Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Geluti Sejak SMP, Perajin Perhiasan Mamas Asal Blitar Ini Jadi Langganan Emak-Emak di Pasar Tradisional  

Fajar Rahmad Ali Wardana • Kamis, 27 Juni 2024 | 16:05 WIB

 

BERGAYA : Pitoyo memperlihatkan perhiasan mamas karyanya yang terbuat dari tembaga dan kuningan.
BERGAYA : Pitoyo memperlihatkan perhiasan mamas karyanya yang terbuat dari tembaga dan kuningan.

BLITAR - Memiliki perhiasan berkilau tidak selalu mahal harganya. Untuk bergaya dan tidak membuat malu, Pitoyo, warga Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan, bisa menyulap tembaga dan kuningan menjadi lebih berkilau seperti emas alias mamas.

Ditemui Koran ini, Pitoyo sedang membersihkan rumahnya. Maklum, bengkel kerjanya menjadi satu dengan tempat kediamannya beserta keluarga.

Dia baru menyelesaikan produksi perhiasan berbahan tembaga dan kuningan. Sejumlah peralatan produksi dan kerajinan perhiasan setengah jadi terlihat berserakan di meja kerjanya.

Tentu perhiasan itu bukan asli seperti banyak yang dijual di toko emas. Melainkan, terbuat dari campuran tembaga dan kuningan yang dibentuk seperti perhiasan emas asli.

Bahkan bila sudah selesai produksi, tampilannya 70 persen mirip emas asli atau disebut perhiasan mamas (emas istimasi).

“Saya mulai menekuni membuat kerajinan perhiasan berbahan tembaga dan kuningan ini sejak 1990. Ketika masih kelas 3 SMP. Saya belajar dari kakak yang saat itu juga membuat perhiasan ini. Lalu, meminta saya untuk ikut membuat perhiasan ini,” ujar Pitoyo.

Ada berbagai macam perhiasan yang dibuatnya. Seperti gelang, cincin, kalung, liontin, sampai akik dari bahan tembaga dan kuningan. Dia juga membuat desain untuk memodifikasi model perhiasan yang diproduksinya.

“Kalau ada yang pesan, saya menawarkan modelnya. Nanti kalau oke, langsung saya buatkan,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa harga perhiasan tentu bervariasi. Paling murah Rp 30 ribu dan paling mahal Rp 50 ribu per biji. Perhiasan cincin biasanya dijual dengan harga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per biji.

Perbedaan harga karena proses pembuatannya dan juga ada batu yang jadi aksesorinya. “Perhiasan ini bisa bertahan sampai tiga bulan kalau dipakai tiap hari,” ungkapnya.

Tahap akhir pembuatan kerajinan perhiasan jugha harus telaten. Perhiasan setengah jadi yang kondisinya masih kotor dan kasar diamplas menggunakan alat amplas halus dan kasar.

Setelah terlihat agak halus, kemudian dipoles sampai mengkilap. Terakhir ditambahkan serbuk permata atau batu akik agar terlihat lebih berkilau.

Perhiasan yang paling favorit bagi pembeli berupa gelang dan cincin. Pembelinya tidak hanya dari lokal Blitar, tapi ternyata juga Tulungagung dan Kediri.

Biasanya yang memesan pedagang pasar yang menawarkan produknya kepada para pembeli yang datang ke pasar.

“Saya biasanya dalam sebulan memproduksi sekitar tiga kodi perhiasan berbahan tembaga dan kuningan. Saya bersyukur rata-rata masukan sekitar Rp 3 juta dari jual perhiasan ini," pungkasnya. (*/c1/ady)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kecamatan Sananwetan #perhiasan #tembaga dan kuningan