BLITAR - Ditinggal orang tua sejak bocah, menuntun Nadya Agatha Hutagalung bangkit dan mandiri.
Dari situ, dia bisa mandiri dan aktif dalam fashion designer serta Forum anak. Kepahitan perjalanan hidup sejak SMP memaksanya untuk mencari nafkah sendiri.
“Saya mencari pendapatan sejak kelas 9 SMP. Karena tinggal sendiri di rumah. Kakak belum berkeluarga, namun bekerja rantau di Surabaya. Jadi harus cari pendapatan agar bertahan hidup hingga lulus SMA," ujarnya.
Tentu awal ditinggal kedua orang tuanya menjadi momen sulit terlupakan baginya. Perasaan terjatuh dan kesendirian selalu menghantui. Waktu dan keadaan memaksanya untuk bangkit.
Berawal dari suka menggambar saat kecil, perempuan berusia 20 tahun ini memutar otak. Mencari jalan untuk memperoleh pendapatan. Akhirnya, dia meminta izin untuk ikut kakaknya yang memilih bisnis online dan desain.
“Saya selama sekolah membantu kakak jualan online dan bikin baju. Di situ dapat pendapatan,” ungkapnya.
Selain dapat pendapatan, dia juga mulai mengenal fashion designer. Hal itu membuatnya merasa senang dan menekuninya. Apalagi saat desainnya sudah dipentaskan sang model. Ada kebahagian tak bisa diutarakan. “Terpenting merasa puas dan kerja keras tergantikan,” katanya.
Lambat laun, dari pengalaman ikut berbagai ajang fashion designer, kini baju-baju buatannya dipajang untuk disewakan.
Bahkan, banyak orang meminta didesainkan baju untuk dikenakan.
Selain aktif dalam dunia desain baju, dia pun bergerak dalam komunitas forum anak.
Karena merasakan masa kecil yang kelam, dia tidak ingin anak-anak lain ikut sengsara dan terjerumus hal negatif.
“Saya beruntung, karena di luar sana ada banyak anak salah pergaulan, kurang diperhatikan orang tua. Akhirnya tanpa sadar mereka merusak diri sendiri,” ujarnya.
Dia sering menyuarakan isu–isu soal anak. Terutama perceraian orang tua yang berdampak pada tumbuh kembang anak.
Dalam sesi pertemuan dengan para anak, dia sering meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah anak-anak terlantar.
“Anak-anak itu sudah dewasa. Mereka ingin didengar suaranya. Ingin bercerita jika ada kendala.
Tetapi terkadang karena orang tua pisah atau sibuk, kedekatan kurang. Hasilnya, mereka mencari jalan sendiri dan banyak yang salah pergaulan,” ungkapnya.
Dia merasa kasus anak harus diperhatikan semua kalangan. Yakni dengan memperhatikan dan memahami anak.
Ini merupakan modal untuk mengetahui minat dan keinginannya.
Jika diabaikan, anak akan mencari jati diri dan belum tentu akan berhasil. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila