Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Paguyuban Seni Jaranan Turonggo Mekar Budoyo Asal Blitar, Begini Kisahnya Hingga Bisa Bertahan Empat Dekade

Didin Cahya Firmansyah • Rabu, 7 Agustus 2024 | 22:00 WIB
TETAP EKSIS: Paguyuban Seni Jaranan Turonggo Mekar Budoyo tetap butuh bantuan pemerintah untuk kelengkapan alat seni.
TETAP EKSIS: Paguyuban Seni Jaranan Turonggo Mekar Budoyo tetap butuh bantuan pemerintah untuk kelengkapan alat seni.

BLITAR - Paguyuban seni jaranan Turonggo Mekar Budoyo termasuk kelompok yang terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman dalam melestarikan kebudayaan Jawa.

Paguyuban yang berdiri sejak tahun 1982 ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama dan struktur organisasi. Namun, semangat untuk melestarikan seni jaranan tetap berkobar di hati para anggotanya.

"Awalnya, paguyuban ini dibentuk sekelompok pemuda yang memiliki minat yang sama terhadap seni jaranan," ujar Ketua Paguyuban Seni Jaranan Turonggo Mekar Budoyo, Sudarmono, Selasa (6/8/2024).

Perjalanan paguyuban ini sangat dipengaruhi para sesepuh lingkungan Desa Sumberdadi yang berperan sebagai penasihat.

Mereka memberikan dukungan moral dan spiritual bagi para anggota. Struktur organisasi paguyuban ini terbilang sederhana dengan ketua, wakil ketua, bendahara, dan beberapa penasihat.

Paguyuban ini sangat aktif mengadakan latihan rutin dua kali seminggu, yaitu pada Kamis dan Minggu malam. Selain latihan, mereka juga mengadakan pertemuan rutin internal setiap dua bulan sekali serta menjalin silaturahmi dengan paguyuban jaranan lainnya.

Dalam pengambilan keputusan, paguyuban menganut prinsip musyawarah mufakat. Ketua mengambil keputusan dengan pertimbangan masukan dari para penasihat.

"Kami selalu berusaha untuk melibatkan semua anggota dalam pengambilan keputusan," terang Sudarmono.

Sumber dana utama paguyuban berasal dari iuran anggota dan hasil pentas. Meski demikian, paguyuban belum pernah menerima bantuan dari pihak luar.

"Kami mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel. Hasil pentas dibagi rata kepada anggota setelah dikurangi biaya operasional," jelasnya.

Salah satu tantangan yang dihadapi paguyuban adalah keterbatasan alat kesenian. Paguyuban ini masih membutuhkan beberapa alat termasuk gamelan dan perlengkapan panggung.

Selain itu, persaingan harga dalam dunia seni pertunjukan juga menjadi tantangan tersendiri. “Maka, kita harus terus tambah kreatif dan kompak,” katanya. 

Paguyuban terbuka bagi siapa saja yang tertarik untuk bergabung. Anggota baru diwajibkan membayar uang pendaftaran sebagai bentuk komitmen terhadap organisasi.

Untuk membina anggota baru, paguyuban mengadakan latihan rutin dan menciptakan suasana kekeluargaan.

"Kami juga berusaha untuk melestarikan pengetahuan dan keterampilan seni jaranan kepada generasi penerus dengan melibatkan anak-anak sejak dini," tandasnya.

Harapan terbesar paguyuban adalah agar seni jaranan tetap eksis dan semakin berkembang. "Kami ingin paguyuban ini tetap kompak dan kualitas pertunjukan kami semakin meningkat," ujarnya.

Dari paguyuban, dia berharap pemerintah dan masyarakat dapat memberikan dukungan lebih terhadap pelestarian seni jaranan.

"Kami membutuhkan bantuan untuk pengadaan alat kesenian dan pengembangan kreasi seni jaranan," pintanya.

Masyarakat juga diharapkan dapat memberikan dukungan dengan cara mengundang paguyuban untuk mengisi acara.

Anggota paguyuban ini berasal dari berbagai kalangan mulai dari pelajar hingga petani. Mereka menjadikan seni jaranan sebagai hobi dan sarana untuk bersosialisasi.

Meski demikian, mereka tetap mampu menyeimbangkan antara kehidupan pribadi, pekerjaan, dan aktivitas di paguyuban.

Seni jaranan tetap relevan hingga kini karena mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. "Kami menggabungkan musik tradisional dengan musik modern sehingga menjadi lebih menarik bagi generasi muda," pungkasnya. (*/c1/din)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#seni jaranan #Paguyuban #blitar #Turonggo Mekar Budoyo