BLITAR - Purwanto, warga Kelurahan Kepanjenkidul, Kecamatan Kepanjenkidul, puluhan tahun menelusuri kisah Aryo Blitar.
Yakni untuk membuktikan jejak keberadaan sosok tersebut sebagai tokoh manusia. Bukan sebagai tokoh fiksi.
Purwanto mulai menelusuri sosok Arya Blitar sejak 1994 silam. Saat proses penelusuran beberapa tahun kemudian, dia mendapat sertifikat bimbingan teknis sejarah dari pakar sejarah Universitas Indonesia (UI). Berbekal sertifikat tersebut, dia akhirnya memiliki hak sebagai sejarawan publik.
Pria yang pernah berprofesi sebagai kuli tinta ini memiliki pengalaman saat tulisannya tentang Aryo Blitar terbit.
“Dari situ dipanggil sama Pak Tamsir yang saat itu menjabat sebagai pimpinan redaksi Jawa Anyar. Ditatapnya tajam saya saat itu, entah apa yang dipikirannya, marahkah atau kecewa, wah ini senior sekelas Pak Tamsir membaca.
Saya bertanya-tanya ada apa dengan tulisan saya. Dari sana, saya terpacu untuk terus berkembang,” tuturnya sembari tersenyum.
Selanjutnya, bapak dua anak ini menelusuri sejarah dan melihat terjadinya dualisme pada Makam Aryo. Dalam kisahnya, disebutkan Adipati Nilasuwarna moksa menjadi peri kahyangan. Tentu ini menimbulkan pertanyaan, lantas siapa yang dimakamkan di area tersebut?
Bermula dari situ, Purwanto mencari jawaban atas kebingungannya bersama sejarawan Blitar.
Pada tahun 2017, Dinas Perpustakaan Kota Blitar mengadakan acara sarasehan bertajuk mencari kepastian Aryo Blitar legenda atau sejarah. Namun, hasil dari sarasehan belum menjawab pertanyaan yang ada dalam benaknya.
“Jadi, ada prasasti ditemukan di Gunung Kawi yang mengatakan bahwa Raden Mas Iman Sujono dimakamkan di sebelah Mbah Jugo, yang merupakan cucu Haryo Blitar, sesuai statement Mbah Gudel (pemateri sarasehan) bahwa Aryo Blitar melekat pada gelar Bupati Blitar KBH Warso Kusumo,” terangnya.
Baca Juga: Cerita Pehoby Fotografi Asal Blitar, Tak Sekedar Jepret, Butuh Sering Praktik, Ini Tipsnya
Pria yang menyukai tembang macapat ini mengisahkan bahwa mendapat clue tentang Aryo Blitar melalui buku Atlas Walisongo karangan Agus Sunyoto. Buku itu dirasa lebih riil karena dijelaskan secara rinci kronologi waktu dan tempat secara historis.
Diyakini pada masa itu, Adipati Sengguruh dan Aryo Blitar merupakan kakak-beradik yang dilantik Sultan Demak setelah masa Hindu-Buddha. Ayahnya bergelar Adipati Terung oleh raja Majapahit saat itu. Nama aslinya Raden Kusen.
Setelah Majapahit runtuh, Raden Kusen yang memiliki nama Cina, Kin San, menjadi kapten kapal Cina di Semarang yang memimpin galangan kapal serta pengoperasian pabrik kapal dan mesiu.
Tak tanggung-tanggung, kapal produksinya berhasil memukul mundur Portugis yang menginvasi Jawa melalui jalur laut. Raden Kusen bersaudarakan Raden Kasan yang menjabat sebagai Sultan Demak, Raden Patah.
Raden Kasan dan Kusen merupakan putra dari Arya Damar, salah satu keturunan Kerajaan Majapahit yang diberi jabatan di Palembang.
Itu berdasarkan buku Atlas Walisongo, serta Agus Sunyoto yang melihat manuskrip babat dan arsip dokumen berbahasa Belanda.
Dari situlah, dia memberanikan diri ke dinas pariwasata untuk mengungkapkan bahwa ingin membedah buku yang merangkum kedua buku tersebut. Hasilnya, ada porsi dongeng dan sejarah.
“Secara keilmuan, membandingkan dua buku Kartowibowo dan Agus Sunyoto, ada dasarnya secara akademik. Jadi tidak ngawur,” terangnya.
Klaim atas bahwa yang dimakamkan di area Makam Adipati Aryo adalah Pangeran Balitar, dipatahkan oleh fakta Pangeran Balitar dan ibunya dimakamkan di Kotagede, Jogjakarta.
Alasan mengapa Kesultanan Jogja dan Pakualaman memberikan perhatian khusus pada Makam Adipati Aryo ini karena yang dimakamkan di situ adalah Bupati Srengat, putra Hamengkubuwono I, berdasarkan perjanjian Linggarjati. KBH Reksokusumo tidak dimakamkan di Imogiri seperti ayahnya, tapi dimakamkan di Blitar, sesuai catatan Mbah Gudel.
“Jadi, kesimpulannya, dua nisan di makam itu satu milik Bupati Srengat dan satunya Adipati Aryo yang wafat bersama kakaknya, Aryo Sengguruh. Kakaknya dimakamkan di area Gunung Kapur di Rejotangan, berjajar dengan anak-anaknya yang juga pemangku wilayah,” jelasnya.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Dengan kesabaran, dia berusaha mengumpulkan fakta-fakta sejarah. Dia mengungkapkan kekhawatirannya pada masyarakat yang sudah menganggap folklor sebagai pakem.
Menurut dia, dalam sejarah, ada porsi sejarah yang sesuai dan porsi cerita rakyat secara lisan yang kerap kali menimbulkan salah interpretasi.
Dia berharap buku ini dapat menjawab tentang kebingungan siapa sebenarnya Aryo Blitar dan Aryo Sengguruh yang dimakamkan di Rejotangan. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila