BLITAR - Fikri Sumaryono mempunyai nama panggung Minul Hapsari. Dia sejak kecil sudah menunjukkan bakat seni, terutama dalam bidang tarik suara.
Warga Desa Sumberjo, Kecamatan Kademangan, ini sudah menyadari bakatnya sejak umur 5 tahun atau saat duduk di bangku TK.
Awalnya gemar mengoleksi view compact disk (VCD) tembang-tembang Jawa dan campursari. “Jadi sinden di umur 20 tahun,” ujarnya.
Alasannya jadi sinden lantaran saat itu termotivasi dan mengidolakan sinden Wiwid Widayati dan Cak Diqin.
Selain itu, dia menyadari keunikan suara yang dimilikinya dan ingin mengikuti jejak Manohara yang notabene sinden transpuan.
“Ingin sama juga dengan sosok idola (Manohara) yang bisa menyanyi suara wanita dan pria,” tandasnya.
Dia memulai pekerjaan sinden dengan belajar secara otodidak. Yakni melalui VCD koleksinya dan seiring waktu juga lewat YouTube lagu-lagu Jawa klasik maupun modern.
Saat itu, dia awalnya hanya sebatas menyanyi di acara perpisahan sekolah. Lalu, pada 2013, dia menyinden untuk wayang namun masih berpakaian pria dengan menggunakan blangkon dan beskap.
Kemudian, pada 2017, dia aktif kembali dan memberanikan diri mengubah karakter menjadi sinden ala perempuan.
Menjadi seorang sinden transpuan, Fikri mengakui kesulitan dalam menyeimbangkan identitas dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap harinya, dia banyak berbaur dengan wanita, dan karakter itu sudah melekat pada dirinya.
Pria yang keseharian sebagai penjahit dan perias pengantin itu sudah menerima kondisi tersebut dengan rasa percaya diri, meski memiliki banyak tantangan.
Tantangan sebagai seorang sinden transpuan, termasuk sering dapat deskriminasi dan sorakan pada saat di atas panggung, hingga menjadi bahan bercandaan dan lelucon.
Lambat laun, dia mulai menerima dan terbiasa dengan hal itu sebagai bentuk profesionalitas dalam dunia seni.
”Lama-kelamaan sudah terbiasa dengan candaan dan lelucon. Dunia seni memang begitu, karena untuk hiburan, kuncinya adalah penerimaan diri,” ungkapnya.
Dia kini sudah melanglang buana dari panggung ke panggung. Mulai dari kesenian jaranan, campursari, wayang dan lain-lain.
“Bercita-cita ingin mempunyai nama besar dan membanggakan bapak. Walaupun mempunyai anak yang seperti ini, tetap ingin membuktikan bahwa bisa membuatnya bangga,” katanya.
Di era modern sekarang ini, peran sinden dalam melestarikan kebudayaan Jawa sangat penting.
Maka agar tetap bisa eksis, harus terus belajar dengan mempelajari lagu-lagu Jawa klasik yang sedang nge-tren dan terbaru.
“Untuk teman-teman yang seperti saya, jangan minder kalau punya bakat. Kembangkan semaksimal mungkin. Jika suka kesenian, eksplor lebih jauh lagi dan jangan takut berkarya,” katanya.
Dia pun ingin mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dan menerima perbedaan. Mereka tahu bahwa transgender adalah manusia yang memiliki hak dan kesempatan sama.
“Janganlah kami waria dipandang rendah, karena stigma semua waria nakal. Itu tidak benar. Masih banyak yang baik-baik dan ingin berkarya,” pungkasnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila