BLITAR - Tak banyak pemuda saat ini yang peduli akan lingkungan sekitar serta segala sesuatu di dalamnya.
Tak seperti Dimas Bagus Pratama, warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, yang gemar mencari peluang dari potensi pengolahan limbah.
Teriknya matahari siang itu tak menyurutkan beragam aktivitas di Pasar Templek, Kota Blitar. Dari kejauhan, tampak sosok pria berambut gondrong sedang memilah sampah sayur-mayur di tengah pasar. Iya, dia adalah pegiat lingkungan, Dimas Bagus Pratama.
“Awalnya, pada 2022 itu menjadi narasumber untuk dinas pertanian dan ketahanan pangan. Kala terjadi kelangkaan pupuk dan subsidi dicabut. Nah, dari situ, bersama para petani membuat pupuk organik untuk program pola tanam padi sehat,” ungkapnya membuka obrolan.
Pria asal Kota Gudeg ini menceritakan alasan memutuskan tinggal di Bumi Bung Karno ini. Di antaranya, karena sambutan hangat dari berbagai komunitas lingkungan hingga literasi.
Selain itu, pemerintah juga sangat terbuka dengan komunitas yang tengah dikembangkannya.
“Iya, dari berbagai sektor bisa jadi saudara serta memiliki visi yang sama sebagai pelayan alam. Komunitas lingkungan maupun literasi ini juga bisa diajak berkarya bersama, begitu pun sektor pemerintah yang memberikan apresiasi yang bukan sekadar janji,” jelas Co-Founder Tani Remen Budoyo ini.
Dimas, sapaan akrabnya, telah malang melintang meniti karier di berbagai bidang pekerjaan. Akan tetapi, dia memutuskan berhenti bekerja pada 2016 silam dan lebih memilih fokus pada kegiatan alam.
Mulai dari berkebun, bertani, beternak, hingga mengolah sampah. Meskipun menyukai kegiatan alam, dia mengaku bukan berasal dari jurusan pertanian, melainkan jurusan teknik sipil ketika berkuliah.
“Karena merasa kok hidupku gini-gini aja, monoton. Kecil, gede, sekolah, kerja, mati. Nah, sebagai orang Jawa, setelah tahu konsep sangkan paraning dumadi, sedulur papat limo pancer, dari situ jadi tahu arti hidup. Apalagi ditambah setelah keliling Indonesia. Ternyata di Bali, NTT, Sulawesi, hingga Kalimantan, ada kebudayaan yang sama benang merahnya, harus hidup selaras alam,” bebernya.
Dari situlah, dia memutuskan grand design atau konsep hidupnya melalui berbagai kegiatan kemanusiaan.
Baca Juga: Pasca Putusan MK Soal Pilkada 2024, Delapan Partai Nonparlemen di Blitar Setuju dan Gelar Deklarasi
Di antaranya, menjadi salah satu relawan berbagi makanan pada sesama yang membutuhkan, menjadi relawan ambulans, hingga relawan orang sakit yang terkendala finansial.
“Pernah juga dulu buka usaha kecil-kecilan, namun akhirnya memutuskan untuk fokus pada perbaikan alam. Nah, sampah-sampah yang kerap dianggap remeh ini sebenarnya bisa bermanfaat. Proyek terdekat bersama dengan rekan-rekan pasar ini mengolah sampah pasar yang dalam seharinya bisa mencapai 1 ton,” jelasnya.
Selain itu, sampah-sampah tersebut bisa menjadi pupuk organik bagi pertanian selaras alam di Kota Blitar yang hasilnya begitu bagus.
Bersama rekan-rekan komunitasnya, dia berkarya mengembangkan konsep selaras alam untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia.
“Tentu harapan kami, Bumi Bung Karno ini tetap menjadi kota yang nyaman dengan mempertahankan berbagai kebudayaan yang ada.
Selain itu, sektor pertanian, pasar, dan ternak ini juga kebutuhan dasar manusia, maka kami berkomitmen untuk mewujudkan hal-hal sederhana yang selaras dengan alam,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila