Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Lebih Dekat Sosok Tukiran, Ketua Kader Pendamping ODGJ di Blitar, Bukan Hal Mudah, Dua Sikap Ini Jadi Kunci Utama

Mohammad Syafi'uddin • Jumat, 14 Juni 2024 | 17:15 WIB

 

 

BERSAMA: Beberapa kader dan ODGJ tampak bahu membahu membuat batik.
BERSAMA: Beberapa kader dan ODGJ tampak bahu membahu membuat batik.

BLITAR - Mendidik orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bukan hal yang mudah. Karena tentu harus memiliki sikap sabar dan telaten.

Seperti itulah Tukiran bersama para kader lainnya tergerak dari hati terdalam untuk membina, bahkan hingga memberikan pelatihan. Karena Latihan adalah salah satu bentuk perhatian, yang akan mempercepat kesembuhan.

Beberapa lembar kain batik terbentang di halaman salah satu rumah di Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat. Ternyata kain-kain tersebut merupakan karya ODGJ.

Rumah ini adalah tempat mereka berlatih dan berkarya. Sebelumnya bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai salon kecantikan. Namun, program pelatihan pemberdayaan ODGJ beralih menjadi latihan membatik.

Seorang pria tampak dengan telaten mengajari beberapa ODGJ Teknik dasar membatik. Dia adalah pendamping sekaligus yang melatih beberapa ODGJ, Tukiran.

“Mengajari para ODGJ itu tidak mudah, perlu kesabaran dan ketelatenan dalam membimbing. Kami bersyukur bisa memberikan sesuatu kepada mereka, salah satunya lewat seni membatik ini,” ucap pria yang juga ketua kader ini.

Menurut dia, panggilan hati dan kemanusian yang membuatnya merasa terpanggil untuk ikut membantu dan memperhatikan para ODGJ ini.

Selama ini mereka belum mendapatkan perhatian yang layak, sebagaimana warga normal. Tak hanya sendiri, kini sudah ada 28 kader yang aktif melatih bersamanya.

“Mereka juga membutuhkan perhatian agar bisa pulih dan kembali beraktifitas selayaknya masyarakat pada umumnya. Makanya kami adakan pelatihan agar mereka bisa fokus dan bisa segera sembuh,” ungkapnya.

Mendidik para ODGJ ini menjadi hal yang sangat diperlukan, bukan untuk para kader tapi demi kesejahteraan mereka (ODGJ, Red). Karena obat yang sering diminum, sifatnya hanya untuk meringankan pikiran, sehingga mereka bisa tenang dan fokus.

“Harapanya, dengan melatih fokus ini, mereka akhirnya bisa mandiri dan tidak lagi merasa tegang. Kalau sudah sembuh mereka bisa kembali ke tengah masyarakat,” terangnya.

Proses latihan membatik ini bisa menghabiskan hingga 5 bulan. Karena butuh sabar dan ketelatenan tinggi untuk mendidik mereka.

Karena dalam proses berlatih, ada saja gangguan dan halangan, misalnya tiba-tiba ada salah satu yang kehilangan fokus dan bertingkah aneh.

“ODGJ itu random, sifatnya bisa berubah-ubah tergantung mood. Bisa langsung marah-marah, konsentrasinya mudah teralihkan. Makanya perlu kesabaran dan pendekatan khusus agar pasien ini bisa dikontrol,” jelasnya.

Tidak semua ODGJ bisa diberikan pelatihan, jelas dia, sebab dari 205 ODGJ di Kecamatan Srengat, yang terpilih ada sekitar 11 orang dengan rentan usia 34 hingga 50 tahun. Kualifikasi tersebut juga ditentukan oleh kemauan dan kemampuan mereka.

Kendati tidak semua ODGJ yang dipilih, tapi 11 orang ini merupakan pasien yang sudah stabil, sehingga lebih mudah diarahkan.

Walaupun begitu, dipastikan mereka merupakan pasien yang masih tetap menggunakan obat.

Untuk pelatihan, masing-masing kader harus mengeluarkan iuran sebesar Rp 10 ribu per dua minggu sekali. Karena anggaran yang terbatas, membuat para kader harus terus mengatur ulang jadwal yang telah dibuat.

“Sebenarnya tidak cukup, namun mau bagaimana lagi. Kami tidak bisa memaksa kader kami untuk ikut membayar.

Selama ini belum ada pihak luar yang ikut membantu. Saya berharap ada masyarakat yang tergerak hatinya untuk ikut membantu, khususnya terkait penganggaran,” jelasnya. (ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#sikap sabar dan telaten #pelatihan #Kecamatan Srengat #odgj