BLITAR - Tidak semua orang bisa menjadi joki kuda. Karena selain nyali, juga harus mengerti karakteristik hewan yang ditunggangi.
Pendekatan dengan kuda adalah hal paling sulit bagi Riska Dwi Cahya. Namun, hal itu sudah dilalui olehnya selama 10 tahun lalu. Kini, dia banyak meraih kejuaraan pacuan kuda.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu cocok dengan pengalaman Rizka Dwi Cahya.
Kegigihannya dalam menunggangi kuda sudah tidak diragukan lagi. Ternyata, ilmu itu warisan sang ayah.
Orang tuanya juga joki kuda dan tentunya memiliki kuda di rumahnya yang berada di dekat lapangan pacuan kuda Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi.
Laki-laki 32 tahun ini menceritakan sudah 10 tahun menjadi atlet berkuda di Kabupaten Blitar.
Baginya, menjadi joki kuda harus memiliki mental yang kuat karena tidak mudah dalam memacu kuda di arena balapan.
Dia butuh 3 tahun untuk terbiasa menjadi joki, karena sebelumnya harus belajar memacu kuda dan merawatnya.
“Saya sudah sejak SMP akrab dengan kuda. Mulai merawat, latihan memacu kuda. Namun bisa dan berani menjadi joki kuda itu ketika lulus SMK.
Berbekal ilmu yang diturunkan oleh ayah, saya memutuskan untuk menjadi joki pacuan,” ujar Riska, sapaan akrabnya.
Riska sudah mengikuti ratusan kompetisi pacuan kuda khususnya di Pulau Jawa. Bahkan, dia sudah hafal semua arena pacuan kuda di Jawa Timur.
Untuk luar Jawa Timur, paling jauh ikut kompetisi di Pangandaran, Jawa Barat. Dia banyak bertemu dengan atlet berkuda nasional dari berbagai kota.
Baginya, yang paling berkesan adalah prestasi yang ditorehkannya ketika menjadi juara di kompetisi pacuan kuda Bantul, Jogjakarta.
Bahkan, dia dapat meraih predikat best sprint dalam ajang pacuan kuda tersebut. Padahal saat itu dia tidak diunggulkan karena lawan-lawannya berat.
Selain itu, kuda yang ditungganginya tidak pernah menang. Saat ini, dia hampir setiap hari latihan berkuda di lapangan pacuan.
Latihan rutin itu dilakukan karena dalam waktu dekat ini ia menghadapi kompetisi kejuaraan nasional (kejurnas) di Bantul dan persiapan PON Aceh 2024.
Tidak jauh dari tempat latihannya karena rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari lapangan pacuan kuda.
“Saya berlatih berkuda ini ada latihan berat dan ringan. Sama seperti manusia, latihan ringan kuda dipacu jalan pelan. Sedangkan latihan berat diajak untuk sprint memacu kecepatan,” ungkapnya.
Menurut Riska, paling sulit dalam latihan berkuda adalah ketika joki harus dituntut menyatu dengan kuda. Joki kuda harus mengerti karakter hewan yang ditungganginya dan itu butuh waktu yang lama.
Baginya, berkuda membutuhkan dua nyawa yang menghasilkan satu tujuan sehingga butuh saling memahami.
Dalam persiapan untuk kompetisi, Riska butuh waktu lebih dari seminggu untuk langsung latihan berkuda di arena pacuan kuda di tempat kompetisi. Seperti beberapa waktu lalu, dia mengikuti kompetisi pacuan kuda di Salatiga.
Dia harus berada di arena pacuan kuda pada H-10 untuk berlatih. Dengan begitu, kuda yang ditungganginya dapat beradaptasi terhadap lapangan dan cuaca.
“Selama jadi joki kuda, saya pernah jatuh beberapa kali. Itu sudah risiko menjadi atlet. Namun untuk cedera parah seperti patah tulang, alhamdulilah belum pernah,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila