BLITAR - Di era modern ini, perempuan bisa mendapat kesempatan yang sama dengan kaum adam.
Banyak perempuan yang berpendidikan tinggi untuk memberi tahu pada dunia bahwa kaum perempuan juga bisa meraih prestasi dan bekerja sebaik mungkin.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kaum perempuan juga memiliki potensi dan kualitas yang apik.
SALAH satu sosok perempuan tangguh itu adalah Mardiana Dhomastuti Renaningsih. Gadis kelahiran tahun 1994 ini memiliki concern dalam bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Saat ini, dia sedang menempuh gelar doktor.
Menurut lulusan Universitas Negeri Malang ini, perempuan juga berhak memiliki pendidikan tinggi. Sebab, mereka juga memiliki hak yang sama untuk turut serta membangun negara.
Meski begitu, perilaku-perilaku yang tidak dibenarkan dalam lingkup pendidikan tentu menjadi sorotan.
Dia mengaku,salah satu oknum guru di masa sekolah menengahnya pernah melakukan bullying pada sejumlah siswa.
Contoh sederhananya, ketika murid tidak bisa menjawab, maka akan dihukum secara fisik maupun melalui kata-kata kasar secara verbal. Di era modernisasi seperti sekarang, tentu hal tersebut sangat tidak dibenarkan.
Menurut perempuan yang juga influencer dan model produk ini, jenjang sekolah mulai dari SD hingga SMA masih memiliki masa depan yang panjang.
Jika terjadi hal-hal yang bisa memicu trauma pada siswa dalam mendidik tentu akan berdampak pada kualitas siswa sendiri.
“Jika belum bisa berlari ya diajari berjalan dulu. Jika belum bisa berjalan diajari merangkak,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, hal tersebut telah diterapkannya dalam mendidik sejumlah siswa pada salah satu SMP swasta di Kota Blitar, tempatnya mengajar, beberapa waktu lalu. Hal itu memberikan dampak positif pada siswa yang diampunya.
Untuk mengembangkan hal itu, perempuan ini terjun dalam bidang politik dan tengah menjadi kader muda Partai Demokrat.
Hal itu juga terinspirasi dari para tokoh politik yang berpengaruh. Seperti, Ratu Sima dan sosok Bung Karno.
Bung Karno adalah sosok yang kompleks. Selain pandai dalam politik, beliau juga pandai dalam beretorika atau berorasi.
“Ibarat kata, ketika beliau berorasi, kata-katanya bisa mengenyangkan perut masyarakat selama dua minggu kala itu,” katanya.
Perempuan berdarah Jogja-Solo itu juga pernah diberi wejangan oleh leluhurnya yang berbunyi “Putraku kulup wong agung kang sami mengku negari tetepa iku minangka wakiling sang murbeng Bumi Kinen rumeksa ing praja wajibe kang pasal siji,” yang artinya.
“Ananda seorang besar, para penguasa negara yang ditetapkan sebagai wakil Yang Maha Kuasa untuk memelihara tertib negara adalah kewajiban pertama,”.
Karena itu, dia sebagai salah satu keturunan dari leluhurnya memiliki kewajiban untuk turut serta dalam membangun negara.
Dengan demikian, perempuan juga memiliki hak yang sama dengan kaum pria dalamberbagai hal. (mg1/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila