Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Intip Sosok Panji Paramosastro, Guru SMP Asal Blitar Ini Dirikan Sanggar Seni, Aktif Gelar Rutinan Wayang Kulit Tiap Bulan

Yanu Aribowo • Jumat, 6 September 2024 | 21:00 WIB
CINTA SENI TRADISIONAL: Panji Paramosastro saat pentas dalam sebuah pagelaran wayang kulit.
CINTA SENI TRADISIONAL: Panji Paramosastro saat pentas dalam sebuah pagelaran wayang kulit.

BLITAR - Di tengah amanah sebagai guru mata pelajaran (mapel) bahasa Jawa di SMPN 2 Gandusari, Panji Paramosastro, SSn, SPd, masih aktif dalam upaya pelestarian kesenian tradisional, khususnya wayang kulit dan karawitan, di tengah waktu luangnya. Pria 29 tahun ini merupakan salah satu dalang muda yang dimiliki Kabupaten Blitar.

Dalam dunia pedalangan, Panji, merupakan Ketua Paguyuban Pedalangan Generasi Muda Blitar (Padagentar).

Padagentar yang beranggotakan 40-an dalang dan pengerawit, secara rutin menggelar pertunjukan wayang kulit setiap bulan di rumah sang adik, Dimas Suprobo, SSn, di Dusun Klepon.

"Waktunya fleksibel, pokoknya agenda Padagentar digelar pada Sabtu malam Minggu," ungkapnya.

Selain itu, warga Dusun Klepon, RT 1/RW 3, Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, ini pada awal 2022 lalu, juga mendirikan Sanggar Soeroto Soedharsono atau Sanggar SS. Penamaan Sanggar SS terinspirasi nama-nama dalang kondang, Ki Anom Soeroto dan Ki Manteb Soedharsono, yang diambil dari nama belakangnya.

Untuk latihan Sanggar SS juga di rumah Dimas Suprobo, yang merupakan basecamp Padagentar. Setiap pekan, ada 12 anak laki-laki, rentang mulai kelas III SD hingga kelas XI SMA, yang belajar seni pedalangan.

"Latihannya setiap Jumat siang, Sabtu siang dan malam, gantian setiap shift ada 1-5 anak," ungkap pria ramah ini.

Anggota Sanggar SS berasal dari berbagai kecamatan, seperti Binangun, Garum, Gandusari, Kanigoro, hingga Ponggok.

Setidaknya, hingga kini sudah ada enam dalang anak Sanggar SS yang sudah digebyakne atau dipentaskan untuk pertama kalinya.

Misalnya, dalam pagelaran wayang kulit rutinan komunitas hingga pentas dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Kabupaten Blitar.

"Ada enam dalang anak yang sudah berani pentas, baik solo maupun duet. Mereka tetap saya dampingi pas pentas, untuk menambah jam terbang. Biasanya mereka latihan intensif sebulan sebelum pentas," jelas Panji.

Baca Juga: Hadiri Peresmian Gedung Muslimat NU di Blitar, Begini Sosok Khofifah Indar Parawansa Menurut Gus Iqdam

Di SMPN 2 Gandusari, ia mengajar mapel bahasa Jawa kelas VII dan VIII, sejak 2021 lalu. Selain itu, ia juga mengajar ekstrakurikuler (ekskul) karawitan di sekolah yang berada di Desa/Kecamatan Gandusari.

Di tengah waktu luangnya, Panji masih menularkan ilmu dari Jurusan Seni Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, di dua sekolah lainnya, yakni mengajar ekskul karawitan di SMPN 1 Garum dan SDN Karangrejo 4, Kecamatan Garum.

“Di SMPN 2 Gandusari, dulu sebelum saya masuk, banyak seni pertunjukan yang mati karena covid, kurangnya tenaga pengajar, dan lainnya. Setelah saya masuk, banyak pentas seni pertunjukan yang mulai aktif,” jelas alumni Jurusan PGSD-Bidang Ilmu Universitas Terbuka.

Misalnya, seni pertunjukan di SMPN 2 Gandusari yang aktif dimainkan oleh siswa, antara lain, kethoprak, wayang pakeliran padat, serta karawitan.

Bahkan, saat karnaval dalam peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, seni pertunjukan tersebut juga berkolaborasi dengan pencak silat, banthengan dan rampogan barongan. (ynu/din)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#gandusari #blitar #karawitan #dalang muda #kesenian tradisional #wayang kulit