BLITAR - Adrian Kurniawan pantas mendapatkan medali emas dan perunggu dalam gelaran PON XXI yang digelar di Aceh-Sumut. Sebab, dia sudah melakukan persiapan selama 6 bulan. Meskipun begitu, dia langsung persiapan untuk kompetisi balap sepeda di Malaysia bulan depan.
Salah satu atlet Bumi Bung Karno menorehkan prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara. Dia membawa dua medali.
Capaian itu melebihi targetnya yang dipersiapkan selama berbulan-bulan. Adrian Kurniawan, atlet sepeda mountain bike (MTB), kini sudah pulang dari ajang multievent.
Ketika dihubungi, Adrian -sapaan akrabnya- masih berada di bandara untuk persiapan pulang ke Kota Blitar. Kegiatannya pada ajang PON sudah berakhir.
Jadwalnya bertanding sudah dilewati pada 5-6 September lalu. Dari dua pertandingan itu, dia sukses menyumbang medali emas dan perunggu untuk kontingen Jawa Timur (Jatim).
“Ini saya sedang perjalanan pulang menuju Kota Blitar. Karena sudah 4 bulan belum pulang, tentu kangen dengan rumah dan suasananya. Syukurnya pulang dengan membawa dua medali atau prestasi,” ujar Adrian, ketika menunggu pesawatnya.
Dia mengaku melakukan persiapan PON ini selama 6 bulan dengan langsung latihan di pusat pelatihan daerah (puslatda) yang berada di Lumajang.
Terpilihnya Adrian ikut PON ini juga berkat prestasi dapat naik podium pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim beberapa waktu lalu. Selain itu, dia juga menang dalam seleksi yang khusus diadakan oleh puslatda.
Tak ayal, pria warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, ini berangkat ke Kabupaten Karo yang menjadi venue cabang olahraga (cabor) sepeda MTB pada akhir Agustus lalu. Dia mengikuti dua nomor MTB, yakni MTB XCR (Cross Country Relay) dan MTB XCO (Cross Country Olympic). Pada nomor MTB XCR, dia memperoleh medali emas beregu dengan dua rekannya, sedangkan pada nomor MTB XCO memperoleh medali perunggu.
“Saya pada PON ini hanya menargetkan emas pada MTB XCR. Pada nomor MTB ini dilakukan dengan beregu, dengan estafet. Untuk yang medali perunggu ini, hoki saja, karena tidak saya target. Lawannya juga berat dan lebih senior,” ungkapnya.
Adrian tidak puas hanya mendapatkan dua medali pada PON ini. Dia menargetkan pada PON selanjutnya untuk percaya diri meraih emas pada nomor MTB XCO. Dia mengakui lawan-lawannya lebih senior yakni berumuran 20 tahun, sedangkan dia masih 18 tahun dan baru duduk di bangku kelas 12 SMA 4 Blitar.
Menurut dia, lawan terberat pada ajang PON ini tertuju pada rekan sekontingen Jatim. Sebab, pada nomor MTB XCO, medali emas diraih oleh Feri Yudhoyono yakni atlet asal Lumajang. Selain itu, lawan terberatnya berasal dari Jawa Barat yang diakunya lebih kuat.
Sementara itu, Adrian sudah fokus menjadi atlet sepeda sejak 4 tahun lalu. Awalnya, dia bersepeda hanya untuk hobi dan olahraga ringan saja bersama ayahnya.
Namun, dia tertantang menjadi atlet balap sepeda untuk dapat bersaing dengan lawannya. Apalagi, sepeda yang digemarinya berjenis MTB, bukan road bike dan lainnya.
“Saya sempat mencoba semua jenis sepeda. Lalu, memilih MTB karena banyak berpeluang untuk meraih medali dalam kompetisi. Sehingga saya menjadi atlet balap sepeda ketika masih SMP kelas 8,” tandas Adrian.
Remaja 18 tahun itu menorehkan prestasinya sejak mengikuti kompetisi pertamanya. Saat itu, dia langsung naik podium. Dengan begitu, dia mendapat dorongan dari sang ayah yang menemani dan melihat langsung kompetisi buah hatinya tersebut.
Nasib Adrian memang terbilang mujur karena sering memperoleh medali dalam kompetisi balap sepeda.
Puluhan medali sudah dikoleksi untuk memenuhi lemari yang ada di rumahnya. Perjalanannya masih panjang untuk menjadi atlet balap sepeda profesional. Bahkan, dia pernah menjadi juara dua saat mengikuti kompetisi di Malaysia.
Usai menjalani kompetisi PON, Adrian akan sejenak istirahat beberapa minggu. Namun, tidak lama kemudian, dia harus mempersiapkan untuk mengikuti kompetisi di luar negeri. Dia harus terbang ke Malaysia pada Oktober dan Filipina pada November mendatang.
“Tentu saya mengincar medali emas dalam dua kompetisi di luar negeri ini. Lawan terberat biasanya dari Filipina dan Cina. Harus optimistis untuk naik podium dan membawa pulang emas untuk Indonesia,” pungkasnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila