Cerpen Oleh: Wawan Susetya*
GUNDAH-GULANA. Barangkali kata itulah yang mewakili perasaanku. Ketika usia sudah memasuki kepala tiga (30 tahun) dalam keadaan masih membujang alias jomblo, perasaan siapa yang tidak gundah? Boleh jadi orang kebanyakan tentu juga mengalami perasaan yang sama ketika pada usia 30 tahun belum menemukan jodohnya. Kemana-mana lebih sering sendirian kalau tidak sedang bersama teman.
Barangkali seperti yang dialami kebanyakan orang hingga diabadikan dalam lagu-lagu bahwa keadaan laki-laki maupun perempuan yang masih membujang biasanya diungkapkan makan tak enak dan tidur pun tak nyenyak. Aku pun benar-benar mengalami perasaan seperti itu. Entah karena kurang banyak kegiatan yang bersifat fisik atau bagaimana, lebih-lebih karena aku menjadi penulis buku, maka godaannya yaitu melamun atau setidaknya membayangkan kapan aku menemukan jodohku.
Dan, naifnya lagi kalau ketemu dengan kawan-kawan yang lebih senior atau kerabat dekat hampir bisa dipastikan selalu menanyakan: Kapan kamu menikah, Wan?
Kalau ndak begitu, ada pula yang meledek. Soal jodoh, ndak usah terlalu pilih-pilih Wan! Kalau terlalu pilih-pilih jangan-jangan nanti malah dapat yang boleng (kondisi tidak baik lagi atau rusak)!
Yang lain ikut menasihati. Pokoknya kalau sudah sama-sama cocok, ndak usah tunggu lama-lama. Langsung menikah aja!
Di antara para relasi teman-temanku itu ada pula yang memberikan pandangan dengan menggunakan falsafah Jawa. Soal jodoh itu memang takdir dari Gusti Allah yang musti diupayakan. Yen durung entuk calon, geneya kok kesusu, trus apa sing diburu? Suwalike yen wis ketemu, geneya kok diulur-ulur nganti suwe, trus apa sing dienteni? (Kalau belum menemukan calon, kenapa terburu-buru, lalu apa yang dikejar? Sebaliknya, kalau sudah menemukan calon jodohnya, kenapa kok ditunda-tunda sampai lama, lalu apa yang ditunggu?!
Begitulah komentar, celetukan atau bahkan nasihat kepadaku entah dari kawan maupun keluarga dekat. Tak jarang, di antara mereka terutama dari keluarga dekat ada yang mengingatkan kepadaku tentang pentingnya bobot-bibit-bebet yang menjadi tradisi pernikahan dalam budaya Jawa. Wajar kiranya jika di antara keluargaku ada yang memberikan saran atau nasihat mengenai hal itu kepadaku. Ya maklum karena aku dilahirkan dan dibesarkan di daerah Tulungagung yang dikenal dengan Mataraman.
Tentu nasihat itu bersifat islami karena maknanya positif. Setidaknya aku dapat memetik pelajaran mengenai bobot-bibit-bebet itu mengenai keseimbangan. Bobot itu berkaitan dengan calon pengantin laki-laki maupun perempuan yang diharapkan memiliki kualifikasi yang setara atau sebanding. Bibit berkenaan keadaan orang tua calon mempelai pengantin yang diharapkan juga memiliki nasab (trah keturunan) yang sama-sama baik.
Dan, bebet itu menyangkut status sosial atau mengenai perekonomian dari keluarga calon pengantin yang diharapkan memiliki kadar yang sama atau tidak terlalu njomplang. Benang-merahnya mengenai keseimbangan dari calon mempelai baik laki-laki maupun perempuan.
Barangkali itulah pesan penting nasihat para leluhur Jawa dulu kepada anak cucunya agar pernikahan mereka menjadi langgeng sebagaimana diilustrasikan dalam Tembang Dhandhanggula: Pamintaku nimas sidoasih, atut runtut tansah reruntungan, ing sarina sawengine, datan ginggang sarambut, lamun adoh caketing ati, yen cedhak tansah mulat, sidoasih tuhu, kaya mimi lan mintuna, ayo nimas bareng anetepi wajib, sidoasih bebrayan. (Permintaanku kepada adinda tersayang, senantiasa lengket dan bersama-sama, pada siang maupun malam, tak terpisahkan walau sehelai rambut, ketika jauh terasa dekat di hati, kalau dekat selalu terlihat, adinda tersayang bagaikan seperti mimi dan mintuna (nama binatang di laut yang selalu bersama-sama), marilah menjalankan kewajiban dalam kehidupan berumah tangga atau pernikahan).
Begitulah hari-hariku selalu dilimputi perasaan ingin segera menikah. Maklum karena usiaku terus bertambah dari kepala tiga. Rasanya tak ada keberanian atau tak memiliki PD (percaya diri) dalam keadaan seperti itu. Saat ini aku memang hanya menjadi penulis lepas (freelance) seperti menulis artikel dan cerpen di media massa selain menulis buku. Padahal sebelumnya aku pernah menjadi wartawan di media massa cukup besar di Kota Malang dan menjadi dosen kampus swasta ternama di sana. Tetapi entahlah saat itu aku masih belum terpikir mengenai jodohku hingga akhirnya aku memilih pulang kampung di suatu desa Tulungagung dalam keadaan masih membujang.
Entah sudah berapa kali saja aku diajak nontoni (melihat atau diperkenalkan) dengan perempuan yang masih single. Aku masih ingat ketika familiku di Malang, Bulik Eli, memperkenalkan dengan putri temannya yang menjadi guru SD negeri. Aku juga masih ingat ketika familiku Tante Mini memperkenalkan dengan temannya di Pasar Ngunut yang berjualan asesoris.
Bahkan Pak Mundzir seorang kyai kecil di tetangga desaku pernah mengajakku mengenalkan beberapa orang perempuan kepadaku; ke daerah Jombang dan Jakarta untuk nontoni keponakannya serta seorang dosen perempuan tetangga desanya. Tak ketinggalan pula Mbak Tin, saudara sepupuku yang pernah mengenalkanku dengan saudara suaminya di Kediri. Juga Mas Didik saudara sepupuku yang mengenalkan teman istrinya di Trenggalek. Bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi. Kalau dihitung-hitung barangkali sampai belasan kali aku diajak nontoni seperti itu. Tetapi entahlah, dari sekian banyak perempuan itu rasanya masih belum ada yang cocok di hati.
Dalam keadaan gundah-gulana dan kesepian seperti itu, untungnya ada pelarian positif yang kulakukan. Selain banyak membaca buku-buku agama, saat-saat seperti itu aku lebih banyak bersilaturahmi ke rumah Mbah Daim di pelosok desa yang jauh dari kota. Aku bersama saudara sepupu sekaligus sahabatku Mas Didik sering menghabiskan malam-malam kami di hadapan seorang Mbah Daim guru spiritual yang sangat waskitha (memiliki ketajaman mata hati).
Meski kami berdua sering sowan (menghadap) Mbah Daim pada malam-malam hingga subuh, tetapi orang yang berusia 80-an tahun itu hampir-hampir tak pernah menyinggung soal pernikahan. Tetapi, malam itu Mbah Daim menanyakan kepadaku dan Mas Didik; mengapa kami berdua belum menikah? Tentu saja kami berdua berkata jujur.
Karena sudah waktunya, kalian berdua hendaknya segera menikah, kata Mbah Daim memecah kesunyian malam itu di padepokannya yang terbuat dari gedhek (dari anyaman bambu) kira-kira berukuran 3 x 5 meter.
Aku pun terperanjat. Kulihat Mas Didik pun juga merasa kaget.
Ini kelihatannya pernikahan Wawan dan Didik itu bersamaan ya, tapi sebenarnya ya tidak. Pokoknya nanti kalau duluan Didik, setelah ya pernikahan Wawan.
Nggih (iya), Mbah, jawab kami berdua sembari menundukkan kepala.
Akhirnya Mbah Daim memberikan nasihat kepadaku, Makanya Wawan yang rajin tadarus (membaca) Alquran dan membaca Salawat Nabi (Muhammad SAW) ya, semoga dimudahkan oleh Gusti Allah mendapatkan jodoh seperti widadari (bidadari).
Matur suwun (terima kasih), Mbah.
Seiring perjalanan sang waktu, aku dan Mas Didik berusaha mengamalkan seperti dhawuh (apa yang dikatakan) Mbah Daim; dalam keseharian berusaha mengingat Allah (dzikrullah). Tadarus Alquran, membaca Salawat Nabi, berdzikir Asmaaul Husna, dan sebagainya. Sebagaimana halnya yang telah kulakukan dengan rangkaian nontoni (perkenalan atau melihat perempuan), Mas Didik pun juga demikian. Bahkan dia malah lebih banyak rentetan proses nontoni tersebut hingga keluar kota.
Suatu hari, Mas Didik bertandang ke rumah dengan berseri-seri wajahnya. Nampak wajahnya kelihatan njenthara (bersinar) tak seperti biasanya yang nampak lusuh tak bersemangat.
Alhamdulillah Wan, aku sudah menemukan pilihan calon jodohku, katanya sambil mengepulkan asap rokok di bibirnya.
Alhamdulillah, orang mana Mas? tanya merasa penasaran.
Daerah Ketanon, dekat kota.
Siapa namanya?
Hanik.
Bahkan, sebelum itu Mas Didik telah bersilaturahmi ke Mbah Daim untuk men-sokeh-kan perempuan pilihan ibunya itu. Mas Didik menceritakan, Alhamdulillah, kata Mbah Daim, dia (Hanik) itu ibarat pakaian sangat pas buatku.
Syukurlah kalau begitu.
Setelah melalui proses lamaran dan sebagainya, akhirnya Mas Didik dan Mbak Hanik benar-benar duduk di pelaminan pada tanggal 6 Juli. Pahargyan (resepsi pernikahan) pun dilaksanakan bergantian di rumah pengantin perempuan tanggal 6 Juli dan beberapa hari berikutnya dirayakan di rumah Mas Didik.
Ketika Mas Didik mengenakan busana kejawen (pakaian pengantin ala Jawa) dan Mbak Hanik dengan pakaian kebaya Jawa dalam resepsi pernikahan itu, keduanya nampak serasi. Wajahnya berbinar-binar seperti mendapatkan rezeki durian runtuh. Pengantin laki-lakinya nampak tampan dan gagah, sebaliknya pengantin perempuan juga nampak cantik jelita. Dalam khasanah Jawa, keduanya ibaratnya seperti Bathara Kamajaya dan Bathari Ratih.
Melihat kebahagiaan dan kesuksesan Mas Didik yang telah menemukan jodohnya seperti itu, tak terasa aku pun meneteskan air mata. Aku merasa trenyuh (terharu) melihat Mas Didik yang akhirnya menikah pada usia 32 tahun. Sayang sekali aku belum bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dialami saudara sepupu dan sekaligus sahabatku teman kuliah itu.
Momen pernikahan Mas Didik saat itu tentu menjadi pamecut (cambuk) bagiku. Dalam pada itu aku berusaha mengamalkan seperti apa yang disampaikan Mbah Daim kepadaku.
*
Suatu hari, saat aku sedang sendirian di bale (balai) rumah, tiba-tiba terdengar ada suara sepeda motor. Tak kusangka yang datang saudara sepupu dari Malang, Mas Asyari. Sayang saat itu bapak dan ibuku sedang tindak (keluar) sehingga tidak di rumah. Setelah duduk di ruang tamu, tiba-tiba Mas Asyari yang selain guru SD itu juga guru spiritual bagi murid-muridnya menanya kepadaku, Dulu setelah dari Malang, kamu kayak di Jakarta, Wan?
Iya Mas, jawabku singkat.
Lha kenapa kok pulang kampung di Tulungagung?
Tanpa basa-basi, aku pun menjawab jujur, Aku berniat mencari jodohku, Mas.
Lho......kalau mencari jodohmu kok dicari di selatan (Tulungagung), padahal jodohmu itu di dekat pesisir utara, kata Mas Asyari lalu minum teh hangat yang kuhidangkan, tapi ini apa kukatakan ini jangan kamu percaya. Hanya saja dititeni (dibuktikan) saja nanti......
Pengalaman berjumpa dengan para pelaku spiritual seperti itu bukan dengan Mas Asyari saja. Selain Mbah Daim dan Mas Asyari, aku juga sering bersilaturahmi dengan Pak Hari yang dikenal juga sangat titis (tajam penglihatan mata batinnya). Suatu hari ketika aku bertandang ke rumah kontrakannya di daerah Bandung Tulungagung, Pak Hari mengajakku ke suatu diler sepeda motor. Rupanya aku akan diperkenalkan dengan seorang staf administrasi yang bekerja di diler itu. Namun saat itu aku masih merasa belum sreg, sehingga aku blaka suta (berkata terus-terang) kepada Pak Hari.
Iya Wan, memang dalam perjodohan itu, kalau si laki-laki dan perempuan sama-sama mau ya itu namanya jodoh, ujar Pak Hari kepadaku setelah aku menyatakan kurang sreg dengan karyawan dealer sepeda motor.
Aku hanya mengangguk sambil berkata singkat, Iya, Pak.
Lalu yang kamu cari itu yang bagaimana? tanya Pak Hari selanjutnya.
Entahlah, tiba-tiba dari bibirku sekonyong-konyong langsung menjawab, perempuan dari UIN Sunan Kalijaga, Pak.
Mendengar penuturanku itu, Pak Hari hanya tersenyum saja sambil manthuk-manthuk (menganggukkan kepala).
Bukan hanya itu, aku juga bersilaturahmi dengan Pak Yatno yang tak lain menantu Mbah Daim. Setelah ngobrol ngalor-ngidul (basa-basi), akhirnya Pak Yatno membuka soal calon jodohku.
Insyaallah calon jodoh panjenengan nanti seorang guru, Mas, kata Pak Yatno datar namun sempat membuatku terkejut.
Bahkan Pak Yatno menambahkan, nampaknya yang menjadi washilah seorang ibu yang berpakaian hijau......
Tentu saja aku tak berani menanyakan lebih jauh. Yang jelas apa yang dilihat oleh para pelaku spiritual itu boleh jadi merupakan hasil mukasyawah (penglihatan mata hati) seperti yang dikatakan Pak Yatno itu.
*
Aku mempunyai kakak sepupu yang menjadi kepala sekolah di SMP negeri di daerah Tulungagung. Namanya Mas Agus. Kebetulan Mas Agus itu berteman dengan Pak Ahmad yang sama-sama menjadi kepala sekolah SMP di daerah lain di Tulungagung. Tak seperti biasanya suatu hari keduanya ketika bertemu membahas mengenai pernikahan. Gampangannya Mas Aku menceritakan tentang aku dan Pak Ahmad membicarakan keponakannya Shofa yang juga masih single. Dari pertemuan itu, Mas Agus lalu mengantarkan aku ke rumah Pak Ahmad.
Ketika aku bertandang ke rumah Pak Ahmad dekat kota, beliau mengajakku berkenalan dengan keponakannya di daerah Tuban. Pada hari yang ditentukan, aku pun berangkat ke Tuban bersama Pak Ahmad dengan naik mobilnya.
Aku pun diperkenalkan dengan Shofa oleh Pak Ahmad. Dalam perkenalan itu, ibunya duduk tak jauh dari putrinya. Tak terasa keringat dinginku keluar dari dahi karena merasa grogi. Dalam kesempatan itu, sepintas aku memandang keponakan Pak Ahmad itu cukup cantik bagiku. Tentu saja aku tak berani menatap terang-terangan karena disaksikan ibu dan pamannya. Sesekali ayahnya menemuiku di ruang tamu lalu ditinggal masuk lagi.
Pada perjumpaan pertama itu, aku sempat menggumam dalam hati, Apakah Shofa ini yang menjadi jodohku?
Selang beberapa hari setelah itu, Shofa berkunjung ke rumah Pak Ahmad di Tulungagung bersama keluarganya, ayah dan ibunya. Pak Ahmad sedang mengadakan acara aqiqah putrinya, Sevin. Dalam kesempatan itu, aku menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan ibuku; kalau beliau merestui, aku pun akan menurut. Alhamdulillah ibuku menyetujui dan merestuiku.
Saat di rumah Pak Ahmad itu, aku sempat mengobrol berdua dengan Shofa.
Dik Shofa, aku hendak melamarmu karena engkau insyaallah adalah tulang rusukku yang hilang, kata-kataku mengucur deras dari bibirku.
Tanpa kuduga, Shofa malah bertanya kepadaku, Apakah panjenengan sudah memohon kepada Rabb-ku yang memilikiku?!
Ya, insyaallah sudah.
Setelah melalui serangkaian prosesi lamaran, aku beserta keluargaku bersilaturahmi ke Tuban dan sebaliknya keluarga Shofa ke Tulungagung, maka diputuskanlah hari pernikahanku bersama Shofa. Dan, pada hari H pernikahanku dengan Shofa itu ternyata tanggal 6 Juli, setahun setelah pernikahan Mas Didik dan Mbak Hanik. Usiaku pun telah 33 tahun. Aku pun teringat kata Mbah Daim yang pernah mengungkapkan setelah pernikahan Didik nantinya akan dilanjutkan pernikahanku. Kebetulan tanggal dan bulannya sama, 6 Juli meski tahunnya berbeda atau selisih setahun.
Diam-diam aku pun teringat pesan para pelaku spiritual Mbah Daim, Mas Asyari, Pak Hari maupun Pak Yatno. Meskipun berbeda angle (sudut pandang)-nya, namun kebetulan apa yang mereka sampaikan itu alhamdulillah menjadi kenyataan.
Mbah Daim memintaku supaya rajin tadarus Alquran dan membaca Salawat Nabi, lantaran Shofa memiliki kebiasaan itu. Kalau aku tidak membiasakan amalan seperti itu, bukankah itu menjadi sesuatu yang njomplang atau tidak seimbang? Wajarlah kiranya jika menurut Mbah Daim bahwa calon jodohku itu seperti widadari (bidadari) yang bibirnya selalu basah karena terbiasa membaca kitab suci.
Tak kuduga, ternyata rumah orang tua Shofa benar-benar dekat pantai utara (pantura) depan Jalan Daendels seperti yang dikatakan Mas Asyari. Memang di sepanjang jalan tersebut berdekatan dengan pantai utara di daerah Tuban.
Selain itu, seperti yang pernah kukatakan kepada Pak Hari saat itu bahwa aku ingin calon jodohku lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Entahlah mengapa saat itu tiba-tiba aku mengucap UIN Sunan Kalijaga. Barangkali karena Pak Hari sering menyebut nama salah seorang tokoh Wali Sanga yang terkenal itu.
Apa yang dikatakan Pak Yatno juga benar karena Shofa adalah seorang guru SMA swasta di depan rumahnya di daerah Tuban. Keputusan atau yang menjadi washilah menentukan jodohku adalah ibuku yang saat itu mengenakan pakaian hijau seperti yang dikatakan Pak Yatno. Dan, alhamdulillah setelah menjadi istriku, akhirnya dia diangkat menjadi ASN (aparatur sipil negara) sebagai guru di SMK Negeri di Tulungagung. Subhanallah. (*)
o0o
BIODATA PENULIS
WAWAN SUSETYA Dilahirkan di Desa Tanggung, Kec. Campurdarat, Kab. Tulungagung-Jawa Timur tanggal 1 Desember 1969.
Penulis merampungkan studinya di IKIP PGRI MALANG jurusan Bahasa Inggris tahun 1994. Setelah itu, penulis menjadi wartawan di Jawa Pos News Network (JPNN) Biro Malang-Jawa Timur sejak tahun 1994-1998.
Selain itu penulis juga mengajar di dua kampus yaitu di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan di Stikma Internasional Malang-Jatim. Tentu saja juga banyak mengisi berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti diskusi di berbagai kampus di Malang.
Pada tahun 2001, penulis mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan dengan bergabung di Sanggar Ngesthi Laras di Tulungagung, membina ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) Tulungagung dan Maiyah SWA (Segi Wilasa Agung) Tulungagung serta bergabung dalam organisasi kepenulisan dan sastra menjadi anggota Sanggar Sastra Jawa Triwida Tulungagung dan SatuPena (Persatuan Penulis Indonesia) Jakarta.
Dan, penulis dengan ditemani isteri tercinta Muashofah dan buah hati penulis Si kembar Ayu Susetya dan Listya Susetya insyaallah akan tetap menggeluti dunia tulis-menulis dalam bentuk karya tulis (buku) dan menulis artikel lainnya di media massa. Alhamdulillah hingga saat ini sudah 87 buku karya penulis, adapun 7 buku terakhir yaitu yaitu;
- Pemimpin Masa Kini Dan Budaya Jawa, Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta, 2016.
- Dharmaning Satriya, Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta, 2019.
- Sumantri Ngenger, Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta, 2019.
- Cakra Manggilingan, Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta, 2019.
- Falsafah Asthagina, Penerbit Elex Media Komputindo Jakarta, 2019.
- Demokrasi Di Era Digital, Penerbit Yayasan Obor Indonesia Jakarta & Satu Pena Jakarta, 2001
- Revolusi Mental, Penerbit PTS Millenia, Sdn. Bhd, Selangor-Malaysia, 2023
NB:
Nama: Wawan Susetya
Tempat & tgl lahir: Tulungagung, 1 Desember 1969
Agama: Islam
Pekerjaan: Penulis buku dan budayawan
Organisasi: Pegiat ForSabda dan Maiyah SWA (Segi Wilasa Agung) Tulungagung, Sanggar Triwida Tulungagung dan SATUPENA Jawa Timur
Pendidikan: S-1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI MALANG
Alamat: RT 1/RW 1 Glotan 29, Ds. Tanggung, Kec. Campurdarat, Kab. Tulungagung, Jatim 66272
E-mail: wawan.susetya@gmail.com
WA/HP: 0821.3922.7725
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila