Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Siti Nuril Romdhiyah, Finalis Duta Santri Nasional Asal Blitar, Hafalan 30 Jus Jadi Nilai Plus

Fajar Rahmad Ali Wardana • Kamis, 13 Juni 2024 | 16:02 WIB

 

BERPRESTASI : Siti Nuril Romdhiyah memakai selempang duta santri nasional usai beberapa waktu lalu.
BERPRESTASI : Siti Nuril Romdhiyah memakai selempang duta santri nasional usai beberapa waktu lalu.

BLITAR - Usaha keras dan tak kenal menyerah, membuat Siti Nuril Romdhiyah berhasil menjadi finalis Duta Santri Nasional (DSN) pada 2023 lalu.

Pengalaman selama di Ponpes Bustanul Muta’allimat Kota Blitar benar-benar menjadi bekal utama dalam mengikuti ajang para santri berprestasi tersebut.

Perempuan warga Kelurahan/Kecamatan Kanigoro akhirnya berhasil menyisihkan ribuan para duta santri yang berasal dari seluruh Indonesia.

Meskipun harus terhenti di finalis, namun pengalaman mengikuti ajang nasional ini menjadi bekal berarti bagi Nuril-sapaan karib Siti Nuril Romdhiyah.

“Ini adalah pengalaman yang berharga. Karena banyak hal yang bisa saya dapatkan dalam pemilihan DSN tersebut,” jelas Perempuan yang juga hafidzoh ini.

Menurut Nuril, tak mudah untuk menggapai tangga hingga meraih finalis ini. Karena berbagai persiapan telah dilakoninya.

Meskipun awalnya tidak berniat mengikuti ajang tersebut, namun informasi dari pondok pesantrennya membuatnya merasa terpanggil. Apalagi pasti banyak hal yang bisa didapatkan lewat ajang ini.

“Saya sempat diskusi dengan teman di ponpes. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut ajang duta santri, dengan mengikuti beberapa tahapan seleksi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (12/6/2024).

Perempuan 25 tahun ini harus menyiapkan beberapa berkas adminsitrasi, termasuk didalamnya berbagai sertifikat lomba atau kegiatan yang telah diikuti selama menjadi santri.

Berbagai kegiatan selama di pondok juga menjadi bahan menarik, serta petimbangan pihak penyelenggaran untuk melalui tahapan seleksi awal.

Setelah itu, Nuril mengikuti seleksi wawancara dan dalam tahap ini yang cukup menantang baginya.

Pada seleksi ini, dia diminta untuk menjelaskan hal-hal yang telah dilakukan di pondok pesantren. Selain itu, dia juga diharuskan membuat proyeksi langkah-langkah yang dilakukan ke depan sebagai santri.

“Sebenarnya pada form pendaftaran ada pilihan proyeksi. Saya pilih di bidang sosial kemasyarakatan, karena saat di ponpes sempat membuat progam kerja yang berkaitan pengelolaan sampah, lingkungan dan UMKM,” ungkapnya.

Dari progam kerja yang pernah dibuatnya itu, Nuril membuat pemaparan proyeksi-proyeksi yang memang telah dilaksanakan selama menjadi santri.

Terbukti, dia terpilih menjadi finalis duta santri nasional sebagai top 5. Menariknya, dia berhasil menumbangkan 6 ribu lebih pendaftar duta santri.

Selama menjalani pendidikan di Ponpes Bustanul Muta’allimat, dia cukup sukses menjadi santri.

Selain berbagai kegiatan sosial, kemampuan menghafal Alquran menjadi nilai tambah pada dirinya.

Karena memang tidak mudah menghafal Alquran, karena saat itu harus pintar membagi waktu antara sekolah dengan kegiatan di pondok, khususnya dalam menghafal Alquran.

Mahasiswa psikologi UIN Malang ini membutuhkan waktu 4 tahun untuk menghafal Alquran. Dia menggunakan metode murajaah, agar tetap menjaga hafalan.

Akhirnya bisa menghafal 30 juz Alquran sebelum lulus dari Ponpes Bustanul Muta’allimat atau sekitar 2 tahun.

“Banyak tantangan untuk menghafal Alquran. Karena saya cukup sering mengikuti kegiatan di luar ponpes. Selain itu, saya juga pengurus ponpes beberapa tahun yang lalu. Sehingga harus benar-benar bagi waktu dan memberikan porsi seimbang pada semua hal yang saya ikuti,” pungkasnya. (ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pengalaman #santri berprestasi #Kota Blitar #Duta Santri Nasional