Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dua Santri Asal Blitar Raih Juara Lomba Tingkat Nasional, Sering Kulik Pelajaran Umum usai Kegiatan di Pondok

Mohammad Syafi'uddin • Senin, 15 Juli 2024 | 22:00 WIB

 

TEKUN: Muhammad Azhar Wisnu Octa Putra dan Leilani Olivia Fairahman sukses di lomba olimpiade tingkat nasional.
TEKUN: Muhammad Azhar Wisnu Octa Putra dan Leilani Olivia Fairahman sukses di lomba olimpiade tingkat nasional.

BLITAR - Dua remaja tampak berjalan keluar pondok bersama guru pendamping, Choirul Anam. Mereka ialah Muhammad Azhar Wisnu Octa Putra dan Leilani Olivia Fairahman.

Keduanya merupakan peraih medali perunggu dan perak dalam Kompetisi Nasional Olimpiade Siswa Indonesia 25.

Mereka menuju sebuah warung kopi tidak jauh dari Ponpes Mamba’us Sholihin 2. Suasana tampak lengang saat itu. Beberapa kursi tampak kosong tak ada pengunjung lain. Sambil duduk terdiam, mereka menunggu pesanan yang sudah dipesankan guru pendamping.

Di situlah, guru pendamping memperkenalkan kedua murid kebangganya kepada wartawan Jawa Pos Radar Blitar.

Baca Juga: PDBI Kabupaten Blitar Punya Cara Unik Kenalkan Candi Penataran, Lewat Maskot Drum Band di Perlombaan

Muhammad Azhar Wisnu Octa Putra atau biasa dipanggil Wisnu, yang meraih perunggu, merupakan juara dalam olimpiade matematika dan bahasa inggris. Dalam prosesnya, juara ini tentu tak mudah. Khususnya dalam kesibukannya sebagai santri di ponpes tersebut.

Seperti ponpes pada umumnya, di Mamba’us Sholihin, siswa juga diwajibkan untuk mengaji dan hafalan berbagai macam kitab seperti imrithi, shorof, dan nahwu. Namun, di waktu senggang itu, dia rutin melakukan pembelajaran sendiri. Tidak jarang, berbagai rumus sudah dicoba untuk menemukan jawaban yang dicari.

“Saya suka matematika sejak kelas 8. Soalnya matematika itu ilmu pasti dan gurunya juga menyenangkan. Jadi, saya sering praktik di waktu luang untuk memecahkan persoalan matematika,” ujar remaja kelas 9 SMP ini.

Selain bidang matematika, dalam ajang tersebut, dia juga mengikuti lomba bahasa Inggris.

Menurut dia, lomba bahasa Inggris ini lebih mudah karena dia menyukainya sejak duduk di bangku SD. Dia tertarik mempelajari dan menekuni bahasa Inggris ketika melihat film luar negeri. Dari situlah, dia mulai menekuni bahasa Inggris, khususnya dalam percakapan sehari-hari.

 “Soalnya itu unik bahasanya. Apalagi di sini sering menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari. Jadi berkesan seru aja,” ujarnya.

Selain itu, peraih medali perak dalam olimpiade IPS dan bahasa Indonesia, Leilani Olivia Fairahman, juga mengungkapkan hal serupa. Bahkan, perempuan penghafal Quran ini suka sekali mengikuti berbagai lomba.

“Mungkin sudah ada 20-an lomba pelajaran umum yang saya ikuti. Namun baru kali ini saya bisa juara di tingkat nasional dengan mata pelajaran yang berbeda,” terangnya penuh bangga.

Dengan senyum manis dan suara kecilnya, dia bercerita bahwa awal mula duduk di SMP lebih tertarik pada pembelajaran IPA. Lambat laun, bidang pelajaran lain mulai mengusik penasaranya.

Dari situlah, dia mulai sering berdiskusi dengan guru mata pelajaran dan di waktu senggang suka membaca buku. Termasuk buku sejarah.

“Saya tertarik mengikuti lomba ini karena memang tertarik di bidang IPS. Soalnya membahas sejarah-sejarah Indonesia, seperti perjuangan Indonesia merdeka. Bahkan yang menurut saya paling menarik itu adalah cerita perjuangan pahlawan,” ujarnya dengan malu-malu. (*/c1/din)

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kompetisi Nasional Olimpiade Siswa Indonesia 25 #pondok #juara