Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Nanang Siswinarto, Pandai Besi Asal Blitar Bertahan di Zaman Modern, Produk Terjual hingga Malaysia

Mohammad Syafi'uddin • Rabu, 19 Juni 2024 | 16:13 WIB

 

TEKUN: Nanang Siswinarto menunjukkan beberapa pisau buatannya yang dipajang di etalase.
TEKUN: Nanang Siswinarto menunjukkan beberapa pisau buatannya yang dipajang di etalase.

BLITAR - Menjadi seorang pandai besi butuh ketrampilan tertentu agar pelanggan tidak lari. Bahkan, keterampilan dan kejelian menjadi kunci dalam mengolah besi menjadi berbagai produk.

Apalagi, produk pisau impor berusaha penetrasi pasar. Momentum Idul Adha menjadi berkah bagi Nanang Siswinarto. Pisau buatannya menjadi buruan panitia kurban.

Bengkel pandai besi di Kelurahan Gedog, Kota Blitar, tampak ramai. Lalu-lalang pekerja bersaing adu cepat dengan putaran alat gerinda yang berdengung menghasilkan cipratan-cipratan kembang api. Mereka tampak fokus menajamkan pisau-pisau yang akan segera dijual.

Seorang pria paro baya terus memantau pekerjaan para pekerja. Dia adalah pemilik bengkel pandai besi yang khusus membuat pisau, Nanang Siswinarto. Satu per satu pisau yang sudah siap jual diteliti.

“Ya, seperti ini kegiatan pandai besi. Bekerja di depan tungku api. Tapi ini lebih mudah. Soalnya, zaman saya dulu masih manual. Sekarang itu sudah menggunakan alat semua,” aku pria 55 tahun ini.

Pria yang sudah menekuni usaha pembuatan pisau lebih dari 25 tahun itu bersyukur masih bisa tetap eksis di tengah terjangan pisau-pisau impor dari luar negeri.

Nah, momen Idul Adha ini menjadi berkah bagianya karena pendapatan dari penjualan pisau cukup menggembirakan.

“Ini sudah terjual sekitar 80 biji untuk berbagai model pisau. Para pelanggan ini sudah memesan sebulan sebelum penyembelihan. Soalnya kami tidak bisa mepet, bahkan sudah menyetok bahan 6 bulan sebelumnya. Soalnya, pembuatan pisau itu tidak gampang. Tidak bisa kalau tanpa persiapan,” ungkap pria ramah ini.

Usaha yang bernaman Nisoku ini merupakan warisan dari ayahnya yang sebelumnya merupakan anggota TNI. Karena sebagian besar tentara memiliki pemahaman tentang senjata secara mendetail, akhirnya orang tuanya mencoba untuk membuat pisau sendiri dan ternyata mendapatkan respons positif dari pasar.

“Karena usaha ini ada peluang dan menghasilkan, saya lalu mencoba meneruskan usaha ayah. Dan kemudian bisa lebih berkembang seperti saat ini,” tuturnya.

Tidak mudah untuk menjadi pandai besi profesional. Bahkan, dia memerlukan waktu selama 10 tahun untuk belajar membuat pisau yang bagus. Dari sini, dia semakin yakin bahwa produk buatannya bisa bersaing dengan buatan luar negri.

“Perajin senjata tajam memang semakin habis, soalnya pandai besi sekarang itu memerlukan teknologi atau alat untuk mempercepat kinerjanya. Jika enggak gitu, akan kalah cepat dengan buatan luar negeri,” ungkapnya.

Dia beryukur tidak harus membeli mesin tempa untuk mempercepat usahanya. Berbekal penasaran, dia membuat alat sendiri dan terbukti bisa beroperasi seperti yang diinginkan.

“Semua alat di sini itu saya buat sendiri. Soalnya, jika beli, selain mahal juga terlalu lama. Uanganya juga tidak ada. Makanya kreativitas yang saya andalkan,” jelasnya.

Menurut dia, pengusaha pandai besi juga merupakan pekerjaan yang membutuhkan skill sehingga tidak bisa dianggap remeh. Butuh beberapa keterampilan seperti ketelitian, kreativitas, dan kemampuan dalam pemasaran.

“Pisau di sini itu pembuatannya kompleks dan prosesnya bermacam-macam. Ada yang desain, menggerinda, menempa, dan membuat sarung. Dari semua proses itu, yang paling sulit menggerinda, soalnya butuh ketelitian agar tidak asal potong,” terangnya.

Dari puluhan tahun pengalaman itu, kini dia mampu membuat berbagai pisau dengan panjang yang berbeda. Tercatat dalam daftar desain miliknya sudah ada ribuan cetakan atau mal pisau yang bisa dibuat.

Harganya bervariatif. Mulai dari pisau dapur seharga Rp 5 ribu, hingga pisau dekoratif dengan harga Rp 7 juta sudah pernah dijual. Bahkan, pedang kehormatan buatannya sudah pernah dibeli oleh orang Malaysia.

“Soalnya itu khusus, dan membutuhkan skill tertentu agar pisau ini bisa bagus dan sempurna. Tapi sejak pandemi, saya enggak menerima pesanan pedang atau senjata khusus, soalnya tenaga ahlinya minus. Makanya butuh waktu untuk kembali pulih,” jelasnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Idul Adha #keterampilan dan kejelian #pandai besi #Kota Blitar