Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sakira Ayu Maharani, Penulis Sejarah Blitar, Cinta Literasi hingga Telurkan Sebuah Buku

Muhamad Ilham Baha’udin • Minggu, 16 Juni 2024 | 16:16 WIB
ANGGUN: Sakira Ayu Maharani, selain Duta Literasi Jawa Timur juga pernah menerbitkan buku.
ANGGUN: Sakira Ayu Maharani, selain Duta Literasi Jawa Timur juga pernah menerbitkan buku.

BLITAR - Meskipun bukan berasal dari lingkungan yang menggemari literasi dan buku, tak menghalangi kecintaan Sakira Ayu Maharani terhadap dunia sastra.

Melalui rajutan kalimatnya, dia sukses menerbitkan buku Blitar: Menelusuri Jejak Zaman.

PEREMPUAN 20 tahun ini menceritakan bahwa mulai tertarik dengan literasi sejak duduk di bangku SMP.

Saat itu, dia kerap mengikuti berbagai ajang lomba cipta puisi, bahkan memboyong predikat juara pertama dalam ajang lomba cipta puisi bertajuk Wong Blitar. Kegemarannya tersebut berlanjut di masa putih abu-abu.

Berbagai ajang perlombaan kepenulisan diikutinya, dari puisi, esai, karya ilmiah, hingga buku.

“Lingkungan dan keluarga saya budayanya tidak terlalu tertarik dengan literasi. Memang dari hati saya tertarik dengan sastra, menurut saya, sastra itu indah dan menarik untuk dipelajari,” ujar Sakira, sapaan akrabnya. 

Sementara itu, dalam proses pembuatan buku Blitar: Menelusuri Jejak Zaman, dia membutuhkan waktu yang cukup panjang yakni 8 bulan.

Dia banyak mengambil referensi dari buku-buku sejarah yang ada di Perpustakaan Bung Karno.

Dalam menggarap buku perdana itu, dia perlu menyatukan berbagai persepsi dalam menulis buku tema sejarah.

Warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan ini menyebutkan, bukunya berisi tentang sejarah terbentuknya Kota Blitar.

Tidak hanya itu, menceritakan tata letak Kota Blitar, seiring perkembangan waktu, wisata yang ada, serta membahas Bapak Proklamator Soekarno. 

Semangat terhadap literasi tidak habis hanya menerbitkan satu buku saja. Sakira masih mempunyai proyek untuk menulis buku berkaitan sejarah.

“Ke depan ingin menulis buku sejarah lagi. Tentu perlu proses yang panjang. Karena waktu masih ikut Kangmas-Diajeng 2021, juga dituntut harus meles-tarikan sejarah,” ungkapnya.

Kecintaan terhadap literasi juga ditularkan untuk mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi Duta Literasi Indonesia pada 2023 lalu. 

Tidak mudah untuk menjadi seorang duta literasi, karena harus mempersiapkan berkas-berkas. Selain itu, persaingan cukup ketat karena yang masuk rata-rata sebagai penulis.

Ternyata tidak hanya Sakira yang menjadi duta literasi. Setiap provinsi memiliki duta literasi masing-masing.

Namun, dia memfokuskan progam kerjanya di Jawa Timur, khususnya di Kota Blitar yang dianggap bakal lebih berdampak ke lingkungan sekitar.

“Sudah 7 bulan berjalan, saya menjadi duta literasi. Program kerja saya berjalan dua road show ke sekolah dan webinar online.

Untuk road show fokus ke anak SD, dan webinar online tentang literasi digital,” pungkasnya. (mg1/c1/ady)

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#literasi #menerbitkan buku #dunia sastra