BLITAR - Semangat pantang menyerah pantas disematkan pada Ilma Yeni Megawati, atlet jujitsu andalan Kabupaten Blitar. Dia sempat vakum dalam menjadi atlet, namun dapat meraih segudang prestasi usai bangkit dari keterpurukan.
Perempuan 28 tahun ini senang olahraga sejak kecil, namun mengenal jujitsu pada masa MTs. Saat itu dia sempat mencoba voli, basket, atletik dan bela diri jujitsu. Dia mencoba jujitsu karena menjadi olahraga bela diri satu-satunya di sekolah.
“Saya ternyata lebih suka dan cocok olahraga yang sifatnya tidak berkelompok. Karena berkelompok harus mengandalkan kerjasama dan menemukan teman yang cocok. Saya sempat tidak ada perkembangan di olahraga kelompok,” ujar Ilma, sapaan akrabnya.
Olahraga pilihan hati Ilma terbukti membawa prestasi dan dapat menciptakan prestasi di sekolah.
Tidak sampai setahun bergabung jujitsu di MTs, dia mengikuti kejuaraan junior dan mendapat medali emas. Dari debutnya perdana kompetisi jujitsu, dia ketagihan karena merasa mudah dalam pertandingan.
Dia saat itu sempat terkendala izin orang tua, yang khawatir anaknya menggemari olahraga bela diri. Padahal orang tuanya juga mengetahui bila dirinya memang menyukai jujitsu. Namun dia dapat membuka pemikiran orang tuanya, ketika Ilma dapat membagi waktu lomba dengan sekolahnya.
Pembuktian kepada orang tuanya tidak hanya itu. Ilma sukses menjadi juara 1 dalam 20 kejuaraan secara berturut-turut, sehingga membuat orang tuanya terus mendukung sang buah hati dalam menjadi atlet bela diri.
Paling berkesan, dia sukses meraih juara 1 kelas D kumite perorangan putri dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Piala Wakil Presiden RI.
“Saya masih ingat, khawatirnya orang tua kepada anak perempuan. Ayah, ibu dan nenek melihat langsung pertandingan pertama. Setelah itu, keluarga percaya kepada saya dapat membawa prestasi dalam jujitsu,” ungkapnya.
Memasuki bangku SMA, Ilma masih sering latihan jujitsu di MTs. Karena di sekolah barunya tidak ada bela diri jujitsu.
Bahkan sempat menjuarai perlombaan jujitsu dan sukses meraih juara 1 pada kelas C kumite perorangan regular putri, kejuaraan jujitsu se-Jawa di Sukoharjo. Setelah itu, dia vakum dari jujitsu hingga pertengahan masa kuliah.
Ketertarikannya pada jujitsu bangkit kembali ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games pada 2018 lalu. Semua atlet yang terdata pernah berprestasi dipanggil oleh federasi untuk mengikuti seleksi pada kejuaraan internasional.
Maka dari itu, dia dipaksa untuk menyesuaikan diri ketertinggalan jurus-jurus yang dipelajari dan dituntut dapat berprestasi.
Dia sempat mengalami kekalahan beruntun menjelang perhelatan Asian Games. Selain itu, orang tuanya sempat kendor dukungannya karena melihat prestasinya menurun. Bahkan sempat diminta untuk fokus pada bidang lain.
Meskipun begitu, Ilma justru bangkit dan bersemangat dapat memenangkan pertandingan hingga bertahan dan menikmati olahraga jujitsu. Terbukti dia dapat lolos seleksi jujitsu dan bertanding dalam Asian Games.
“Paling berkesan, saya sempat menjadi atlet jujitsu satu-satunya mewakili Indonesia di Asian Games 2022 di Cina. Namun bebannya besar, hasilnya kurang memuaskan waktu itu. Dalam waktu dekat saya fokus PON Aceh,” tutur atlet jujitsu peringkat 11 dunia ini.
Ilma menargetkan medali emas kedua dalam gelaran PON digelar 9 September di Aceh. Sebelumnya pada PON Aceh dua tahun lalu sukses meraih medali emas.
Dia sudah mempersiapkan diri sejak dua tahun lalu. Dia kini berada di Thailand untuk melakukan training camp dalam mempersiapkan gelaran PON ini.
Rekam jejak prestasi Ilma dalam 6 kompetisi terakhir tergolong memuaskan untuk modal menuju PON Aceh. Dalam 6 kompetisi itu, Ilma sukses 3 kali naik podium dengan dua kali meraih perak dan satu kali perunggu.
Tidak hanya pernah ikut Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, SEA Games 2019, dan Asian Games 2022 Hangzhou.
Ilma juga pernah meraih medali emas di kejuaraan Abu Dhabi Grand Slam Jujitsu World Tour kelas 62 kg dan medali perunggu di Grand Prix Thailand Open 2022.
“Saya memiliki impian dapat mengikuti kompetisi jujitsu pada olimpiade. Karena olimpiade Paris tahun ini belum bisa berangkat, federasinya memang belum siap. Sehingga saya masih ada niat untuk berpartisipasi pada olimpiade di Amerika pada 2028 mendatang,” pungkasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila