BLITAR - Bekerja sebagai bidan dengan hanya kemampuan diploma 1 (D1) bagi Enik Ekowati tidak cukup. Menurut dia, bidan harus punya pengetahuan baik setara sarjana agar keterampilannya lebih mumpuni.
Warga Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, ini pada tahun 2015 silam lulus D4 atau setara dengan strata I (S1) kebidanan.
Aroma obat-obatan langsung menyeruak memenuhi indra penciuman begitu memasuki RSUD Mardi Waluyo. Area poli kandungan nampak lengang ketika Koran ini berkunjung.
Tampak sesosok perempuan dengan senyumnya yang ramah menyapa. Ya, dia adalah bidan paling lama di rumah sakit pelat merah, Enik Ekowati.
“Sejak SMP itu saya kalau lihat perawat pakai seragam putih-putih, pakai cup, rambut panjang digerai, pakai sepatu hak tinggi itu senang sekali. Akhirnya, saya memberanikan diri matur ke bapak,” ungkapnya membuka obrolan.
Berawal dari situ, perempuan yang hampir memasuki usia kepala enam ini menempuh pendidikan di Bethesda Jogja, sekolah profesi keperawatan, dan lulus pada tahun 1987. Setahun kemudian, dia diangkat menjadi salah satu perawat di RS Mardi Waluyo.
“Dulu masih di bangunan yang lama, terus saya tertarik dengan profesi bidan. Berangkatlah saya mengambil D1 program pendidikan bidan di Kampus Soepraoen pada tahun 1994,” katanya sembari mengingat masa lalu.
Tak berhenti di situ, dia melanjutkan pendidikan D3 kebidanan di Universitas Islam Majapahit pada tahun 1995. Kemudian, dia yang sudah 32 tahun menjadi bidan di RS Mardi Waluyo ini resmi dipindahkan menjadi bidan di ruang bersalin.
“Saya lulus D4 kebidanan belum lama ini, tahun 2015 saya lulus dari Universitas Kediri. Selama menjadi bidan semua terasa berkesan bagi saya. Mulai dari patologis, sungsang, ari-ari tidak lahir, ada robekan di mulut rahim semua masih terekam jelas di kepala saya,” ungkapnya.
Menurut dia, meskipun bidan terkenal galak itu karena bukan tanpa alasan. Sebab, bidan dituntut untuk menolong ibu dan anak yang dilahirkan selamat.
Selain itu, bidan harus memastikan perkembangan sang bayi baik hingga memasuki usia kanak-kanak.
“Ya kan, kalau terlalu lama di kandungan atau kepala bayi terjepit di panggul terlalu lama kasihan. Kita itu bukan galak, karena kita juga berurusan dengan nyawa, tentu kita harus memberikan instruksi yang masih kerap di salah artikan masyarakat,” terangnya.
Perempuan kelahiran Ngawi ini berharap semua bidan bisa segera mengambil pendidikan setingkat strata I.
Sebab, sejak 2010 silam semua bidan yang belum lulus D3 dianggap ilegal. Selain itu, dengan menambah keilmuan tentu tidak ada ruginya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
“Kurang 8 bulan lagi saya pensiun, kita dorong bidan-bidan muda ini kalau bisa melanjutkan ke tingkat S1. Sebab, di RS ini dari 38 bidan masih 5 dengan saya yang sudah setingkat S1. Dengan begitu, keilmuan tentang bidan tak hanya berasal dari praktik saja,” pungkasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila