BLITAR - Duta wisata dituntut memiliki keterampilan yang antimainstream dan multitalenta. Selain membawa nama daerah ke tingkat regional hingga nasional, juga menjadi ajang unjuk bakat bagi anak muda.
Hal itu sedang diwujudkan oleh Davin Gildas Gunawan, yang kini sedang menempuh tahapan pemilihan Raka-Raki Jatim (Jawa Timur). Usai sukses menjadi Gus wakil II Kabupaten Blitar pada 2021 lalu.
Dalam uji keterampilan, Dalvin sapaan akrabnya menampilkan bela diri karate dan kesenian barongan asli Blitar.
Penampilannya itu sukses membuat peserta lain dan juri terpukau, karena ada hal ekstreme yang ditampilkan pada 21 Agustus lalu.
Tahapan pemilihan Raka-Raki Jawa Timur ini masih panjang, sejak Juli hingga grand final pada Okotober nanti.
“Saya tampilkan barongan karena kesenian asli Blitar dan termasuk keterampilan yang saya kuasai. Untuk latihan dua keterampilan ini selama seminggu. Karate, saya sudah cukup menguasai. Sedangkan barongan, saya latihan bersama dengan senior. Agar dapat membuat tampilan yang bagus dan gagah,” ujar Dalvin.
Warga Kelurahan Jegu itu mengamati peserta lain terlihat terpukau ketika dia memainkan pecut barongan. Peserta lain merasa kaget karena suara pecut seperti mercon, apalagi ditampilkan saat pembuka.
Tidak hanya itu, peserta lain juga terpukau saat Dalvin melakukan salto dalam penampilan karatenya.
Dia melakukan improvisasi dengan akrobatik, untuk menjadi pembeda dalam penampilannya. Bahkan juri juga tertarik dengan penampilan karate yang disuguhkan oleh Dalvin.
“Kalau barongan saya suka dari kecil, namun baru menekuni ketika SMA menuju kuliah. Sebenarnya ingin menekuni barongan dari dulu, tapi almarhum ibu saya punya salon. Ada orang bilang ibunya salon, kok anaknya barongan,” tuturnya.
Padahal orang tuanya merupakan seorang menari dan berkeinginan ada regenerasi seni. Sehingga baru menekuni barongan atau jaranan ini masa akhir SMA, dengan bergabung di paguyuban seni di desanya. Namun dampak omongan orang lain itu, dia lebih dulu menekuni dunia bela diri sejak SD.
Masuk dunia karate pun Dalvin dipaksa orang tuanya, karena tidak ada kegiatan di rumah. Meskipun begitu, dia justru tertarik dan menikmatik usai latihan bersama anak-anak yang lain. Apalagi keterampilan itu dapat menjadi landasan untuk melindungi diri sendiri.
Bahkan Dalvin menularkan banyak prestasi karate ketika SMP dan SMA. Puncaknya, pada kelas 10 SMA, dia sukses meraih medali perunggu dalam ajang kata beregu putra junior di kejuaraan karate terbuka tingkat internasional di Surabaya pada 2019 lalu.
Terakhir, pemuda 20 tahun ini juga berhasil menjuarai kejuaraan karate Bupati Cup se- Jawa Timur, kelas kata beregu. Sampai saat ini Dalvin masih menekuni karate hingga dapat ditampilkan di ajang Raka-Raki Jawa Timur.
“Saya menargetkan bisa masuk 5 besar dalam Raka-Raki. Namun jika melihat uji keterampilan, saya percaya diri untuk dapat meraih predikat Raka berbakat bila tidak masuk 5 besar,” pungkasnya. (*/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila