BLITAR - Masa depan anak bisa dipengaruhi keputusan orang tua sejak dini. Termasuk dirasakan Ishmatu Aulia Rizky Kirana yang menjadi winner pada Duta Wisata Gus Jeng Kabupaten Blitar tahun 2023-2025 serta pegiat literasi.
Ishmatu Aulia Rizky Kirana Aulia mengungkapkan bahwa keberhasilan yang perolehnya sekarang ini merupakan hasil dari keputusan orang tua. Sebab sejak dini, kedua orang tuanya sudah mengenali bakatnya.
“Saat TK itu ada psikolog yang mengadakan tes minat bakat. Dari situ kedua orang tua saya tahu bahwa anaknya lebih condong ke cerdas linguistik. Lantas orang tua saya membimbing dan mendukung ke berbagai bidang yang ada hubungannya dengan skill komunikasi,” terang Aulia, sapaan akrabnya.
Selayaknya anak pada umumnya, dengan mengetahui bakat maka bisa mudah diarahkan. Namun jiwa memberontaknya masih bergemuruh saat itu. Arahan orang tua yang sabar dan taleten membimbingnya membuat Aulia semakin nyaman.
Terlebih saat dia sudah menemukan perasaan bahagia ketika jiwanya sudah berbaur dengan dunia sosial. Titik balik ini baru dirasakan saat di SMA ketika ibunya mengarahkannya untuk masuk dalam pemilihan Duta Wisata Kabupaten Blitar.
“Saya awalnya mempertanyakan keinginan tersebut. Belum pernah ikut lomba dan ada rasa takut. Saya hanya pernah ikut kursus public speaking dan pambiwara bahasa Jawa. Saat mendaftar dan mengikuti sosialisasi, saya baru menemukan kebahagiaan terutama ngobrol dan bertemu orang baru. Saat saya takut itu, ibu tetap membujuk dan bela-belain mengawal dan mengantar,” kenang warga Desa Satreyan, Kecamatan Kanigoro.
Perjuangnya orang tuanya kini telah membuahkan hasil. Perempuan yang dulu sempat malu dan minder ini bisa graduation tepat waktu. Bahkan memperoleh predikat best student dalam ajang yang digelar pemerintah tersebut.
Dari pengalaman dan dukungan itu, kepribadianya perlahan berubah. Dia kini menginisiasi dalam sebuah program Gerakan Mendongeng Bina Literasi Budaya berkerjasama dengan dinas perputakaan dan arsip (dispusip). Dalam program pengabdian tersebut, dia ingin menyuarakan pentingnya ilmu pengetahuan.
Langkahnya dimulai dengan membawa cerita dongen rakyat dan sejarah Indonesia. Harapan agar generasi muda khususnya anak-anak tidak lupa perjuangan dilakukan pahlawan.
Menurut dia, dengan melakukan program ini akan memberikan akses lebih luas kepada anak-anak terutama di daerah-daerah yang minim akses literasi.
“Saya beruntung memiliki orang tua baik hati. Saya sadar di luaran sana ada banyak anak-anak tidak beruntung. Saya harap orang tua harus peka terhadap hobi anak, agar masa tujuannya bisa terarah. Anak membutuhkan dukungan dan dorongan,” terang mahasiswa ITS Surabaya ini.
Dia berharap dengan semakin banyak orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan dan keinginan anak (tidak memaksakan kehendak). Bisa menuntun kepada hal lebih baik, terutama dengan adanya orang tua selalu mendukung berbagai kendala dan masalah terjadi. Dengan semangat dan dorongan positif ini dipastikan anak akan sukses atau setidaknya memiliki kepercayaan diri tinggi.
“Orang tua itu enggak boleh egois. Harus ditanyakan dulu ke anaknya, diobrolkan agar orang tua dan anak ini memiliki tujuan sama. Sehingga orang tua dapat mengetahui potensi yang dimiliki anaknya,” ungkapnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila