BLITAR - Pendekatan emosional menjadi salah satu kunci bagi aparat kepolisian, tak terkecuali Brigadir Abriana Trisna, S.H.
Polisi wanita (polwan) asal Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, ini dalam berkomunikasi dengan terduga (TO) selalu gunakan pendekatan yang humanis.
Dampaknya, melalui komunikasi itu dapat terjalin ikatan agar TO tidak kembali melanggar dan meneruskan hidup lebih baik.
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan selama menjadi polwan adalah ketika menangani kasus sindikat narkoba.
Setelah dicek di lokasi, TO merupakan seorang perempuan dengan kondisi hamil besar. Melihat itu, dia tergerak untuk melakukan pendekatan emosional.
“TO saat itu mengaku terpaksa menggunakan narkoba karena ditinggalkan suami dan keluarga, karena hamil di luar nikah. Saat itu, TO merupakan pengguna sekaligus pengedar, namun kami berhasil mengamankan sindikat jaringan di atasnya,” ungkap perempuan yang juga BA Satresnarkoba Polres Blitar Kota tersebut.
Menurut dia, kebanyakan kasus baik perempuan maupun anak yang menggunakan narkoba itu berasal dari keluarga yang kurang harmonis atau didasari dari kurangnya kasih sayang.
Dari hal itu, seseorang mencari pelampiasan lain sehingga terjerumus pada hal-hal negatif termasuk narkoba.
“Bulan ini juga kami amankan dua anak tersandung kasus narkoba ya, tapi anak laki-laki masih remaja. Melalui pendekatan psikologis dan ngobrol, sebetulnya anak-anak yang terjerumus seperti ini kalau diajak ngomong sebenarnya baik-baik bisa kok, tapi mungkin salah pergaulan,” terangnya.
Kendati background-nya bukan penyidik, dia selalu dilibatkan apabila TO seorang perempuan atau anak-anak.
Hal tersebut lantaran dia pernah berada di bagian reserse khusus perempuan dan anak selama dinas di Polsek Sanankulon pada 2014 hingga 2016.
“Terkadang juga miris melihat kaum perempuan yang terjerumus hal seperti itu, apalagi karena berbagai tuntutan ekonomi. Saat razia hiburan malam, ternyata ada banyak perempuan di bawah umur terpaksa melakukan hal itu,” ujarnya.
Ketika Razia, dia tak melewatkan kesempatan untuk lebih “mengobrol” dan sharing dengan yang bersangkutan. Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi beban perasaan TO.
“Kalau sesama perempuan mungkin bisa lebih dari hati ke hati ya. Barangkali selama ini TO juga tidak memiliki tempat bersandar atau bercerita,” jelasnya.
Melalui obrolan singkat itu, dia selalu memotivasi perempuan maupun anak-anak agar semakin berdaya dan meneruskan kehidupan lebih baik. Sebab, para remaja itu masih memiliki masa depan yang panjang.
“Alhamdulillah, dari TO yang pernah saya tangani, belum ada yang ketemu lagi. Semoga mereka benar-benar menjalani hidupnya dengan baik,” pungkasnya. (ham/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila