bersaing dengan 200 pemuda-pemudi dari seluruh Jatim. Hingga kemudian dia masuk menjadi 3 besar, meskipun langkahnya harus terhenti.

“Memang saya tidak lolos di tahap semifinal. Namun tidak apa-apa, tak lama setekah itu saya dihubungi Mister Jatim ambassador untuk ikut berperan dalam mempromosikan UMKM, budaya dan wisata,” syukurnya. (ady)

 

Ingin beli koran cetak Radar Blitar cek lokasi agen terdekat anda klik tautan ini https://bit.ly/agenkoranblitar

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #model #bullying #Duta Budaya