BLITAR - Menjadi seorang make-up artist (MUA) ternyata tidak mudah. Butuh berbagai macam jenis dan alat hingga harus bisa memenuhi selera konsumen. Termasuk pernah dirasakan gadis muda, Niken Eka Arina Putri.
DUNIA make-up tidak semudah yang dibayangkan Niken Eka Arina Putri saat kecil. Alasannya, hobi yang sudah digeluti sejak dini ini menguras uang banyak.
Langkahnya dimulai sejak duduk di bangku SMK saat masuk jurusan kecantikan. Dari sini, keisengannya dalam ber-make-up sering membuat teman-temannya menjadi bahan praktik.
“Suka sedari kecil (make-up), makanya ketika SMK diarahkan ke jurusan kecantikan agar lebih mendalami dunia tata rias ini,” ujarnya.
Langkahnya berlanjut. Dari yang semula hanya praktik dengan meminta bantuan teman-temannya, lambat laun dia mulai ikut ajang pelatihan MUA.
Akhirnya, usahanya terjawab ketika dia dipanggil saat ada kegiatan atau eventyang mengharuskan make-up.
Terutama saat Hari Kemerdekaan atau 17 Agustusan, dia sering dipanggil ke berbagai tempat untuk merias muka-muka para pemain.
“Make-upkarnaval itu lebih gampang, soalnya sudah biasa. Tersulit itu make-up para cosplayer. Soalnya butuh ketelitian dan kejelian agar hasilnya serupa dengan karakter yang diinginkan,” tandas perempuan 20 tahun tersebut.
Perjuangannya tidak selamanya mulus. Tidak jarang, warga Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, ini ditolak sehari sebelum hari H. Padahal untuk membeli peralatan dan bahan make-upbutuh modal tidak sedikit.
Tercatat dia sudah menguncurkan anggaran sekitar Rp 5 juta lebih untuk melengkapi kebutuhannya. Jumlah tersebut jelas belum semua bahan yang dibutuhkan.
“Namanya masih berusaha, jadi ini membelinya sedikit-sedikit untuk melengkapi alat dan bahan. Itu pun belum termasuk beli tas make-up yang harganya mahal,” ujarnya.
Dari pengalamannya, dia selalu membeli bahan make-up dengan harga paling murah Rp 50 ribu ke atas.
Alasannya, untuk harga di bawah tersebut, kualitasnya sering kali tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Biasanya warnanya kurang cerah dan menonjol.
Untuk saat ini saja, dia sudah memiliki sekitar 20 jenis make-up, sedangkan untuk alatnya ada sekitar 15 hingga 20 item.
Walaupun barang yang dimiliki cukup murah dan alat belum lengkap, dia tetap yakin mampu membuktikan bahwa dalam dunia MUA itu skill sangat berpengaruh daripada alat yang digunakan.
“Alat hanya sebuah pendukung untuk jadi lebih baik,” pungkasnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila