Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjuangan Handoko Budi Daya Koi Hingga Sukses Jadi Juri, Berawal Jualan Keliling di Pasar, Kini Sering Bolak-balik Jepang

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 19 Juli 2024 | 19:00 WIB
MEMBORONG:  Handoko  (Tengah) saat  memilih calon  indukan di  Jepang untuk  kolamnya  beberapa  waktu lalu
MEMBORONG: Handoko (Tengah) saat memilih calon indukan di Jepang untuk kolamnya beberapa waktu lalu

BLITAR - Terik matahari siang itu tak menghalangi aktivitas dan semangat para pekerja kolam koi yang berada di tepian sawah belakang SMAN 3 Blitar.

Kolam tersebut tampak ramai dikunjungi orang. Mereka melihat-lihat ikan hias beragam corak dan warna tersebut.

Dari kejauhan, sosok pria paro baya mengenakan topi datang menghampiri Jawa Pos Radar Blitar. Sejurus kemudian mempersilakan masuk. Ya, dialah pemilik kolam koi, Handoko.

“Sudah sejak 1994 saya belajar budi daya. Sebab, paman saya juga punya bisnis ikan konsumsi,” ungkapnya, Kamis (18/7/2024).

Awal budi daya ikan hias, Handoko mendapat suplai indukan dan pakan dari dinas perikanan setempat. Bahkan, dia juga mendapat kolam untuk budi daya.

”Hasilnya dulu dijual di event pameran pembangunan dan area promosi (PPAP) di alun-alun. Saat itu, ikan harganya masih Rp 150 rupiah per ekor,” kenangnya.

Ketika event mingguan PPAP, dia selalu membawa sejumlah akuarium yang di pajang berjajar di pinggir beringin.

Dia tak berharap banyak dari penjualan ikan yang saat itu hanya senilai ratusan rupiah. Kemudian, pada 1996, dia berangkat merantau ke Jakarta untuk bekerja.

Bekerja di Jakarta tidak lama. Cukup tiga tahun karena pada 1998 terjadi krisis moneter hingga akhirnya memutuskan pulang kampung. Di Jakarta itulah, dia mendapat inspirasi berjualan ikan dengan konsep baru.

”Jadi, ikannya itu dijual dengan cara digantung di plastik dan dijual Rp 1.500. Berarti 10 kali lipat dari yang saya jual di Blitar. Saya pun mencoba jualan konsep seperti itu,” bebernya.

Berbekal sepeda pancal dan jeriken bekas yang ditata sedemikian rupa, dia menjajakan ikannya di area Pasar Legi. Tak disangka, dagangannya ludes terjual pada hari pertama berdagang. Dari berdagang dengan konsep seperti itu, dia mampu membeli sepeda motor.

Berangkat dari situlah, dia mulai mengenal para pembudi daya koi. Saling kenal, sampai bertukar pikiran serta pengalaman berbudi daya.

“Saya beli koi sortiran untuk dagangan. Kemudian, ikan yang bagus saya masukkan ke kolam untuk dibudi daya,” jelasnya.

Berkat budi daya tersebut, dia mengenal pedagang-pedagang besar hingga akhirnya bisa memijahkan koi sendiri.

“Hasilnya, pada 2005, saya mulai merambah jualan secara online lewat MMS, grup lelang Messenger, BBM, hingga Facebook,” ungkap Ketua Breeder Koi Indonesia ini.

Badai Covid-19 menjadi momen keemasannya dalam beternak koi. Pasalnya, permintaan ikan hias meningkat tajam termasuk koi. Ratusan paket mampu dikirim dalam sehari. Nominal yang didapat dari pengiriman itu juga fantastis.

Bahkan, dalam sekali kirim, dia bisa mengantongi omzet Rp 25 juta. Ikan dari kolamnya sudah menjelajah seluruh Indonesia. Hasil jerih payahnya selama ini berbuah manis. Tentu itu butuh perjuangan yang tidak mudah.

Meski begitu, pengalaman pahit juga pernah dirasakan Handoko. Pada 2019, dia sempat merugi dan kehilangan mobil pribadinya. Kerugian itu terjadi lantaran 200 ekor indukan mati karena faktor cuaca.

”Tak hanya itu, pernah ada orang iseng yang mencabut suplai oksigen untuk kolam indukan yang tadinya ditawar seharga mobil sampai ikannya mati,” kenangnya.

Kini, selain menjadi ketua Breeder Koi Indonesia, dia juga dipercaya menjadi juri kontes koi skala nasional di berbagai kota di Indonesia.

Kemudian, dia juga sering mengunjungi negara asal koi, yakni Jepang, untuk menambah wawasan dan mengambil stok indukan untuk kolamnya. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#blitar #kolam ikan #ikan koi #budi daya ikan koi #ikan hias